Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Sihir merambat


__ADS_3

Dia kembali ke badan kasarnya sedangkan sosok berbaju putih tadi menghilang. Togar membacakan hamdalah lalu mengangkat tubuh istrinya itu sendirian ke dalam kamar. Meski aroma anyir yang melekat di baju sangat menyengat, dia tidak memperdulikan dan tetap mengurus Tolu seorang.


“Biar bibi dan bi Tina bantu tuan” ucap bi Tuti.


“Tolong ambilkan baju ganti di lemari bi” kata Togar.


“Togar, ayah dan pak Midi akan menjemput Ani. Beberapa menit lagi dokter akan datang. Jika dokter meminta Tolu di bawa ke rumah sakit, jangan lupa telpon ayah” jelas pak Bram.


Togar hanya mengangguk setuju akibat pikirannya tidak terkendali. Apa yang harus dia jelaskan pada kakak iparnya nanti? Dia sudah pasrah jika harus menerima amarah dari Ani.


“Tuan, dokter sudah datang” ucap bi Tuti.


Dokter yang datang langsung memeriksa selama beberapa jam, berkali-kali pria berseragam putih itu memeriksa denyut nadi Tolu yang terhenti. Namun, keanehan muncul meski aliran darah sudah tertutup, wanita yang kini dia periksa masih bernafas.


“Apakah aku yang salah memeriksa pasien ini?” gumam dokter kembali memeriksa.


“Dok, apakah istri ku harus di bawa ke rumah sakit?” tanya Togar.


“Begini pak, saya merasakan tidak ada denyut nadi di area titik pusat nadi manapun. Tapi nafas stabil dan tampaknya istri bapak hanya tertidur. Tidak ada penyakit yang di derita, suhu tubuhnya juga normal” ucap dokter.

__ADS_1


“Jadi kenapa belum sadar juga dok? Istri saya juga mengeluarkan banyak darah” Togar mengernyitkan dahi.


“Hal ini adalah suatu penyakit langka. Jika kondisi ini tidak berubah selama tiga hari maka istri anda harus di bawa ke rumah sakit pusat” kata dokter.


“Terimakasih dok.”


“Kalau begitu saya pamit.”


...----------------...


Setelah sampai di halaman rumah yang luas itu, Ani segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.


Rasa trauma di tinggal oleh orang-orang yang terkasih masih membekas di hatinya. Apa jadinya jika adiknya ikut meninggalkan dirinya? Ani menangis memeluk Tolu sangat erat.


“Kakak ada disini, bangunlah!” ucap Ani.


“Maafkan aku kak, maafkan aku” kata Togar.


“Aku akan membawa adik ku pulang sekarang juga” Ani mendudukkan tubuh Tolu lalu mengangkatnya sendiri keluar dari kamar.

__ADS_1


“Sini biar bibi bantu non” bi Tuti.


“Kakak, dokter menyarankan kita harus membawanya tiga hari ke depan jika kondisi Tolu tidak ada perkembangan untuk di teliti, ” Togar menghalangi saat kaki mereka sudah di tengah ruangan.


“Apa? Apa kau mau kalau adik ku jadi malpraktek doker? Dia adalah adik kandung ku!” bentak Ani mencari celah menuju ke luar.


Pak Bram tidak membela kedua belah pihak, dia hanya menatap pertikaian itu di kursi sofa.


“Non, silahkan biar bapak antar” ucap pak Midi membantunya memasuki mobil.


Togar meraih kunci dari tangan pak Midi, dia menekan perasaan ketika melihat orang-orang yang masih sibuk merapikan tempat itu sesekali menatap mereka.


“Biar aku saja yang mengantarnya” kata Togar menyalakan mesin.


“Bagaimana aku mengobati adik ku ini? haruskah aku menempatkannya di kamar rahasia itu sendirian?” gumam Ani.


Dia menyadari sakit adiknya bukan lah penyakit medis. Saat tiba di kamarnya, mata Togar membelalak melihat kamar Tolu yang bernuansa merah. Dia menyibak tirai dan mendongak kepala melihat balkon, ada banyak bunga bonsai kamboja dan sirih di dalam pot berukuran sedang yang merambat di sela batang pembatas pintu.


“Togar, tolong jaga Tolu sebentar” ucap Ani lalu menutup pintu.

__ADS_1


__ADS_2