Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Beranjak mengelabui


__ADS_3

Meski sudah tertusuk pisau, Tolu tidak mau di bawa ke Rumah sakit. Dia memilih berjalan sendiri ke ruang rahasia. Togar tidak bisa berkata apapun, istrinya yang keras kepala tanpa mau mendengarkannya. Togar mengusir Trim dan menyeret Norman yang sudah babak belur keluar. Di depan gerbang rumah para warga yang melintas di depannya hanya bis melihat tanpa ada berani yang membantu. Togar terkenal pria yang baik, hari ini dia sudah kehilangan kendali setelah Norman menikam Tolu.


“Tolong bantu kami!” teriak Trim.


Togar menutup pintu berlari ke dalam rumah mencari Tolu. Pintu ruangan rahasia itu terkunci dari dalam. Togar mengetuk berkali-kali, memaksa Tolu mau membuka. Di dalam ruangan, Tolu menetralisir tubuh dan racun yang merambat mengunci aliran darahnya. Pisau itu ternyata sudah di beri mantra, senjata yang di gunakan Norman berasal dari Bangsal.


Luka nyata dan ghaib telah mengakibatkan tenaga terkuras. Selesai mengobati luka ghaib, Tolu menekan luka tusukan di perut kirinya. Darah tidak berhenti mengalir walau dia sudah menekan dan menumpahkan betadine pada luka. Gemetar tangan Tolu membuka pintu ruangannya. Saat akan terjatuh, Togar menggendong membawanya ke dalam kamar.


“Aku akan menjemput dokter. Jangan pergi kemanapun” ucap Togar berlari keluar.


Keluarga itu tampak penuh dengan masalah yang bertubi-tubi. Tidak ada ketenangan di dalamnya, begitu pula gangguan ghaib dan penampakan makhluk halus. Si mbok masih menjaga Ani, gerakan jari tangan Ani hingga manik mata yang terbuka menatapnya.


“Non, Alhamdulillah non sudah bangun” ucap si mbok.


“Dimana Tolu mbok?” tanya Ani bangkit dari tempat tidurnya.


Dia membawa infus sambil berjalan, si mbok membantu memegangi jarum gantung itu menuruni tangga. Melihat Tolu sekarat di atas tempat tidur, Ani sangat histeris tanpa sadar melepaskan infus di tangannya.


“Kenapa kau bisa terluka begini? Mana Togar? Bertahan lah , kakak akan membawa mu ke Rumah sakit!” ucap Ani.


“Togar akan membawa dokter kesini, kakak jangan khawatir” sahut Tolu.


“Tidak! Ayo ikut kakak! Luka mu sangat parah!”


Pintu yang terbanting, dokter di bawa oleh Togar secara paksa memasuki kamar. Beberapa orang di minta untuk meninggalkan kamar. Hanya boleh satu orang saja menunggu di dalamnya.

__ADS_1


“Kalau begitu biar aku saja yang di dalam” ucap Ani.


Dua belas jahitan, kapas yang terbuang di lantai, aroma anyir menyebar mengeluarkan suara aneh samar mengganggu. Dokter itu masih tetap tenang dan fokus untuk mengobati luka Tolu. Akan tetapi saat masih melakukan perban di perut Tolu, dia terkejut merasakan tetesan kental yang terjatuh dari langit kamar. Dia mendongak ke atas, sosok merangkak membuka rahang mulutnya mengeluarkan air kental yang kini tepat jatuh di dahi si dokter.


“Ha_ha_hantu!” teriak dokter berlari terbirit-birit meninggalkan mereka.


“Kenapa pak dokter pergi?” tanya Togar.


“Aku tidak melihat hantu disini. Tapi dokter itu melihat ke atas dan sangat ketakutan” ucap Ani.


Tolu meneruskan membalut perbannya sendiri. Ani memilih beberapa botol antibiotik di dalam tas dokter yang tertinggal itu. Supir mengantarkan dokter Man pulang. Dia tidak bisa mengemudi sendiri, gelagat seperti orang ketakutan. Titipan bayaran pengobatan itu di berikan pada pak Toto, supir barunya. Perjalanan ke rumah dokter Man begitu cepat, di perjalanan pulang terbayang perkataan dokter Man akan penampakan yang dia alami. Toto yang baru bekerja selama satu minggu, dia ingin menanyakan pada para pekerja lain namun rasa sungkan dan takut jika rasa ke ingin tahuannya menjadi masalah.


...----------------...


Dering ponsel mengabarkan pekerjaan di kantor kerjakan secara mendadak. Togar meminta ijin pada Tolu dan Ani untuk pergi. Di dalam perjalanan pikirannya bercabang.


