
“Lihatlah badan mu tidak terawat, apakah istri mu tidak memberikan mu makan?” tanya Bram sedikit mengeraskan suaranya.
“Ayah jangan bilang seperti itu. Istriku sangat baik merawatku. Ayah, kedatangan ku kesini ingin meminta bantuan pada mu. Aku mau meminjam uang” ucap Togar.
“Kau jangan mengatakan pinjam ke ayah kandung mu sendiri. Katakan berapa nominal yang akan ayah tulis?” tanya Bram mengeluarkan sebuah cek dan pulpen.
“Satu miliyar” ucap Bram melotot.
“Ayah, aku akan mencicilnya dengan gaji ku,” Togar memelas di depannya.
“Katakan pada ku, masalah apa yang sudah kau lakukan?” tanya Bram menyelidik.
“Tidak ayah, kemarin Bangsal menyiram Tolu dengan minyak tanah. Dia juga mengajak warga untuk membakar rumah. Setengah rumah terbakar dan aku sudah merenovasinya. Ayah, aku butuh biaya untuk memperbaiki kerusakan rumah memenuhi kebutuhan keluargaku” ucap Togar menjelaskan.
Dia menyembunyikan kebenaran bahwa Tolu minta Sembilan ekor kerbau. Jika mengatakan hal yang sebenarnya pasti ayahnya akan menolak. Tanpa menunggu lama, cek senilai satu miliyar hinggap di tangannya.
“Ambillah, aku akan menambah cek lain di minggu berikutnya untuk keperluan menantuku. Aku akan memberi perhitungan pada Bangsal yang sudah melecehkan anak menantu ku” ucap Bram geram.
“terimakasih banyak ayah engkau adalah ayah terbaik” kata Togar.
...----------------...
“Kenapa telat masuk ke kantor?’ tanya Semi.
“Kau pun sama telat sepuluh menit di ruang rapat” potong Dirta yang tiba-tiba hadir dari belakang.
“Aku masih sering mengalami hal aneh, teriakan kuntilanak di sungai Mahakam itu semakin keras terdengar. Aku jadi tidak tega meninggalkan ibu ku sampai malam” ucap Semi.
“Tidak heran karena bulan ini adalah bulan suro. Para setan, iblis dan makhluk lain lebih kuat menunjukkan dirinya” ucap Dirta.
“Aku ada urusan mendadak, selesai jam makan siang aku akan pulang lebih cepat,” kata Togar menghabiskan kopinya.
__ADS_1
“Kami masih memikirkan perkataan mu ketika mabuk waktu itu. Apakah benar, kau belum menyentuhnya?” tanya Semi penasaran.
“Coba tanyakan lagi masalah intim rumah tangga ku, aku akan menghajar mu sampai kau mati” kata Togar.
“Hahah, hahah,” Dirta dan Semi tertawa bersama melihat wajah kesal Togar.
Menepati jani pada istrinya, di tengah perjalanan dia memutar ke sisi lintas bagian kiri untuk membeli satu keranjang bunga mawar dan sebuah bucket bunga segar beraneka macam. Dia melanjutkan mengemudi kendaraan kembali, perlahan laju melintas ke sisi pinggir tempat perkebunan jagung. Masih ada bekas terowongan aneh yang merusak kebun itu. Togar mengurungkan diri berhenti untuk melihatnya kedua kali.
Di depan rumah, Tolu sudah bersiap menunggunya. Dia membuka pintu mobil untuk Tolu. Pergi ke pasar adalah hal favorit istrinya, Tolu enggan berhenti ke salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota dan menolak ajakan Togar untuk berbelanja.
Tujuannya adalah membeli kerbau untuk untuk di jadikan persembahan kepada raja siluman ghaib di kaki bukit. Memasuki pasar, Togar sedikit bingung melihat disana tidak ada yang berjualan kerbau seperti yang Tolu katakan. Suasana pasar sangat ramai, pengunjung berdesak-desakan hingga Togar hampi kehilangan jejak Tolu. Menggenggam tangan Tolu, meski Tolu merasa risih Karena banyak yang memperhatikan tapi Togar tetap tidka mau melepaskan.
“Sayang, dimana tempat berjualan kerbau itu?” tanya Togar.
