
Setelah kehilangan jejak keduanya, Afif sangat gusar mencoba mencari segala sumber informasi dari manapun agar menemukannya. Tidak ada yang mengetahui dimana keberadaannya hingga berkali-kali menghubungi nomor Mira tapi tidak aktif juga.
“Kemana kau Mir?” batinnya.
Perjalanan panjang Sadam dan Mira menuju Vila sampai pada petang. Pak Bonar si pengurus Villa menyambut kedatangan mereka. Dia buru-buru meletakkan sapunya berlari menghampiri Sadam dan Mira.
“Eh den bagus, kenapa kesini tidak memberitahu bapak? Biar bapak bersihkan lagi ruangan dalamnya den.”
“Tidak usah pak, Kami hanya satu hari saja disini."
Pak Bonar menyerahkan kunci, dia meminta ijin pamit kembali pulang. Rumah yang letaknya tidak jauh dari Villa, pandangan mata sosok lain menyeringai menatap membuat dia ketakutan segera pergi.
“Kenapa dengan penjaga Villa itu?” tanya Mira.
“Tidak apa-apa. Pak Bonar adalah orang terpercaya ayah dan ibu.”
__ADS_1
Villa yang mewah jarang di tempati itu terawatt sebaik mungkin. Isi kulkas dan air minum tetap tersedia walau tidak ada yang menempati. Mira memasak mie instan dan telur dadar, dia juga meletakkan dua gelas jus jeruk di atas meja makan.
Togar di isi jin merah, setengah sadar mengusap pelan rambut Mira, dia tersenyum duduk di dekatnya. Mira membalas senyumannya menyediakan makanan untuknya dan sebuah sendok.
“Apakah kau juga mau memakai garpu?” tanya Mira menoleh.
“Tanpa sendok dan garpu asal bersama mu aku merasa bahagia.”
Rayuan maut di layangkan pertama kali di telinganya, Mira hanya tersenyum mengambil piring makan. Suasana romantis makan malam berdua terpajang lilin aroma terapi di setiap sudut ruangan. Sadam membelai rambut wanita itu, dia sudah lepas kendali menggendong Mira masuk ke dalam kamar. Semula wanita itu melawan menolak hingga sempat menampar pipinya. Tiba-tiba pandangannya berubah penuh cinta takhluk pada pria itu. Mira menuruti semua kehendak Sadam di balik selimut besar tebal, lampu di padamkan hanya ada cahaya lilin sebagai penerangan.
“Mira, aku akan menikahi mu dan bertanggung jawab semuanya. Ayo sekarang kita menemui orang tua mu.”
“Kau jahat Sadam! Hiks!”
Sadam menenangkan hingga Mira kembali terlelap di dalam pelukannya, dia shock tidak menyangka melakukan perbuatan kotor. Kuliahnya masih menginjak semester dua, dia harus mengakhiri sekolah. Mata berat susah terbuka, dia meraih gelas di atas nakas di bantu oleh Sadam.
__ADS_1
“Aku membenci mu!”
“Maafkan aku Mira, ayo sekarang kita pulang. Aku akan mengatakan kepada kedua orang tuaku dan orang tua mu. Aku akan menikahi mu”
“Lalu bagaimana dengan sekolah kita.”
“Kau bisa meneruskannya atau tidak semua pilihan pada mu Mira. Apapun permintaan mu akan aku turuti.”
Pada hari itu juga mereka pulang, tujuan pertama adalah kerumah Mira menyampaikan maksud niat mempersunting wanita itu.
“Mira, bukannya bapak dan ibu tidak merestui pernikahan ini. Tapi usia kalian masih terbilang mudah dan kalian belum lulus kuliah. Sebaiknya kalian tunda pernikahan ini sampai kalian lulus sekolah” kata pak Toyo.
“Benar nak Sadam, ibu dan bapak menerima niat baik mu. Tapi kami tidak setuju Mira menikah sebelum selesai kuliah.
“Tapi pak, bu__”
__ADS_1
“Ayah, ibu, ijinkan Sadam menikahi ku_”