
Dendam, amarah dan kebencian tidak terlepas dari jiwa yang telah di rasuki oleh jin kafir dan iblis. Mereka mencari cara untuk membunuh dan menangkap korban untuk di bawa bersama-sama menuju ke dalam neraka.
Setelah berhasil mengeluarkan Ani, si mbok meraih botol kedua kalinya tanpa memperdulikan semua gangguan yang berada di dalam kamar. Dia menarik tangan Ani untuk segera keluar dan berlari memberikan botol ke Tolu. Alangkah terkejutnya mereka semua melihat Sagala menyenderkan tubuh di langit-langit kamar dengan senyuman menyeringai. Sesekali, badannya terlihat kaku, ada akar menjuntai di bagian sisi kiri tangannya. Bola mata berputar, ada cacing yang berjatuhan dari balik tubuhnya.
“Sagala! Hiks” jerit Mariam histeris.
“Wahai penghuni kaki bukit, aku tau itu kalian yang mengganggu anak laki-laki ini. Aku Tolu, pewaris ilmu raja dan siluman hitam! Enyah Lah kalian dari tubuh Sagala!” gumam Tolu sambil mengucap mantra.
Batu mustika merah yang tersimpan di dalam lemari itu bersinar, cahaya kilauan menyengat penglihatan sosok yang berada di dalam tubuhnya. Dia mengerang, akar menjalar melibas orang-orang yang berada di bawahnya. Tolu mencakar akar liar dan mematahkan dengan kakinya. Dia menyiram air yang di dalam botol membasahi seluruh tubuh Sagala.
“Arggh! Arghh sakit!” teriak Sagala.
__ADS_1
Dia terjatuh di tangkap Mariam dan bu Ani, wajahnya yang semula pucat fasih kini perlahan memerah dan pernafasan kembali stabil. Mariam memeluk anaknya itu sangat erat, dia bersyukur Tolu bisa menyelamatkannya.
“Sagala, ini ibu nak” Mariam tanpa henti memeluknya.
“Jadi pesan ku, untuk sementara waktu kalian hindari area hutan. Sagala telah memasuki gua di kaki bukit dan mengambil beberapa butir telur ular yang dia sembunyikan di dalam rumah mu. Kau harus pulang dan mengembalikannya sebelum matahari kembali terbenam” ucap Tolu.
“Aku akan mengingatnya. Terimakasih inang, aku harus segera untuk melaksanakannya” ucap Mariam.
“Aku ikhlas membantu mu” ucap Tolu.
“Sekali lagi aku ucapkan terimakasih banyak inang, semoga inang sehat-sehat dan murah rezekinya.”
__ADS_1
“Amiinn.”
Mariam berjabat tangan dengan Ani dan Tolu untuk berpamitan pulang. Meskipun hari masih gelap, dia tetap membawa Sagala untuk pergi. Ani berniat menahan tapi kehendaknya itu di ketahui oleh Tolu. Tolu menggenggam tangan Ani sambil menatapnya. Refleks gerakan mata Ani membaca dan mengetahui apa yang di maksud oleh adiknya itu. Mereka memperhatikan tamu yang pulang sampai tidak terlihat lagi langkah keduanya.
“Adik, aku mau bicara dengan mu” ucap Ani menggiringnya masuk ke ruang tengah.
“Aku tau kau mempunyai banyak pertanyaan untuk ku kak.”
“Ya, dari mana kau mendapatkan ilmu itu?” tanya Ani menyelidik.
“Ceritanya sangat panjang, tapi aku melakukan ini semua murni atas keputusan ku sendiri. Kakak, tolong jangan membenciku.”
__ADS_1
Tolu meletakkan kepala di atas tangan Ani. Lantas, bagaimana lagi ini di katakan sebuah amarah jika ilmu yang di milikinya bisa bermanfaat untuk orang lain, Ketakutan terbesar Ani adalah arah jalan pulang Tolu di masa tua setelah memilih jalan hitam. Ani memikirkan bagaimana adiknya akan sulit jika di jemput sang khalik. Tetap saja hati kecil Ani menentang status adiknya kini menjadi seorang dukun.