Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Opung Parman penganut kuyang


__ADS_3

Berada di dalam gua tempat raja jin di kaki bukit, sukma melayang menapaki kekuatan yang tidak terlihat. Sosok Tolu duduk di atas sebuah batu hitam. Dia sedang menghirup hawa roh halus di sela pertapaan memulihkan tenaga dalam. Di sisi lain, tubuhnya di bawa Togar ke rumahnya. Dokter Frans memeriksanya selama berjam-jam, Togar di minta menyediakan tiga kantung darah. Pada malam itu juga, Togar pergi menuju ke PMI untuk membeli beberapa kantung.


Saat di perjalanan, di bagian belakang kursi mobilnya seperti ada sosok makhluk yang mengikuti. Sosok itu semakin nyata, membesar hingga meraba bagian tengkuknya. Dia tidak memperdulikan gangguan itu, Togar mempercepat laju mobil hingga di tengah perjalanan dia terpaksa menghentikan kendaraan. Sosok arwah dukun Siria berada di tengah jalan, makhluk itu semakin membesar dengan jemari tangan mengangkat mobil sampai ke atas.


“Arghh! Tolong!” jerit Togar.


Sukma Tolu yang masih melakukan meditasi dan persemedian itu langsung membuka mata berpindah tempat mencari dimana keberadaan Togar. Api merah membakar bayangan arwah dukun Siria, perlahan mobil Togar turun ke pinggir lintas jalan. Setelah menyelamatkannya, sosok sukma setengah kodam itu kembali ke kaki bukit hutan. Togar pun melajukan kendaraan, dia enggan melihat ke arah jok kursi bagian belakang sekalipun dia masih merasa ada sosok lain yang sedang duduk disana.


“Dok, ini beberapa kantung darah yang dokter minta” ucap Togar.


Sekujur tubuhnya terlihat sangat berkeringat, dia menoleh ke sang istri lalu mendekati. Di sebelah kiri di pasang jarum infus sementara di sebelah kanan tergantung kantung darah. Hanya dalam satu jam, dokter Frans mengganti kantung sambil mengernyitkan dahinya. Kasus pasien yang langka ini ingin dia tindak lanjuti di ruangan uji laboratorium rumah sakit, namun dia berpikir ulang akan status pasien sebagai seorang dukun sakti yang penyakit dan segala bentuk medis seolah bertolak belakang padanya.


Rumah di rundung duka, musibah tiada henti dan angin yang yang menerbangkan kesepian panjang menerpa tirai yang terbang terkena hembusannya. Tolu masih belum sadar, Togar berkali-kali bertanya pada dokter Frans akan keadaan istri dan janinnya. Dia sudah sangat gelisah, hari ini dia memutuskan untuk mengambil cuti selama beberapa hari. Dia meraih ponsel menghubungi nomor telepon pak Bram, akan tetapi panggilan itu tampak sedang di alihkan. Begitupun nomor opung Parman yang tidak aktif sedari tadi. Togar menekan nomor panggilan Toto, pria itu mengangkat di dalam panggilan suara bernada putus-putus.


“Apa yang sedang terjadi?” gumam Togar lalu menekan kuat kepalanya.


...----------------...

__ADS_1


Mereka kembali ke perkampungan di tempat sosok dukun ilmu keabadian. Opung Parman sudah memutuskan untuk membuang semua ilmu cucu menantunya itu dengan memaksa Bram menuju kesana. Setelah terlepas dari kuburan keramat dan tragedi kematian Seto.


Terlihat mereka belum jera malah semakin tidak bisa mengatur emosi dan kesadaran akan bahaya diri mereka sendiri. Togar menitipkan Tolu pada si mbok, hatinya yang tidak tenang itu pergi menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan, Togar masih merasa ada yang mengintai tapi dia tetap memfokuskan mengemudi berharap tidak terjadi apapun pada dirinya.


Tolu, satu tubuh namun mempunyai beberapa tubuh lain yang menyerupai dirinya terpisah melakukan kegiatan ghaib masing-masing. Salah satu yang berada di dalam rumahnya adalah sosok asli, di kaki bukit adalah setengah kodam dan di sisi antara Togar dan Ani adalah sosok Qorin. Dukun sakti itu meluaskan ilmu secara total demi menjaga keluarga dan mengasah kemampuan lebih tajam agar tidak mati di tangan musuhnya.


