
Di rumah, Bram membuka botol menuang ke dalam gelas sampai isi di dalam botol berukuran setengah. Bram meneguk habis lalu meletakkan gelas di atas meja dengan tangan bergetar. Dia segera mengganti pakaian dan membersihkan diri tanpa sempat mengisi perut yang sejengkal, langkah Bram masuk lagi ke dalam mobil memberi aba-aba kepada Seto untuk melajukan kendaraan.
“Kemana kita akan pergi tuan?” tanya Seto.
“Antar aku ke rumah Tolu.”
Sepanjang perjalanan, Bram sibuk mencari kantung plastik. Dia mengeluarkan muntahan berkali-kali membuang lewat kaca jendela. Karena sudah tidak tahan menahan rasa sakit di bagian perut dan kepala, Bram meminta Seto mampir di sala satu apotek untuk memberi obat pereda nyeri.
“Tuan, apakah sebaiknya kita pergi ke dokter saja?” ucap Seto.
“Tidak, setelah minum obat ini pasti aku akan sembuh,” sahut Bram menyenderkan kepala di kursi.
...----------------...
Hal aneh yang menimpa diri sendiri di akibatkan sesuatu yang menyerang atau sebuah dampak dari hal yang di berbuat sendiri. Parta bergelagat aneh hari ini, setelah memuja dan mencari ilmu dari kuburan keramat yang sebelumnya di puja oleh dukun Kartim. Dia memberanikan diri memuja setan demi membalaskan dendamnya. Anak durhaka itu sudah kehilangan akal waras melupakan perjuangan ibunya menggadaikan nyawa demi kesembuhan dirinya secara total.
Setelah ayahnya ikut meninggal, Parta beralih ke jalan sesat setiap hari memuja kuburan yang sangat dia harapkan mendapat wangsit dan ilmu tinggi. Hari ke sepuluh di bulan suro, dia menyiram bati nisan dengan darahnya sendiri. Sayatan luka pada lengan tidak dia hiraukan, dia meneruskan mantra menyebutkan nama Tolu berulang kali.
“Wahai makhluk penghuni kuburan keramat, aku akan mempersembahkan diri ku sendiri jika kau bisa membalaskan dendam ku!” ucap Parta bernada keras.
__ADS_1
Di sisi lain Tolu merasa ada serangan ghaib kembali menghantam dirinya. Dia sudah sangat kelelahan dan mengantuk, tubuhnya sedikit tidak bertenaga setelah terdapat janji di dl dalam perutnya. Dia mengusap perutnya sebanyak tujuh kali, mengikat perut dengan tali mantra hitam lalu menutup dengan baju.
Ruangan pribadinya yang sesak dengan berbagai macam peralatan mistis itu semakin sempit saat Tolu menyalakan lilin membentuk lingkaran. Dia meminta Togar masuk ke dalam ruangannya, pria itu hanya menuruti kemauan si istri. Hanya saja rasa takut tidak bisa di tutupi karena ruangan menyengat aroma anyir dan bunga kantil. Terlebih lagi penampilan istrinya menyeramkan.
“Cepat makan daging mentah yang berada di hadapan mu” ucap Tolu.
“Sayang, bagaimana bisa kau menelan daging mentah?” kata Togar memegang bangkai ayam yang masih berdarah.
Tolu menepuk punggungnya, dia memasukkan sosok lain mengisi tubuh Togar agar mau menghabis daging. Wujud begu ganjang setelah menghabisi daging langsung di paksa keluar oleh Tolu. Melawan serangan Parta, kekuatan hitam menghantam masuk ke dalam tubuhnya. Parta kerasukan, dia berjalan mencari pisau di dapur. Setelah mendapatkan benda tajam itu, berjalan ke luar dari rumah.
Dia menjulurkan lidah, memotong lidahnya senrdiri.Dari meja ritual, Tolu menggerakkan tubuh Parta atas bantuan lain dari makhluk lain. Dia memotong lidahnya menjadi beberapa bagian, suara sobekan kulit dan jeritan kesakitan terdengar sampai keluar. Dia memotong lidahnya menjadi beberapa bagian, menyayat menguliti tubuhnya sendiri.
