
Setelah selesai Togar dan Tolu melanjutkan perjalanan menuju ke padepokan. Dua jam menyebrang ke perkampungan pepohonan pinus. Togar mengerem secara mendadak, melihat seorang wanita tua di depan jalan.
“Apakah dia tertabrak?” gumam Togar.
Memperketat sabuk pengaman. Tolu keluar terlebih dahulu, dia berjalan ke sisi kanan jalan. Togar menyusul namun kehilangan jejaknya. Dia menyalakan senter ponsel melihat sekitar di kelilingi penampakan sosok wanita tabrak tadi. Keberadaan kodam dan qorin dukun Siria masih menghantui mereka. Sekuat tenaga, Tolu mengusir sosok itu hingga dia kehilangan setengah energi. Kaki Togar di lilit oleh beberapa ekor ular hitam, tapi keanehan muncul ketika seekor ular akan menggigitnya, tiba-tiba semua ular itu hangus terbakar.
“Cepat, kita harus segera sampai ke padepokan” ucap Tolu.
Mata setan si dukun itu menyala menggiring sangat suami masuk kembali ke mobil sambil membaca mantra. Di depan gerbang masuk, ramai para santri, warga dan aparat kepolisan yang sibuk mondar mandir dan berkerumun.
Garis kepolisian di pasang di halaman padepokan yang mengarah ke pepohonan rimbun. Tolu dan Togar masuk mencari dimana sang pengurus padepokan. Setelah menemukan wanita itu, dia langsung menceritakan semua hal mengenai kondisi Ani. Tolu menghela nafas lalu mengepal tangan, rasa hawa panas menyerang. Semua karena Tolu si pemilik ilmu hitam itu tidak tahan mendengar suara ayat-ayat sayup yang di lantunkan.
“Kami sebagai keluarga kak Tolu, sangat berterimakasih kepada kepala pengurus, ustadz dan ustazah dan lainnya yang bersedia menerima kakak ku Ani,” ucap Togar.
“Demikian juga dengan aku sebagai adik kandungnya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya. Aku tidak akan melupakan kebaikan kalian” kata Tolu kemudian mengulurkan jabatan tangan.
Tangan dingin, sorot mata tajam beraura mencekam. Sebagian energi negatif orang-orang yang terkena tatapannya itu sedikit merasa pusing dan sempoyongan. Para warga yang mengenalnya dari perkampungan seberang di sisi kiri setelah melihatnya begitu cepat memalingkan wajah mereka dengan rasa benci. Tolu berpamitan bersama Togar, sebelumnya mereka menyambangi mayat dua santri yang meninggal di area pohon rimbun. Seorang mayat yang terbakar lainnya di bawa untuk di otopsi. Keresahan pun terjadi pada para orang tua akan nasib selanjutnya takut mengenai anak mereka.
Tika mendekati Tolu, sedikit ketakutan saat membalas tatapannya. “Mbak, maaf saya ingin berbicara”, bisiknya.
Tika menyodorkan sebuah gunting hitam padanya. Hati Tolu terdetak memikirkan bahwa ternyata sampai saat ini sang kakak masih menyimpan benda mistis darinya.
__ADS_1
“Terimakasih,” ucap Tolu.
“Mbak, aku rasa jika Ani masih berada di dalam area pepohonan karena semua barang-barangnya utuh di padepokan” kata Tika.
“Ya, aku mengetahuinya. Terimakasih, engkau sangat perhatian dengan kakak ku. Siapa nama mu?” tanya Tolu.
“Sama-sama kak, tidak perlu sungkan. Saya Tika.”
Tolu masuk ke dalam pepohonan pinus rimbun. Togar juga ikut setelah melihat sang istri berjalan sendiri. Di dalam area, ada beberapa petugas kepolisian dan tim penyelidik. Tolu tetap berusaha mencari sang kakak, dia adalah seorang dukun sakti namun semua seolah semua ilmunya tidak berarti kerena kehilangan sang kakak. Pandangan kasat mata mata setan menembus tertatih mencari Ani sekuat tenaga.
Terdengar kumandang suara adzan shubuh. Langit pagi membuka garis sisa kenangan, air hitam menggenangi tanah merah retak menguap udara sesak hampir saja memberi dampak keburukan sisa sihir yang terbuang.