Dia melintasi jalur bekas ular yang pernah dia tabrak bersama teman-temannya. Pandangan di arah jalan menemukan sosok anak kecil berdiri di sisi jalan sambil melambaikan tangan. Togar menghentikan kendaraan, dia keluar menghampiri tapi sosok anak itu menghilang.


“Kemana perginya anak tadi?” batin Togar.


Di sisi kiri jalan yang sepi, bagian kanan dan kiri ada perkebunan jagung. Memasuki langkah lebih ke dalam. Togar melihat sebagian pepohonan rusak, ada sebuah bus besar berhenti disana. Togar mengamati dari luar, bus asing yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Membuka pintu bus, di dalam dia terkejut melihat mayat para penumpang. Banyak belatung, cacing dan bangkai hewan lain di lantai bus. Togar terjatuh karena begitu kagetnya, mendekati salah satu mayat anak perempuan yang dia lihat di pinggir jalan.


"Huekkk" Togar kewalahan mencium aroma bangkai busuk.


Mayat anak kecil mengenaskan, dia kehilangan mata dan isi organ tubuhnya. Togar tidak kuat menahan rasa mual, dia memuntahkan isi perut lalu bergegas berlari keluar dari bus. Tapi ketika dia akan membuka pintu bus, pintu itu tertutup rapat.

__ADS_1


"Tolong!” dugh.dugh. Teriakan dan suara ketukan pintu.


Sosok hantu terpental saat akan masuk ke tubuh Togar. Berkali-kali sosok lain ikut mengganggu tapi serangan mereka tidak bisa mengenai Togar.


Dubrak (Pintu terbuka).


Togar berlari sekencang-kencangnya, dia masuk ke dalam mobil mengemudi meninggalkan tempat itu. Wajahnya pucat, nafas masih tersengal-sengal. Kendaraan berbalik arah pulang. Dalam sekejap saja Togar memarkirkan kembali mobilnya di depan rumah. Dia buru-buru masuk, seribu langkah langsung mencari sang istri. Tolu memperhatikan suaminya dengan mengerutkan dahi. Di kamar, mereka terdiam sambil saling menatap.


“Apakah masih sangat sakit?” tanya Togar membuka percakapan sambil mengatur nafas.


Tolu menggelengkan kepala, dia memejamkan mata. Togar mengusap lembut rambutnya. Tolu yang masih enggan terlalu menempel dan dekat pada suaminya itupun beranjak turun dari kasur berjalan menuju balkon. Togar menyusul, dia duduk di bawah Tolu melemparkan senyuman tipis.


" Kenapa engkau cepat sekali kembali?"


"Tiba-tiba saja tadi pekerjaan itu di tunda. Apakah istri ku tidak lapar?” tanya Togar mengalihkan pembicaraan.


“Aku mau stik daging setengah matang. Tapi kalau kau kerepotan mencari makanan itu maka rebus saja ayam itu setengah matang. Aku sangat kelaparan” ucap Tolu.


Gerakan cepat Togar mengambil dompet dan kunci mobil. Tolu melihat kepergiaannya dari balkon. Pria penurut dan sangat mencintainya itu membuat Tolu semakin takut jika Togar mendapatkan sebab akibat dari ilmu yang dia anut. Batu mustika menyala, gaman dan benda ghaib sudah menyalakan sinyal tuntutan untuk di mandikan. Karena terlalu sibuk akan masalah ghaib, Tolu tidak sempat melakukan ritual di bulan suro. Dia mengetahui akibat melanggar kewajiban yang harus dia lakoni itu, setelah ilmunya akan membentur api membuat telapak tangan kirinya panas sampai melempuh.


Hitungan lima belas menit, Togar kembali membawa dua bungkusan berwana hitam. Dia keluar dari mobil melambai tangan ke arah Tolu. Togar tampak kepayahan membawa wadah nampan panjang, semangkuk ayam rebus yang sudah di berisi bumbu rempah-rempah. Dua piring berisi nasi putih, sepiring ayam goreng dan dua gelas air.


“Terimakasih” ucap Tolu meraih nampan dari tangannya.


Tolu meletakkan di bagian sisi kiri kursi yang di alasi karpet. Mereka makan bersama, hal romantis yang belum pernah Togar rasakan karena kini dia bisa menyuapi wanita dingin itu.

__ADS_1


“Apakah lezat?” tanya Togar.


Tolu mengangguk, dia menghabiskan satu mangkuk ayam rebus sendirian. Perutnya terbagi menjadi beberapa bagian, perut untuk mengisi makhluk ghaib yang bersemayam dan beberapa potong ayam sudah di ambil sari pati oleh makhluk halus peliharaannya.


__ADS_2