
Di pertengahan siang yang terik. Seorang wanita tua berjalan membungkuk mondar-mandir di depan gerbang rumah. Mata melotot membelalak menabur sesuatu secara sembunyi-sembunyi.
“Permisi nek, apa yang sedang nenek lakukan disana?” tanya Midi.
Dia tidak memperdulikan, hanya melanjutkan omelan menggerutu mengeluarkan suara parau. Beberapa menit berlalu, burung gagak berterbangan di sekitar halaman.
“Nenek, jika engkau tersesat maka aku akan membawa mu ke kantor polisi” ucap Midi kembali.
“Sstth! Diam! Rumah ini terkutuk! Hah!” teriak si nenek tua.
Dia mengguncangkan tubuhnya, hampir saja lelaki itu pingsan akibat mencium aroma anyir pada tubuh wanita tersebut. Rambut putih acak-acakan, bekas darah kering di bagian dagu. Midi terpaksa menarik paksa ke sisi pinggir jalan. Suasana perkampungan sepi pada siang hari itu sedikit mencekam. Sang nenek menghilang bagai angin membawa serpihan daun kering. Alangkah terkejutnya Nanang menyadari si nenek sudah tidak terlihat lagi.
“Siapa dia tadi? Apakah hantu?” gumam Nanang berlari ketakutan.
...----------------...
__ADS_1
Sebagian orang mengira dia adalah wanita jahat. Setelah isu kematian dukun tua Siria tersebar kematian terakhirnya memanggil nama dukun Tolu. Bagian kejahatan dan kebaikan tidak lagi terlihat. Siria adalah dukun tua di anggap dukun penjaga batas wilayah perkampungan. Anak nenek Siria marah menuntut balas atas kematian sang ibu. Dia melempar tujuh butir telur busuk di pintu gerbang. Ketika lemparan ke Sembilan telur mengenai wajah Midi.
“Hei! Apa yang kau lakukan?” tanya Midi.
“Ibu ku meninggal karena pemilik rumah ini seorang dukun pembunuh! Arggh!”
Emosi tidak terkendali, pak Midi meminta bantuan petugas siskamling agar membawanya pergi. Keributan terdengar di telinga Ani, mbok Heni menelepon Ani tapi tiba-tiba telepon terputus akibat listrik yang padam. Tengkuk kanan terasa dingin, seolah ada yang menggeliat di atasnya meniup tiupan berbisik suara aneh.
“Arghh!” jerit si mbok.
“Kemana perginya pak Midi?” gumamnya mencari ke segala tempat.
Dari arah luar dia berlari menghampiri bersama nafas yang tersengal-sengal. Wajahnya terlihat ada lendir berjatuhan menyengat aroma busuk. Ani berjalan berjaga jarak, dia menutup hidung dengan ujung jari.
“Dari mana saja kamu pak? lalu bau apa ini pak Midi?” tanya Ani.
__ADS_1
“Maaf Non tadi bapak sedang pergi keluar. Ini bau telur busuk yang di lempar oleh wanita tua di depan gerbang. Saya mengamankannya ke pos siskamling non.”
“Ya sudah sekarang bantu aku mengangkat mbok Heni” ajak Ani.
Dia menyentuh dahi mbok Heni terasa sangat dingin, Ani pun memanggil dokter pribadi mereka. Namun, ketika dokter sudah datang dan memeriksa, tidak ada gejala atau penyakit yang di derita pada si mbok. Dokter hanya mengatakan bahwa dia kelelahan bekerja.
“Lalu, bagaimana dengan luka pada pergelangan tangannya dok?” tanya Ani.
“Bu, saya tidak melihat ada luka sedikitpun di pergelangan tangan wanita ini” ucap dokter.
Ani mengantarnya keluar, dia pun menerima resep vitamin untuk si mbok dan menyarankan agar si mbok tidak terlalu stress sehingga mengalami halusinasi. Ani kembali memastikan luka si mbok, luka robekan kulit melebar meneteskan darah mengejutkannya.
“Mbok! Mbok! Bangun mbok!” panggil Ani.
Dia menahan darah yang keluar dengan penutup meja. Darah itu bahkan bisa dia sentuh, tapi dokter sama sekali tidak melihat luka.
__ADS_1
“Kak, kenapa kakak menangis? Ada apa kak?” tanya Tolu masuk ke dalam rumah.