Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Mengincar anak si dukun sakti


__ADS_3

Melajukan kendaraan ke pasar tradisional, membeli kelengkapan sesajian. Beberapa orang terpercaya membawa beberapa ekor kambing dan tujuh ekor kerbau setiap tahunnya. Setelah pembayaran Tolu menunggu mereka di pintu masuk hutan. Hewan-hewan itu di turunkan lalu di ikat pada pohon. Dia menggiring memasuki hutan menggunakan ilmu setan agar para binatang tunduk mengikutinya.


Sampai pada kaki bukit memasuki gua, kedatangannya di sambut para penghuni dengan deru angin dan menggulung dedaunan kering menerpa tubuhnya. Tolu menyusun semua sesajian sedetail mungkin, dia sudha menyiapkan pisau besar untuk menebas leher para hewan yang di sembelih untuk di persembahkan kepada raja siluman.


“Ahahah, hahahah!” tawa sosok makhluk itu bahagia mendapatkan apa yang dia inginkan.


“Kau hanya perlu tau, semua dampak akibat dan rantai hitam ini pada cucu buyut mu” ucap makhluk tersebut.


...----------------...


Sadam pergi bersama teman-temannya menuju ke puncak luar tepatnya di luar kota A. Di dalam perjalanan mereka menghidupkan music sekeras-kerasnya bersama gelak tawa dan bahasa tidak senonoh saling melemparkan candaan. Mira dan Ita saling berpandangan lalu memperhatikan tingkah Sadam yang berbeda.


Sementara Afif dan Toyo masih saling bersahutan menggunakan kata baru yang mereka pikir adalah hal konyol belaka.


Sesampainya di pertigaan jalan, mereka melihat petunjuk bahwa roda empat tidak bisa masuk ke dalam wilayah tersebut.


Mereka pun memutuskan membawa masing-masing tas mereka keluar dari mobil menuju kaki puncak. Rasa hawa merinding Mira menoleh ke belakang, dia merasa ada bayangan hitam mengikuti. Sampai lah pada pertengahan jalan, sisi tebing curam akibat rintik hujan mengakibatkan jalan berlumpur.


“Teman-teman sebaiknya kita balik ke posko dan minta pemandu jalan sebagai petunjuk arah” ucap Afif.


“Bro jangan cemen dong, kita udah sejauh ini dan mau balik lagi gitu? Kamu aja sendiri sana!” seru Toyo meneruskan langkahnya.


“Kita terus aja gais! Aku udah nggak sabar buka minuman kesukaan kita!” kata Sadam berjalan mengikuti langkah Toyo.


“Kalian bisa dewasa sikit nggak sih? Kalau kita teruskan perjalanan ini pasti akan tersesat. Dari tadi petunjuk arahnya tidak terlihat sama sekali! Sebaiknya kita dengarkan kata Afif!” ucap Mira.

__ADS_1


“Hei Mira, jangan karena si Afif itu cowok kamu jadi kamu belain dia ya!” bentak Toyo.


“Sudah jangan ribut! Kamu nggak boleh gitu beby! Aku setuju kok dengan mereka” ucap Ita memukul pundak Toyo.


Adu otot tegang itu tetap tidak menghentikan langkah mereka untuk terus menaiki puncak. Hingga salah satu tangan panjang meraih kaki Sadam membuatnya tergelincir masuk ke dalam jurang. Ketika akan terjatuh, dia berusaha meraih benda apapun yang bisa membantu dirinya tergantung. Semua teman-temannya berteriak memanggil namanya dari permukaan.


“Sadam!”


“Sadam jawab panggilan kami!"


“Sadam!”


Sadam masih mencari posisi yang tepat untuk meraih akar pohon yang kuat atas bantuan jin merah yang sudah menyatu di tubuhnya. Dia menjawab panggilan mereka, lengan kanannya terluka. Aroma tetesan darah anak si dukun membuat para penghuni ghaib di sekitar berseru menggema suara aneh memekik telinga. Banyak mata setan yang menyaksikan kehadirannya, ada pula yang mengintai berharap bisa masuk ke dalam tubuh darah pemilik ilmu hitam terganas dan tersakti itu.


