Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Raum ghaib


__ADS_3

Si ucok telah lahir membawa kegelisahan di hati Tolu. Dia tidak ingin darah setannya mengalir di sela pembuluh nadi sang anak. Ilmu hitam sudah dia kuasai, anaknya akan memiliki mata setan dan kelakuan yang tidak terkendali jika tidak benar-benar di arahkan mengenai kebaikan. Sepanjang malam suara teriakan Sadam melengking melebihi suara teriakan bayi lain yang satu ruangan dengannya.


Jin merah peliharaan Tolu datang mendekatinya, dia mengamati bayi merah itu sesekali mengendus mendekati rongga hidungnya. Sosok lain Tolu menarik buntut jin tersebut, memindahkan ke sisi lain sambil melotot. Meski Tolu berpisah di tempat lain dengan anaknya, dia menggunakan kekuatan setannya untuk berjaga agar anaknya terhindar dari gangguan ghaib.


Tepat pukul Sembilan pagi, bayinya di serahkan ke tangan Togar. Wajah bahagia ayah muda itu terpancar jelas menimang tanpa henti sambil berseda gurau mengganggu bayinya. Tolu melirik Togar, dia bergerak menyandarkan tubuh mengulurkan kedua tangan agar bayi itu di pindahkan kepadanya. Togar pun meletakkan dengan sangat hati-hati mendekatkan posisi duduk lebih menempel ke Tolu.


“Geser sedikit dan jangan lihat aku memberi ASI pada si ucok” ucap Tolu.


“Sayang, aku adalah suami mu. Kenapa sampai saat ini kau masih menutupinya dari ku?” protes Togar.


“Sekarang bukan waktunya berdebat, hari ini aku mau pulang. Cepat selesai kan semuanya” kata Tolu mendesak.


Keinginan wanita itu tidak bisa di hentikan, Togar sudah hafal akan sifat sang istri jadi dia lebih memilih menuruti semua keinginannya dari pada harus beradu otot atau mendapatkan amarah darinya. Kini dia merasa keluarganya telah lengkap dengan kehadiran anak laki-laki yang dia idamkan selama ini.


Siapa yang menyangka rasa kasih sayang Bram tidak pernah hilang kepada cucu menantunya sekalipun dia memutuskan untuk pergi sejauh mungkin agar mencari ketenangan dari gangguan makhluk halus.


Setelah mengetahui Tolu tengah mengandung, dia meminta Toto mempersiapkan segala sesuatu untuk sang cucu pertama selepas kepergiannya. Seluruh asset dia berikan kepada sang cucu, bukan hanya itu rumah besar dan semua properti dia wariskan untuk cucu laki-lakinya. Bi Tuti dan Tina juga di minta untuk tinggal dan bekerja di rumah Tolu. Kepulangan Tolu, Togar dan buah hati mereka di sambut meriah oleh para pekerja dengan pesta yang di siapkan jauh hari dari pak Bram.


Di halaman depan rumah, banyak para warga hadir memberikan ucapan selamat.

__ADS_1


Meja-meja fresh dinner, berbagai macam makanan, minuman, dan buah-buahan yang lengkap tersedia. Tirai merah membentang di tambah balon warna warni dan tulisan papan nama di sepanjang jalan. Togar benar-benar terkejut dengan semu pemberian sang ayah. Dia meraih saku menekan panggilan pak Bram, tapi nomor tidak aktif begitupun nomor Seto yang tidak bisa di hubungi.


“Kenapa kau menyiapkan pesta besar ini tanpa memberitahu ku sebelumnya?” tanya Tolu mengernyitkan dahi.


“Aku juga baru mengetahui dari salah satu pekerja rumah kalau ayah yang menyiapkan semuanya” jawab Togar.


