
Pria itu masih sabar menunggu Tolu hingga waktu sepenggal kepala di atas matahari yang sudah mulai bersinar terik. Tolu sudah selesai berpuasa mutih dan melakukan pesemedian dengan rapalan dan kajian ilmu yang di asa. Seperti biasa gadis itu memakai baju sederhana dengan polesan riasan natural. Setelah melihat Tolu turun dari anak tangga, Togar beranjak dari tempatnya lalu memeluk wanitanya itu. Rasa rindu sudah tidak bisa di bendung lagi meski dia harus menerima pukulan kedua kalinya setelah luka di kepala mengering.
“Aku merindukan mu” bisik Togar.
Tubuh Tolu kaku enggan membalas pelukannya. Dia mendorong pria itu sekuat tenaga sampai tubuhnya terbanting dinding. Tenaga dalam gadis itu berhasil menggoyahkan pertahanan kakinya, Togar bergerak kembali memeluknya. Kali ini pelukan pria itu sangat kuat, sampai Tolu tidak bisa berkutik atau memukulnya.
“Lepaskan aku!” bentak Tolu merontah-ronta.
“Calon istri ku, apakah engkau tidak merindukan suami mu ini?” ucap Togar, gerakan tangan mengusap kepalanya.
“Jangan sentuh! Tidak ada yang bisa memegang kepala ku!” bentak Tolu kembali.
Ani yang semula akan menyambut calon adik iparnya itu kini memutar haluan setelah melihat pertengkaran keduanya dan perlakuan Togar yang tanpa henti memeluk adiknya.
“Mereka itu seperti anak kecil saja” gumam Ani.
__ADS_1
Tolu melihat akar yang menjalar masuk ke sela baju Togar, asap hitam membentuk tali yang mengikat kakinya. Mata Tolu melotot, dia mengucap mantra, menekan emosi yang hampir mencelakakan calon suaminya itu. Togar perlahan melepaskan tubuhnya tapi di tarik lagi oleh Tolu seolah dia sedang membalas pelukannya. Tapi tidak dengan pikiran Tolu yang masih meneruskan mantra agar ikatan itu terlepas dari kaki Togar.
“Sayang, terimakasih kau telah membalas pelukanku” ucap Togar.
Beberapa menit kemudian asap putih dan akar menghilang, Tolu melepaskan pelukannya lalu duduk di atas sofa. Tangannya menerima sebuah amplop coklat, dia mengerutkan dahi membuka isi amplop tersebut.
“Togar, aku tidak mau menerimanya” Tolu meletakkan benda itu di atas meja.
“Itu titipan dari ayah untuk mu, ayah juga meminta kita untuk menanam bunga di makam almarhumah ibu. Jangan menolaknya sayang, aku tidak mau engkau menjadi menantu yang durhaka” kata Togar meraih amplop dan di letakkan di tangan Tolu lagi.
...----------------...
Di dalam kamar, Ani tertidur dengan buku yang tergeletak di wajahnya. Ani tertidur pulas tanpa terasa Tolu mengambil buku yang menimpa wajahnya dan berusaha membangunkannya berkali-kali.
“Kakak, aku pamit pergi sebentar dengan Togar” ucap Tolu perlahan pergi menutup pintu.
__ADS_1
Mereka menuju ke taman pemakaman umum yang terletak di bagian wilayah barat. Tempat peristirahatan terakhir sang ibu yang selalu di kunjungi oleh Togar setiap minggu. Mereka berdiri di depan makam bu Mawarni, menabur bunga dan air bersama-sama. Togar juga menanam bunga kamboja bonsai di bagian bawah.
Mereka mengirim do’a untuk almarhumah, tapi saat Tolu mengangkat tangan dan mengucapkan surah Al’fatihah di dalam hati, tiba-tiba angin kencang menggulung di sekitar tempat itu. Burung-burung gagak berterbangan, awan di atas langit menghitam.
“Inilah dosa seumur hidup yang harus aku tanggung” gumam Tolu.
“Tolu, di depan makam ibuku aku ingin mengatakan bahwa aku tulus mencintai mu” ucap Togar menekuk lututnya.
Wanita dingin itu tidak menjawab apapun bahkan dia menolak dada bidang Togar hingga hampir terjatuh.
"Jangan berharap lebih pada ku" ucap Tolu.
"Apapun penolakan mu. Aku akan terus berjuang mendapatkan wanita yang ku cinta. Setelah hari bahagia maka tinggal lah bersama ayah, kita ajak kak Ani ikut agar keluarga ini menjadi lengkap" jelas Togar.
"Tidak! aku tidak bisa meninggalkan rumah peninggalan ayah dan ibu" jawab Tolu.
__ADS_1