“Sadam! Raih tanganku!” salah satu makhluk berbulu bertubuh besar menyorot mata merah mengulurkan tangan.


“Argghh!” jerit Sadam.


Jin merah mengeluarkan tanduk, dia mengusir semua gangguan mengerang di dalam tubuhnya. Akan tetapi karena aroma darah yang menetes itu tercium seolah bersahutan menyerukan panggilan makhluk halus lain yang mengincarnya. Jin merah membantu Sadam segera naik ke atas permukaan, darah yang menetes terbuang itu di jilat oleh makhluk halus tadi.


“Sadam!”


Jin merah di dalam tubuh Sadam mengikuti suara teriakan teman-temannya hingga dia melihat sorot lampu senter di atasnya. Dia di bantu naik dengan rasa was-was ke empat temannya itu memeriksa smeua luka pada tubuhnya. Hanya terlihat luka lebar pada lengan saja, Mira membuka syal miliknya lalu mengikat kuat luka di lengannya. Hal itu membuat Afif melengos sedikit jealous manyum melihat keduanya yang berdekatan.


“Pandangan mata Sadam kok jadi beda sama cewe aku ya! Ah tapi Sadam tidak seperti, dia bukan pagar makan tanaman” gumam Afif.

__ADS_1


Sadam tersenyum kepada Mira, dia mengusap rambutnya yang panjang tepat di depan Afif lalu meraih bantuannya untuk berjalan. Afif ikut membantu, keduanya berada di sisi kanan dan kiri mencari arah jalan. Ujung puncak belum terlihat juga, malam semakin larut bersama hujan deras. Mereka hanya mendirikan dua tenda darurat.


Pada malam itu ketiga pria sedang mabuk-mabukan di depan tenda bermandikan air hujan. Minuman yang di maksud oleh Sadam adalah minuman beralkohol yang tidak pernah tidak pernah dia teguk seumur hidup kini dia nikmati seperti minuman segar melegakan dahaga.


“Sadam! Tidak biasanya kau suka minuman keras ini. Apakah kau sudah menjadi anak nakal? Akan ku adukan kau dengan ibu mu. Ahahah” ucap Toyo.


“Ya kau benar, dia sudah jadi anak yang nakal dan suka terjatuh! Ahahahh” tawa Afif.


“Ahahah, aku Sadam si anak inang Tolu. Dukun terhebat!”


Perkataan Sadam pada malam itu teringat jelas oleh kedua temannya meski dalam kondisi mabuk. Pagi menjelang ketiga pria itu berada di bawah pohon dengan baju yang terbuka. Ita dan Mira membuka penutup tenda langsung menjerit histeris.


“Argghh!”


“Siapa yang mengganggu?” mata Toyo terbuka membelalak.


Kedua wanita itu menutup wajah berbalik arah lalu pergi menjauh. Toyo mengurungkan niat mengejar Karena menyadari baju dan celana jeansnya yang terlepas. Dia membangunkan Sadam dan Afif, lalu secepatnya memakai pakaian mencari Ita.


“Gila mereka!” ucap Mira berhenti di salah satu pohon dekat bebatuan.


Dia berpikir ada ita yang berdiri di sampingnya, namun tidak ada jawaban yang terdengar. Saat menoleh, Mira melihat sosok baju putih melepaskan kedua bola matanya sambil menangis tersedu-sedu. Dia terkejut berlari meminta tolong, Ita mendengar teriakannya namun tidak melihat kehadiran Mira walau dia sudah mengikuti arah suara tersebut.


“Mir, kamu dimana?” teriaknya.


Suara hilang terbawa angin, sepanjang mengikuti suara tadi Ita memberi tanda jalan sehingga dia bisa kembali ke tenda. Dia memberitahu pada yang lain bahwa Mira menghilang saat berlari menjauh dari tenda, Afif dan Sadam panik mencari berjalan ke arah yang berbeda.

__ADS_1


“Kalian berdua jangan sampai tersesat! Beri tanda jalan agar bisa kembali! Kita harus segera menuju puncak sebelum petang kembali!” teriak Toyo.


__ADS_2