Ayunan bayi berukuran besar, lengkap dengan aksesoris dan pernak pernik mewah. Seorang wanita bercadar hadir mendekati Tolu. Dia memberi salam dan mengecup kening bayinya. Khadijah mendapatkan alamat wanita itu dari kepala padepokan. Khadijah meminta ijin untuk menggendong sang bayi, namun keanehan terjadi karena Khadijah merasakan badan sang bayi terasa sangat panas seperti api. Sebentar saja dia menimang lalu meminta ijin berpamitan pada Tolu.


“Kakak, jika aku ada waktu lagi maka aku akan mampir lagi kesini. Aku berharap segera mendapat kabar dari Ani” ucapnya.


“Ya terimakasih banyak,” jawab Tolu.


Di dalam kamar, Togar dan Tolu masih di kejutkan dengan kejutan yang di berikan oleh Bram. Kamar mereka kini berubah menjadi kamar khas bayi yang bernuansa orange. Banyak sekali mainan yang terpasang dan tersusun di sudut ruangan. Ingin rasanya Togar memeluk sang ayah dan mengucapkan beribu terimakasih untuknya. Tolu meminta Togar menggendong sang bayi, dia berjalan menuju ruangan rahasia.


Sarang setan itu di isi ribuan belatung yang berserakan di lantai, lilin berbentuk lingkaran telah padam dan batu mustika menghilang. Menyadari akan ada kiriman santet dari dukun sakti lainnya, dia berlari menuju hutan tanpa alas kaki.


“Non, mau kemana non?” teriak si mbok.


Si mbok berlari ke dalam rumah mencari Togar. “Tuan, non Tolu baru saja keluar di waktu petang. Nyonya besar baru saja melahirkan, tubuhnya masih rentan lemah dan pantang pergi di waktu malam karena akan mengundang mata makhluk halus” ucap si mbok tergesa-gesa.

__ADS_1


“Apa? Mbok, jaga bayi ini. Aku akan menyusulnya” ucap Togar.


Togar yakin jika sang istri pergi ke hutan, letak kaki bukit yang tidak asing. Dia pergi kesana berbekal senter dan beberapa pematik di kantungnya. Sementara si mbok yang tampak panik menenangkan tangis sang bayi yang tidak mau berhenti. Si mbok meminta bi Tuti membuatkan sebotol dot susu bayi. Setelah selesai di buatkan dan di berikan pada sang bayi, perlahan bayi itu berhenti menangis dan tertidur.


“Syukurlah” ucap si mbok pelan.


Dia meletakkannya ke dalam ranjang box bayi. Bi Tina meminta ijin kembali melanjutkan tugasnya, perlahan menutup pintu kamar. Sesuai pesan Togar kalau si mbok harus tetap berada di samping sang bayi, tanpa di duga si mbok di kejutkan penampakan sosok hitam besar yang berdiri di samping box. Tangisan bayi itu pecah, si mbok memberanikan diri mengambil bayi itu, tapi tiba-tiba bayi mungil itu berubah menjadi jin kecil berwarna merah yang sudah bisa tersenyum padanya. Si mbok berjalan mundur ketakutan hingga terjatuh ke lantai. Bayi jin merah merangkak turun dari tangga berjalan mendekatinya.


“Hihihhh, hihihh” suara tawa sangat mengerikan.


“Arggh! Arghh!” teriak si mbok.


Dubrraghh, brugh (Suara dobrakan pintu).


Bi Tuti dan Tina berhasil membuka pintu yang terkunci dari dalam. Mereka melihat si mbok tidak sadarkan diri. Bi Tuti melihat box sang bayi yang masih tertidur, perlahan mereka berdua memindahkan si mbok ke kamarnya. Dia di beri minyak angin, ketika sadar si mbok masih dalam suasana kaget spontan ketakutan menatap ke sekeliling.


“Setan!” teriaknya.


“Periksa bayinya! Jangan tinggalkan dia sendiri!” ucap si mbok histeris.

__ADS_1


Tina pun berlari menggendong bayi merah itu, si mbok memastikan lagi bahwa bayi yang di lihatnya tadi bukanlah jelmaan setan.


__ADS_2