
Seakan panggilan kakaknya hanya sia-sia belaka. Tolu sedang melepas sukma untuk berperang dengan makhluk halus yang kebanyakan dari kiriman para dukun akibat dia membantu para warga melakukan pengobatan ghaib. Ani melihat pintu itu tidak di gembok dari luar, dia langsung membukanya dan masuk ke dalam ruangan.
“Bukan kah selama ini hati ku selalu bertanya-tanya pada adikku, dia berada di dalam dengan gembok dan jeruji besi yang terpasang di luar. Bagaimana dia keluar selama ini? hari ini aku tidak melihat gembok besar mengunci tempat ini” gumam Ani sambil mengamati isi dalam ruangan.
Dia terkejut melihat Tolu sedang duduk di depan meja besar yang berisi berbagai benda aneh di atasnya. Dupa dan kemenyan masih terbakar di dalam sebuah wadah kecil, hal yang paling membuat bola matanya membelalak adalah darah hitam yang masih segar membuat isi perutnya ingin keluar. Tolu duduk bersila memejamkan mata, Ani mengguncang tubuhnya berharap Tolu agar cepat bangun.
“Bangun! Adik bangun! Tolu!” teriak Ani.
“Kakak, selalu mengganggunya. Hihihi, hihih!” ucap sosok makhluk tanpa kaki melayang di langit-langit ruangan.
“Pergi!” usir Ani melempar sebuah pinang ke arahnya.
__ADS_1
“Mengapa tidak kau rusak kan saja meja sesajian itu? Inang Tolu tidak akan bangun jika kau tidak mengoleskan darah yang di mangkuk itu ke wajahnya. Ahahah” ucap sosok anak kecil berbadan dan berwajah tua.
“Aku tidak akan mendengarkan perkataan kalian! Tolu! Bangun!” teriak Ani.
Pisau yang berada di atas meja melayang berputar-putar di atas kepala Ani. Hal itu membuatnya semakin ketakutan, pisau itu mendekat tepat di wajahnya yang berjarak satu senti. Terpaksa Ani mengoles darah hitam itu ke tangan Tolu, sangat cepat dan semakin banyak dia mengusap sampai Tolu membuka mata dan menggenggam tangannya.
“Hentikan kak!” seru Tolu.
Hampir saja sosok lain yang di badannya itu keluar dan membuat dia menjadi Tolu yang berbeda. Tolu menarik Ani keluar ruangan menuju kamarnya.
“Kakak, kau tau dari mana cara menyadarkan ku? Hal itu merupakan panggilan tercepat ketika sukma ku tidak di dalam tubuh ku. Tapi kau bisa terancam karena sosok lain akan mengganggu dan memperlihatkan wujud aslinya di hadapan mu!” ucap Tolu dengan nada sedikit keras.
__ADS_1
“Aku tau dari sosok yang sama, dia pernah mengganggu ku pertama kali melangkah ke ruangan ini. Kau tau tidak bahwa hampir saja pisau di atas meja tadi hampir membunuh ku?” ucap Ani kesal.
“Tidak ada yang bisa melukai mu selama aku masih hidup! Sekarang kau sudah berurusan dengan darah yang di atas meja ku. Kau harus menaklukkan darah yang berisi hal ghaib itu agar tidak mengganggu mu” ucap Tolu.
Tolu mengambil wadah sejenis mangkuk yang berisi sisa darah hitam. Dia menyodorkan kepadanya lalu menganggukkan kepala.
“Minumlah kak, kau harus selamat dan selalu bersama ku” ucap Tolu.
Di menghembuskan mantra lalu membantu Ani meneguk darah hitam secara perlahan.
“Aku melakukan dosa besar, aku minum minuman haram sementara aku selalu ta’at beribadah dan melaksanakan segala perintah-Nya. Inilah dosa yang harus aku terima atau semua keputusan ku” gumam Ani.
__ADS_1