
Hal-hal yang bersifat ghaib di dunia ini masih menjadi misteri akan kehadiran makhluk halus di tempat-tempat yang belum pernah kita temui.
“Aku melihatnya, sosok wanita yang menggangu kalian.”
Setelah bertemu Tolu, Semi merasa sedikit lega bisa berbagi cerita dengan orang yang mengerti akan penderitaannya. Semi meminta ijin pada Togar agar bersedia membawa Tolu ke rumahnya. Setelah berpisah di depan parkiran, Semi melambaikan tangan dan berharap secepatnya bertemu mereka lagi.
“Gadis itu terlihat sangat baik, lihatlah tanpa menunggu persetujuan darinya. Dia hanya menanggapi keputusan yang di lontarkan pada Togar. Dia wanita yang cukup menarik dan serasi untuk Togar” gumam Semi.
Setelah mengantarkan Tolu pulang, Togar kembali ke rumah dan menyampaikan ke ayahnya bahwa lusa dia dan Tolu akan pergi ke rumah Semi. Tapi pak Bram menolak, Karena calon pengantin di larang melakukan perjalanan jauh untuk mencegah hal-hal buruk yang akan terjadi.
“Togar, ayah mengijinkan hari ini kalian bertemu sebagai tanda pertemuan terakhir agar bertemu lagi di hari pernikahan. Tidak ada perjalanan dan pertemuan dengan Tolu, ayah tidak setuju!” tegas Bram.
Di sana, rumah yang dahulu penuh kehangatan kini terasa dingin dan pincang tanpa kehadiran sosok ibu. Hari indah yang dahulu ada berubah menjadi kesedihan dann kerinduan setiap hari, Togar mengusap foto bu Mawarni. Baru saja dia mengunjungi makam sang ibunda tapi rasa kehilangan dan rindu tidak bisa terhapus di hatinya. Kehadiran Tolu menjadi pengobat pria yang kesepian itu, Togar mengusap kepalanya lalu merebahkan tubuh di atas kasur.
__ADS_1
“Togar!” panggilan suara tidak jelas dari mana asalnya.
“Apa aku sudah bermimpi?” gumam Togar masih memejamkan mata.
Tubuhnya mengalami ketindihan, hal itu berlangsung sangat lama bahkan sampai Togar merasa tercekik akibat sekujur tulang dan anggota tubuhnya terasa sangat kaku. Togar membuka mata, dia tidak bisa bergerak, matanya melotot melirik jarum jam dinding yang menunjukkan pukul 00:00 tepat.
“Argghh!” Togar menghentakkan tubuhnya.
“Tolu, sayang kenapa kau kesini tengah malam?” tanya Togar mendekat.
“Sayang, apakah kau ingin aku masak sesuatu?” ucap Togar lagi.
Dia mengambil bungkusan yang berada di tangan Tolu, sekitar bibir wanita itu berlumur darah bekas daging mentah yang dia makan. Alangkah terkejutnya Togar, dia berusaha merampas bungkusan di tangannya tapi secepatnya wanita itu mengambil potongan daging dengan rakus di lahap sampai habis. Gerakan kaki dan tangan merangkak, bola mata berputar mendengus mendekatinya.
__ADS_1
“To_Tolu!” teriaknya.
Bi Tuti yang mendengar keributan di dapur langsung menyalakan lampu mendapati Togar seperti orang sedang kerasukan. Dia mengguncangkan tubuhnya lalu membacakan surah An-nas di telinganya.
“Den sadar den!” ucapnya mengusap wajah Togar dengan air.
“Bi? Lihat Tolu bi” Togar menunjuk di bawah meja makan.
“Tidak ada siapa-siapa disana tuan” Tina mengerutkan dahi sedikit ketakutan.
Di tangan Togar ada sisa darah daging mentah, begitu pula di sekitar bibir dan bajunya. Semua orang yang menyaksikan tampak panik. Bi Tuti dan Tina membantunya berdiri, mereka menggiring ke kamar. Bi Tuti menyiapkan baju ganti sedangkan Tina menyiapkan air mandinya.
“Sudah Bi dan Tina tinggalkan aku sendiri” Togar menutup pintu.
__ADS_1