Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Raut sosok lain


__ADS_3

“Hei inang, apakah kau bisa melihat ku?”


Sosok wanita tua memakai baju compang-camping melengos mengendus terbang mengitari mereka berdua. Manik mata Tolu melihat gerakan hantu yang sedang mengganggu mereka, dia menarik ujung celana Togar. Kelakuan jahilnya itu membuat Tolu menjadi marah. Hanya sekali ucapan mantra yang di hembuskan melalui udara.


“Arghh! Sakit! Ampun inang!” jeritan hantu menghilang masuk ke salah satu kuburan di dekatnya.


“Seperti ada yang menarik ku” gumam Togar bergerak berdiri.


Dia menggenggam tangan Tolu lalu menunduk melanjutkan curahan hatinya itu di depan makam almarhumah ibu Mawarni.


“Ibu, aku akan memberikan benda peninggalan mu pada calon istri ku. Ibu, kami selalu mendo’akan ibu semoga tenang di alam sana.”


“Ibu ini aku Tolu, calon istri Togar” Mendengar ucapannya, Togar langsung memeluknya.


Kini hatinya sudah tenang, tidak perduli bagaimana dia harus menghadapi sifat dingin wanita itu. Setelah mendengar perkataannya, hati dan pikiran Togar kini benar-benar matang. Dia meletakkan tusuk sanggul peninggalan sang ibu di lilitan rambut Tolu. Tepat di letak dekat tusuk sanggul kamboja favoritnya.

__ADS_1


“Bagaimana caranya biar pria ini tidak jadi menikahi ku?” gumam Tolu sepanjang perjalanan pulang.


Togar memberhentikan kendaraannya di pinggir jalan, dia menoleh ke arah Tolu lalu memberikan minuman botol yang berisi minuman jeruk.


“Tolu, di depan sana ada kuliner sate khas kota ini. Apakah kau mau mencobanya?” tanya Togar.


“Ya, aku mau sate setengah matang” jawab Tolu sambil membuka pintu mobil.


Satu piring sate setengah matang tersaji di atas meja sedangkan Togar memesan sate matang dengan tumpukan bumbu kacang di atasnya. Tolu menyingkirkan bumbu yang melumuri satenya, dia bahkan mencuci sate itu dengan air minum tepat di dekat Togar. Pemandangan itu di saksikan oleh Togar dan sang penjual sate. Mulut Togar terbuka lebar menyaksikan kejadian langka itu.


“Pesan kan aku satu piring lagi tanpa bumbu apapun” ucap Tolu ketus menatapnya.


“Pak, saya pesan satu piring sate setengah matang lagi, tanpa bumbu” Togar menyodorkan selembar uang kertas berwarna merah kepadanya.


“Baik tuan.”

__ADS_1


Jawaban sang penjual singkat, dia memperhatikan Tolu dengan tatapan mencurigakan. Tolu menyantap daging setengah matang dengan dua kali lahap saja, Setelah selesai, Toga memberikan segelas air dan mengusap punggungnya.


“Perlahan saja menghabiskannya sayang” ucap Togar.


“Aku sudah selesai bang.”


Tolu pergi masuk ke dalam mobil, dia mengabaikan semua perlakuan pria itu begitu saja. “Tuan, maaf saya mau bertanya. Siapa wanita yang bersama tuan itu? Jika dia mengalami gangguan ghaib hingga makan-makanan mentah, maka saran saya segera bawa berobat ke dukun Tolu. Rumahnya yang paling besar di kampung seberang” ucapnya menunjuk ke jalur perbatasan.


Togar enggan memberitahu bahwa yang di hadapannya adalah Tolu yang dia maksud. Togar sudah mengetahui jika calon istrinya itu mempunyai kekuatan supranatural dan bisa mengobati para warga. Tidak ada yang bisa mengubah hati dan pendiriannya itu untuk membatalkan pernikahan. Togar menetapkan keputusan menjadi pelindung dan suami untuk Tolu.


“Oh begitu ya pak, terimakasih atas sarannya. Saya akan mencoba membawa istri ku kesana” jawab Togar.


Di dalam mobil, Togar sesekali melirik pandang melihat wanita itu. Dia mengusap ujung bibir Tolu dengan harinya lalu tersenyum.


“Ada apa?” tanya Tolu garang.

__ADS_1


__ADS_2