Tin, tin. (Suara klakson mobil).


Tina berlari membuka pintu besar gerbang utama, dia mempersilahkan tuannya itu masuk. Togar berdiri mematung melihat jalan setapak dan suasana bagian depan halaman sangat kotor dan tidak terurus. Dia mengingat lagi sudah dua minggu tidak bertemu dengan ayahnya.


“Bi, kemana perginya tuan besar?” tanya Togar.


Bi Tuti keluar memasang wajah terkejut melihat kedatangan Togar. Dia menunduk tanpa berani mengucapkan sepatah katapun.


“Pasti ada yang tidak beres!” gumam Togar.


Dia berlari masuk ke ruangan kerja pak Bram, di atas meja itu terdapat sebuah alamat dan selembar gambar aneh yang dia raih dengan dahi merenggut.

__ADS_1


“Ayah dan opung pasti pergi ke alamat ini” gumamnya.


Di ujung perjalanan garis menuju tempat itu, Parman meminta Toto meninggalkannya sendiri dan membawa Bram kembali ke kota. Bram tidak setuju dengan keputusan sang ayah, karena dia meminta Toto menghentikan kendaraan di tengah hutan rimbun itu.


“Tuan, tuan besar sudah tidak terlihat lagi. Sekalipun kita mengejarnya maka kita akan tersesat” ucap Toto.


Kekecewaan Bram memuncak, dia tetap mencari dimana keberadaan Parman dan berlari di susul oleh Toto. Kabut putih pekat menghalangi pandangan mereka, rintik hujan mulai turun di sertai suara Guntur. Parman sudah sampai di gubuk dukun Omas, dia meminta segala upaya yang di miliki sang dukun untuk memberikannya ilmu agar bisa mencabut atau menghilangkan ilmu sang cucu menantu.


“Keputusan ku sudah bulat, aku ingin menganut ilmu dari mu” ucap Parman.


Dukun tua itu pun tersenyum menyeringai, semula dia ingin mencabik seluruh organ lelaki yang ada di hadapannya. Tapi setelah keinginan menjadi pengikut ilmunya maka dia menawarkan segala ilmu dan syarat kepada Parman.


“Apakah kau benar-benar siap dan sanggup menerima ilmu ganas ini?” tanya si dukun Omas.


“Ya, aku siap. Beri dan wariskan semua ilmu yang kau miliki, sebagai imbalan adalah jiwa ku akan ku berikan untuk mu” ucap Parman.


Dukun Omas tertawa terbahak-bahak, dia tidak menyangka pria itu memiliki nyali yang besar dan mau jadi pengikut si kepala putung. Tanpa aba-aba, tubuhnya di bungkus kain hitam dan di siram darah manusia. Kejang-kejang tubuhnya di susul dengan siraman bunga tujuh rupa pada bagian leher Bram. Rasa panas membakar pada leher, Bram berteriak kesakitan hampir tidak kuat menahan rasa sakit. Jeritannya semakin memekik telinga, Omas menusuk keris hitam di bagian punggungnya. Seketika pria itu berubah menjadi setengah setan, urat mata menghitam bercampur merah darah. Di sela detik pertahanan setengah sadar menjadi manusia, dia membayangkan seorang buyut laki-laki yang sedang dia buai dengan senyuman terakhirnya.

__ADS_1


“Semua ini aku lakukan untuk menjaga cucu buyut ku kelak!” gumamnya lalu menutup mata.


Opung Parman menjalani proses ritual ilmu keabadian, dia merubah diri menjadi sosok kepala putung dan melakukan perjanjian ghaib dengan dukun Omas. Dia mengorbankan diri, menyepakati keinginan dan persyaratan demi melancarkan hal pengabdi setan. Menggadai jiwa atas nama opung Parman menyimpan sebuah rahasia yang hanya di ketahui oleh dirinya sendiri. Semua akan terkuak di tahun yang akan datang, tepatnya setelah kelahiran sosok bayi laki-laki yang di nantikan oleh ribuan para makhluk halus lainnya.


__ADS_2