Tidak ada hasil apapun, Tolu juga tidak melihat bekas makhluk yang dia tinggalkan pada kakaknya. Tolu enggan beranjak dari tempat itu, dia masih sibuk merafal mantra menyebarkan para jin dan makhluk utusannya untuk tetap mencari Ani. Togar berdiri di depannya , wajah pucat fasih keriput bibirnya dengan dahi yang mengerut. Tangannya sangat dingin menyentuh jemari tangan sang istri.
“Aku akan kembali di pertengahan siang, biar nanti si mbok menemanimu” ucap Togar.
...----------------...
Pria yang masih sangat mengkhawatirkan istrinya itu merasa tidak tenang. Dia memutar haluan berjalan memasuki area pepohonan mencari Tolu. Penglihatan di sisi arah barat ada jejak kaki terlihat membentuk tanah berlubang. Togar menjatuhkan bekas jejak kaki itu, tanahnya berlendir sontak tangannya di usap ke dedaunan lalu pergi. Dia meneruskan langkah ke sisi kiri, suara berisik dari salah satu pohon yang ranting dan daunnya berguguran.
Saat dia mendongakkan kepala, ada Tolu yang sedang berdiri di bagian dahan tertinggi. Rambut acak-acakan, tanduk membentuk siku bengkok panjang begitu lancip. Tubuhnya juga sangat berbeda dari biasanya, setengah mati Togar menahan rasa takut keanehan sang istri merobek kulitnya sendiri. Darah hitam mengalir, menetes jatuh mengenai dahinya, Menyadari ada Togar disana. Tolu melompat mengeluarkan suara meringkik. Dia memuntahkan lendir ke tangan Togar, sosok itu menghilang sesaat kedatangan wujud Tolu yang asli.
__ADS_1
“Argghh!” jerit Togar tidak kuat menahan rasa takut.
Tolu menepuk pundaknya sebanyak tiga kali, dia menggiring langkah Togar duduk di bekas tumbangan batang pohon besar yang kering. Sesaat berlalu, Togar perlahan normal kembali tersadar ada Tolu di sampingnya. Dia memeluk erat, ketakutannya melihat sosok sang istri berubah menjadi setan yang mengerikan.
“Sayang, sungguh jauh di dalam lubuk hati ku tidak menginginkan kau berubah menjadi yang lain” ucap Togar.
“Apa maksud mu? Aku baru saja tiba,” jawabnya mendorong tubuh Togar sangat kuat.
Pencarian tetap berlalu, Tolu menghentikan membaca mantra lalu berlari ke balik pepohonan. Usia kehamilannya yang sudah menduduki tri semester pertama, dia melupakan kewajiban bagi sang ibu untuk memberi makan janin yang di perutnya itu.
Tiba-tiba daun kering bertiup menggulung membentuk sosok makhluk tinggi besar mendekati berjongkok di depannya. Sosok salah satu penunggu dedemit pepohonan pinus rimbun. Dia seolah ingin melakukan transaksi ghaib dengannya.
“Apa yang kau inginkan” ucap Tolu sambil terus memuntahkan cairan putih dari mulutnya.
“Hahah, hahah.”
Gema tawa makhluk pengganggu itu semakin keras. Tolu mengusap bekas muntahan di mulutnya, dia bersiap menyerang makhluk itu tapi terlihat sosok tersebut malah berlutut semakin mendekatinya.
“Inang, aku akan menjadi pengikut mu yang setia. Mengabulkan semua yang kau inginkan asal kau mau memberikan anak laki-laki mu itu pada ku” ucap makhluk tidak berwujud itu.
Rintik hujan membasahi dedaunan yang di bentuk makhluk halus menyerupai wujud aslinya. Tolu mengabaikan perkataan makhluk itu, perutnya kembali bergejolak hebat dan rasa sakit di sekujur badan.
__ADS_1
Langkah perlahan memegang setiap batang pohon, dia sudah setengah melayang akibat kehabisan energi mengerahkan pasukan ghaib mencari Ani di sela menjaga dari gangguan yang menghantam dirinya. Di tengah hujan deras, Tolu merengkuhkan tubuh, dia tidak sadarkan diri tapi kodam kuat yang dia miliki membuat dia tetap mengetahui hal apapun yang terjadi dengan dirinya sendiri.