
Darah daging liar menggeliat di dalam sumsum tulang. Ilmu tidak semua bisa di kendalikan dan menjadi perisai diri. Tidak ada yang bisa memprediksi kematian itu tiba, nyawa yang terpisah dari jasad memiliki pendamping atau qorin yang bisa menjadi jahat atau baik. Semua tergantung kebiasaan dan perbuatannya semasa di dunia. Hal-hal yang paling mengerikan adalah memiliki sisi lain buruk mengenai ingatan jahat yang tidak terlupakan di waktu hidup. Tidak ada yang bisa mengendalikan hawa nafsu setan selain diri sendiri walau harus melebur menjadi debu dan api.
Kematian Midi nyaris seperti sambungan musibah mengakibatkan ketakutan mendalam di kediaman Tolu. Kejahatan dan kebaikan, tidak bisa di seimbangkan malah berat di jalan hitam. Tidak seperti para orang kebanyakan, tidak memiliki ilmu ghaib bukan berarti bisa terlepas atau tidak terkena sihir. Lantas, apa yang di dapat setelah menguasai kekuatan supernatural? Tolu melepaskan tusuk konde emas yang berukir daun itu. Kakinya lemas, dia menjatuhkan tubuh dari arah belakang Togar datang menangkapnya.
“Kau kenapa istri ku?” tanya Togar.
Dia mengernyitkan dahi melihat mayat Midi dan bekas luka yang ada di dahinya, terlebih lagi tangan kanan Tolu penuh darah. Togar mengambil tusuk konde milik bu Mawarni yang sengaja dia berikan untuk Tolu. Dia meraih tusuk konde lalu meletakkannya di telapak tangan Tolu. Wanita itu tidak sangat lemas, dia benar-benar kehilangan energi menahan rasa sakit pada sekujur badan. Togar mengangkat Tolu lalu meminta si mbok memanggil warga untuk membantu mengurus jenazah Midi.
__ADS_1
“Sudah ku bilang bahwa dukun santet itu adalah penyihir yang membunuh ibu ku!” jerit Bangsal di depan rumah duka.
Beberapa warga mengusirnya, dia seharusnya kini berada di makam dukun Siria atau mengurus proses acara doa di rumah. Para pelayat semakin memadati kediaman rumah Tolu, orang kampung bergotong-royong membantu proses mengurus jenazah. Karena mata Nanang yang tidak bisa tertutup, mereka pun memanggil ustad Gersan. Ustad yang sudah berumur delapan puluh tahun itu berjalan memakai tongkat sambil menatap ke arah Tolu berada. Tolu menyadari dia telah di perhatikan oleh ustad yang pernah mengurus jenazah keluarganya itu, dia menyatukan kedua tangan di depan dada dan menunduk ke arahnya.
Proses pemakaman, rumah masih terlihat sibuk banyak orang membantu menyiapkan segala keperluan. Si mbok menahan rasa sakit pada tangan yang di perban, seorang warga berbisik menyenggol ke sisi wanita yang berada di samping.
“Saya tidak bisa mengatakan bahwa semua akibat dukun yang telah pergi itu. Tapi yang pasti, setelah kedatangan Bangsal, pak Midi mengalami hal aneh” jawab si mbok.
__ADS_1
“Aku tidak bisa memilih antara kedua dukun ini untuk mengatakan siapa yang benar dan salah. Keduanya memiliki peran penting” ucap wanita yang berasa di sisi kanan.
Harum bekas daun pandan masih semerbak di ruangan, bekas kamar pak Nanang yang terletak di sudut lantai bawah tidak tersentuh dan di ubah sedikitpun. Setelah semua orang pergi, si mbok mendekati Ani sambil menyuguhkan secangkir air hangat di gelas antik kesukaannya bekas peninggalan ibu Mariti.
“Non, maaf sebelumnya. Si mbok sangat khawatir dan takut jika Bangsal datang kesini kembali” ucap si mbok menopang tubuhnya bergerak di dekat batang kursi.
“Aku akan membicarakan hal ini dengan Tolu mbok” ucap Ani menghela nafas.
__ADS_1