“Akh, aggghhh!” teriak Parta.
...----------------...
Nuansa merah jambu, tenda membentang indah di tambah nuanasa mawar dan tulip di setiap sudut tempat. Di setiap meja tamu di tata berbaga makanan ringan di dalam toples, ada tisu dan aqua gelas di atasnya. Gerobak-gerobak berbagai jajanan makanan memenuhi mengibar berbagai aroma bersama meja makanan fresh dinner yang tampak lezat. Alunan musik pesta, suasana haru biru dan senyum mereka yang tiada henti.
Ani dan Tohfa saling menatap sambil tersipu malu, mereka sudah menyelesaikan ijab qobul. Acara itu tidak semeriah Togar yang meminang Tolu, tapi Ani tetap bahagia dan sangat bersyukur memiliki pendamping hidup yang sangat setia dan menerima dia apa adanya. Di tengah pesta, Ani merasakan rasa panas pada kulitnya. Setelah menyelesaikan sholat zuhur, dia berjalan kembali menyusul Tohfa di pelaminan.
__ADS_1
“Panas sekali” gumamnya.
Tohfa memperhatikan Ani, dia ikut membantu Ani mengipas tubuhnya. Tangan Ani kelihatan lebih hitam dan keriput, tapi Tohfa tidak memperdulikan hal itu. Ani belum muncul juga di tempat penerimaan tamu. Hanya ada Togar, pak Bram dan opung Parman sedangkan di sisi kanan, pak Jagad, Sekar, Stef juga Parka. Tolu masih sibuk meramu benda spiritual yang di campur di dalam sebuah botol kecil. Dia merasakan banyak serangan yang menghantam rumah, merusak acara besar dan mendatangkan kehancuran.
Orang-orang yang datang melotot terkejut melihat suasana langit yang mengerikan. Seolah hujan akan tumpah ruah namun masih tertahan oleh sesuatu. Belum lagi ramai suara burung gagak mengerumuni sebuah pohon yang jaraknya sedikit jauh dari lokasi pesta.
“Mbok, lihatlah sebentar keluar. Aku merasa ada yang aneh” ucap Dadar.
“Ada apa pak?” si mbok menoleh ke jendela.
Dia sangat terkejut berulang kali mengucapkan istighfar. Menyadari acara ini akan mendatangkan bala di tengah bulan Suro yang seharusnya menjadi pantangan.
Apakah bulan Suro merupakan kewajiban yang harus di patuhi agar tidak melakukan aktivitas apapun? Atau itu hanya mitos budaya dan tradisi di dalam kehidupan sehari-hari. Nyatanya banyak mempercayai hal itu benar adanya. Tolu keluar dengan gaun pesta dan hiasan. Tidka lupa dia menginang memberi peringat sekali lagi pada para penjaga ghaib dan ilmunya untuk tetap bersiap siaga menjaga dia dan semua keluarganya maupun kelancaran pesta.
Dia berjalan menuju halaman belakang, tukang masak sesekali tersenyum memberikan salam lalu melanjutkan kembali masakan. Salah satu pekerja memperhatikan Tolu sambil membisikkan sesuatu setelah melihat Tolu pergi.
“Lihatlah dukun sakti itu sedang menggantungkan sesuatu di pohon sana.
Semua ini pasti ada kaitannya bulan suro yang seharusnya di pantang kan” ucap seorang ibu berambut pendek.
__ADS_1
“Aku juga merasa sedikit takut membantu acara besar ini. Semoga saja tidak terjadi apapun,” sahut seorang wanita muda sambil mengiris cabai.
Kekuatan para menganut ilmu hitam di bulan suro mempunyai ketajaman dalam meniup sihir. Para bangsa jin melawan perewangan di depan pintu masuk. Tolu berdiri memperhatikan dengan tatapan tajam di sela menerima para tamu undangan. Tidak ada gondang atau manotor yang di langsungkan, acara berjalan dengan gaya adat jawa di susul dengan para ibu-ibu nasyid yang memainkan rebana.