
Sepanjang perjalan pulang, Tolu memandang lurus tanpa bergeming dan berkedip sedikitpun. Dia masih setengah sadar akan pandangan di alam lain dan nyata. Di sela hantaman yang masih terus datang bertubi-tubi. Beberapa kilometer setelah meninggalkan rumah kakek Parman, dia melihat sosok hitam besar mengikuti mereka. Dari kejauhan, makhluk itu mendekat hingga menampakkan wajahnya yang mengerikan di dalam jok mobil belakang. Makhluk peliharaan yang tidak lain adalah pemilik dari Parman yang terdapat di dalam cincin batu putih.
“Togar, lepaskan cincin batu mu yang berwarna putih. Aku ingin melihatnya sekali lagi” ucap Tolu menguruskan tangan dan menarik cincin di jarinya.
Tolu menghembus cincin, dia mengusir makhluk itu sejauh mungkin sampai tidak terlihat lagi oleh pandangan. Dia memakai kembali cincin ke jari Togar, pandangan dan senyuman merekah sukses membuat hati berbunga. Baru kali ini dia merasa begitu dekat Tolu bersamanya.
“Sayang, apakah ada yang ingin kau beli? Kita bisa singgah di plaza atau swalayan terdekat” kata Togar.
“Jika kau menawari ku berbelanja, maka aku ingin kau mengantarkan aku ke pasar tradisional” kata Tolu bernada datar.
“Kemana pun kau ingin kan maka aku akan mengantarkan mu.”
__ADS_1
Togar mengambil jalur penyebrangan, dia memutar haluan menuju pasar yang masih di dekat kota seberang. Setelah melihat lokasi pasar, mereka memarkirkan mobil di sisi kiri jalan. Tampak ada penjaga kendaraan yang membantu menyebrangkan mereka ke sisi pasar tradisional.
“Apa yang ingin kau beli sayang? Bukan kah di plaza lebih nyaman? Hari mulai senja dan pasti pasar disini hampir tutup” ucap Togar sambil mengandeng tangannya.
Tolu menarik tangannya menuju salah satu penjual bunga, dia menunjuk semua bunga dan beberapa bunga di bungkus secara terpisah.
“Tolong yang ini sebanyak lima bungkus dan yang di campur tiga bungkus” ucap Tolu.
“Kalau begitu, saya ambil beberapa tangkai bu. Ini bayaran untuk yang di beli oleh istri ku dan ini bayaran ku.”
Togar memberikan dua lembar uang berwarna merah dan menenteng semua bungkusan itu jadi satu di tangan kiri.
__ADS_1
“Ini kembaliannya tuan” ucap si penjual.
“Ambil saja kembaliannya bu” jawab Togar yang tergesa-gesa mengikuti ara jalan Tolu.
Pemberhentian selanjutnya menuju tukang jual ayam. Kurungan kandang ayam terbuat dari bambu. Ada beberapa ayam yang masih terpajang di depan meja si penjual. Tolu berjongkok melihat seluruh tubuh ayam yang terdapat di dalam kandang.
“Pak, apakah ayam jenis ini masih ada di jual disini?” tanya Tolu.
“Ayam jenis ini hanya ada tiga ekor selama satu bulan non. Sangat sulit mendapatkan ayam cemani hitam. Jika pun bukan di bulan itu maka harus di cari ke kampung atau pulau seberang" kata si penjual membuka penutup kandang dan meraih ayam tersebut.
“Kalau begitu aku mau beli ketiga ayam cemani ini dan satu ekor ayam putih” kata Tolu.
__ADS_1
Setelah membayar, kini dia tidak dapat menggandeng tangan Tolu karena kedua tangan penuh dengan bungkusan. Dia hanya mengikuti dari arah belakang. Praduganya tampak salah karena semakin sore maka pasar itu terlihat semakin ramai bahkan warga yang datang sampai berdesak-desakan.