Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Halau


__ADS_3

Dunia ini sudah di penuhi oleh sihir yang mencelakakan manusia. Orang-orang menghalalkan cara instan untuk membalaskan sakit hati kepada orang yang di tuju. Lama meminta, berharap pertolongan selain pada sang pencipta merupakan wujud kesia-siaan. Tidak ada yang di dapat dari Bangsal hari ini. Dia di penjarakan oleh Togar setelah mengetahui semua keributan dan kekacauan akibat ulah anak si nenek Siria.


Pagi hari sebelum pergi ke kantor, Togar mengatakan pada Tolu akan mengundang para rekan kerjanya untuk makan malam di rumah. Mengantar Togar sampai di depan pintu, Tolu menepuk dada bidang suaminya itu. Dia mengalirkan mantra dan sihir, di sisi lain sosok mahkluk yang dia utus untuk menjaga suaminya itu dari jarak jauh. Dia melihat sosok yang belum terjamah.


Melihat mobil Togar meninggalkan halaman, Tolu mempercepat langkah menuju ruangan pribadinya untuk menabur kemenyan di atas wadah dupa. Sosok makhluk yang tadi dia lihat itu ternyata sering berada di dekat kakek Parman. Tolu melepaskan cincin batu miliknya dan Togar di dalam cangkir yang berisi air yang sudah di isi mantra. Seketika mahkluk yang berada di dekat Togar menghilang kembali ke tuannya.


“Kakek, biar aku saja yang menjaga Togar dari jarak jauh! ” gumam Tolu dalam seruan.


Tok, tok. (Suara ketukan pintu).


“Non, si mbok permisi mau ke pasar. Non Ani juga sudah pergi pagi-pagi sekali ke kantor” ucap si mbok.


Manik mata was-was, takut melihat penampakan makhluk halus. Karena tidak ada jawaban dari dalam, si mbok berlari ke lantai bawah dengan tergesa-gesa.


“Mbok, saya menitip beberapa pincuk bunga yang berisi berbagai macam kuntum” suara Tolu tepat di belakangnya. Si mbok terkejut, belum ada lima menit berlalu secara tiba-tiba Tolu sudah berada di dekatnya.

__ADS_1


“Ba_ba_baik non” ucap si mbok terbata.


...----------------...


Langit senja di perkampungan si diam-diam. Beberapa orang pulang dari sawah sesekali menoleh ke arah Semi yang mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Dia melambai tersenyum, tangan mereka membalas sapaan Semi. Hari ini dia bersyukur masih bisa tetap hidup bersama ibunya walau dia masih sering mendengar suara kuntilanak dari arah sungai Mahakam.


“Sem, apakah engkau tidak pernah kesini sebelumnya? Kenapa kau tampak bahagia sekali?” tanya Dirta memperhatikan mimik wajahnya.


“Justru aku lebih sering kesini. Hobi lain ku adalah mengganggu istri Togar. Wanita itu sangat mempesona. Ahahah” celetuk Semi riang gembira.


“Tutup mulut mu atau aku akan menurunkan mu disini!” bentak Togar garang.


Gelak tawa dan ocehan mereka berhenti, mobil di rem mendadak berhenti karena ada seorang nenek tua berdiri di tengah jalan. Dia membungkuk melotot dengan tangan ke atas. Lingkar mata hitam, rambut seperti ada sarang laba-laba, tanpa alas kaki berjalan mengetuk pintu kaca mobil Togar.


“Hei! Kau akan celaka!” teriaknya memukul kaca sangat keras.

__ADS_1


Togar menancapkan gas melajukan kendaraan kencang, Dirta dan Semi menjerit ketakutan menutup pintu kaca. Mereka membalikkan tubuh melihat si nenek dari kejauhan.


“Mengerikan sekali!” ucap Semi ketakutan.


“Apakah dia tadi manusia?” tanya Dirta.


“Sudahlah, tidak heran jika perkampungan ini sangat terkenal dengan aura mistisnya. Sem, bukankah tadi kau mengatakan sering kesini. Seharusnya kau tidak terkejut seperti itu” kata Togar.


“Togar! Awas di depan mu!” teriak Dirta.


Tin, tin ( Suara klakson mobil).


Darah ular mengenai kaca bagian depan, hewan melata memanjangkan tubuh di tengah jalan mereka gilas. Togar menepikan kendaraan, dia mencari air menyiram darah ular berharap tidak terjadi hal buruk.


“Jangan katakan hal ini pada Tolu atau aku tidak akan menganggap kalian sahabat ku lagi” ucap Togar mengancam.

__ADS_1


“Percuma kau menyembunyikan pada istri mu. Dia pasti mengetahuinya” ucap Semi menepuk jidat.


Setelah benar-benar telah memastikan bahwa darah sudah menghilang, mereka melanjutkan perjalanan. Pikiran Togar masih tidak tenang karena mengingat ular yang menghalangi perjalanan adalah hal keburukan.


__ADS_2