“Di ujung pasar sana, penghabisan lapak orang berjualan yang sebelahnya terdapat beberapa ekor kerbau yang terikat pada pohon. Bulan ini banyak orang berjualan keperluan di bulan Suro, ayo kita tanyakan harga kerbau itu” ajak Tolu.
Kisaran harga yang tidak terlalu mahal di sela uang yang sudah di siapkan Togar. Sembilan ekor kerbau harga pasaran di di perkampungan itu hanya sekitar lima ratus juta rupiah. Pembayaran secara tunai dan pengantaran langsung alamat rumah yang di berikan. Togar melanjutkan langkah mengikuti Tolu, transaksi pembayaran itu berlangsung dengan cepat. Dia tidak sempat memeriksa kondisi dan keadaan kerbau itu, menuruti semua keinginan Tolu lalu mempercepat langkah mengikuti ke sisi lain.
“Sayang, biarkan aku melihat dagangan yang berada disana” ucap Togar.
Tolu mengangguk mengikutinya, tempat penjualan baju bergantungan menarik mata Togar memilih beberapa potong untuknya.
“Ini sangat cantik, sayang” ucap Togar.
Kata ucapan sayang itu terdengar pembeli yang mampir, mereka menoleh ke sosok Tolu menunjukkan pandangan terkejut.
“Bukan kah itu dukun Tolu?” bisik salah satu wanita ke temannya.
“Ayo kita pergi, jangan cari masalah dengannya!”
Mereka melepaskan belanjaan, buru-buru pergi secepat mungkin. Togar enggan memperdulikan perkataan mereka, dia menarik pinggang Tolu membuat wajah mereka berdekatan.
__ADS_1
“Jangan pikirkan apapun, aku akan selalu mencintaimu” bisik Togar.
Tolu melotot, dia mendorong dada bidang suaminya itu. Dia merampas bungkusan baju yang di belikan untuknya lalu berjalan pergi. Hampir saja Tol berjalan ke hutan dengan berjalan kaki jika Togar tidak cepat menemukannya. Di dalam mobil, wanita itu berpikir akan sebuah persyaratan yang belum bisa dia penuhi untuk di berikan ke raja siluman. Kendaraan mereka sudah parker di depan pintu masuk hutan namun dia enggan keluar.
“Ada apa sayang? Bukankah kau ingin pergi kesini?” tanya Togar.
“Tidak jadi, persiapan ku belum matang. Ada satu yang belum bisa aku dapatkan” ucap Tolu.
“Mau beli apa? Aku akan membelikannya untuk mu. Bagiku kau adalah segalanya, apapun yang ku miliki adalah milik mu,” kata Togar lembut.
“Tidak apa-apa. Aku bisa mendapatkannya sendiri.”
Memikirkan sebuah kepala manusia sebagai tumbal adalah hal yang mustahil. Wanita itu memang di gelar sebagai dukun sakti setelah di isukan membunuh sukun Siria si penjaga perbatasan hutan. Ketika mobil mereka melewati perkebunan jagung, Togar tanpa henti menoleh ke arah sisi kiri tersebut. Tolu menyentuh tangan Togar pelan, meminta dia menepikan kendaraan. Melihat ada yang tidak beres disana, Tolu turun dari mobil berjalan memasuki area perkebunan.
“Jangan masuk kesana, ayo kita pulang saja.”
Togar menghentikan langkah wanita itu, namun Tolu tetap meneruskan langkah memasuki area lebih dalam.
“Apakah ada yang engkau sembunyikan?” tanya Tolu.
“Maaf aku tidak mau menceritakan hal yang akan menambah masalah atau menyulitkan mu. Aku sudah menghubungi pihak berwajib” jawab Togar.
Tolu melihat banyak aura negatif bersemayam terselubung disana. Sebuah bus hantu di isi mayat hidup terjebak mengeluarkan tangisan dan jeritan.
Kriinng, kring(Bunyi ponsel berbunyi).
“Halo, dengan saudara Togar.”
“Ya benar saya sendiri.”
“Pak Togar, bus yang berisi mayat yang bapak maksud tidak ada di lokasi. Pagi ini kami sudah memeriksa kesana. Kalau ada informasi lain akan kami kabari kembali.”
__ADS_1
“Terimakasih pak,” (Tutup Togar).