Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Dendam kuntilanak


__ADS_3

Semua persiapan sudah matang, di pinggir sungai semua orang berkumpul untuk melakukan ritual. Ada bisikan ghaib yang di terima oleh Tolu, Sosok penunggu yang berada di kaki bukit mengatakan sesuatu hal yang menyulitkan dirinya. Ini tentang pergantian sebab dan akibat, sesuatu yang di lakukan dengan menggunakan cara sihir di tengah-tengah masa pensucian sakral pada diri sendiri akan mendatangkan hal yang menyalahi nasibnya.


“Inang, apakah kau sudah siap mendapatkan segala karma di tengah masa hari yang harus engkau suci kan?”


Gema suara sosok ghaib di menampakkan wujud di alam lain yang hanya dia yang bisa melihatnya sendiri.


Tolu hanya mengangguk saat dia memejamkan matanya, dia melanjutkan merafalkan mantra. Bu Diah sudah memakai baju hitam tanpa alas kaki. Tolu meminta mereka untuk mengikatnya, sesajian dan segala keperluan sudah di siapkan terlihat mengerikan karena ada tumpukan hati hewan mentah. Bi Minah yang berada di belakang bu Diah merasakan ada sosok yang berada di sampingnya. Sekujur bulu kuduknya merinding dan merasakan ada tangan yang sedang menyentuh pundaknya.


“Non” ucap bi Mina pelan.


Tolu melihat sosok kuntilanak liar dan susah di kendalikan itu mulai melakukan segala bentuk serangan ghaib. Tolu menyiram tubuh bu Diah yang kembali kejang-kejang lalu menoleh ke arah Semi.


“Sem, sosok kuntilanak ini sangat kuat. Dia susah sekali di kurung atau dia segel karena dendamnya begitu besar akan perbuatan ayah mu dahulu. Kau harus memilih antara diri mu atau ibu mu yang akan di bawa pergi olehnya” ucap Tolu.


Tidak ada anak di dunia ini yang rela mengorbankan ibunya demi keselamatan dan panjang umur pada diri sendiri. Dia memilih mengorbankan dirinya, sadar akan setiap hari yang dia jalani penuh dengan gangguan dan nyawa bagai di ujung tanduk. Terlebih lagi sepeninggal ayahnya, sosok kuntilanak itu lebih sering menampakkan wujud dan merasuki tubuh ibunya. Sempat terlintas di pikirannya rasa kecewa akan penyampaian Tolu yang harus merelakan salah satu diantara mereka. Tapi setelah mengilas balik kejadian di masa lalu adalah sebuah karma buruk yang harus di tanggung setelah kelahirannya yang merenggut dua orang jiwa sekaligus oleh pak Arnold.


“Ini bukan tentang Tolu yang tidak bisa menyelamatkan kami, tapi tentang karma keluarga ku. Aku sangat berterimakasih dia mau membantuku dan ibu ku. Sekarang dia juga masih berperang melawan sosok kuntilanak itu. Jika saja dia tidak datang mungkin kami berdua yang akan menjadi korbannya” gumam Semi.


“Tolu, tolong selamatkan ibu ku. Aku tidak sabar melihat ibu ku sembuh dan kembali berjalan” ucap Semi.


“Semi, aku akan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan kalian berdua” ucap Tolu.

__ADS_1


“Kini aku tidak berharap apapun, hanya ingin ibuku selamat dan lepas dari belenggu ini” ujar Semi mengalihkan pandangan ke arah ibunya.


Tolu yang melihat jari-jari dan kuku Semi semakin panjang, serta ada urat berwarna hitam yang menonjol di wajahnya. Dia dalam alam sadar dia tampak masih bisa mengendalikan dirinya dan melawan sosok lain yang bersarang di tubuhnya. Tolu melanjutkan mantra, dia memandikan tubuh bu Diah dengan air sungai. Setelah itu wujud kuntilanak yang merasuki bu Diah seutuhnya berubah wujud di tubuhnya.


“Hihih..Hihihi” tanya nyaring menggema di pertengahan malam.


Tolu mengginang lalu menyemburkan bekas kunyahan di dalam wadah yang berisi tumpuhan hati mentah. Dia memasukkan satu persatu ke mulut kuntilanak itu, begitu lahapnya sosok ganas tersebut menghabiskan semua suapan hati yang di berikan oleh Tolu. Berselang beberapa lam kemudian, sosok kuntilanak keluar ddari tubuh bu Diah dengan jeritan melengking masuk ke dalam sungai. Seketika itupun dia tidak sadarkan diri.


Di sisi lain, Semi memuntahkan darah kental berwarna hitam, wajahnya setengah tua berjalan mendorong Tolu sampai lebih mendekat ke sungai. Pak Kuma berlari menghalanginya tapi Semi memukul dan terus mendorong Tolu.


“Cepat bawa bu Diah pergi!” teriak Tolu kepada pak Kuma dan bi Minah.


“Cepat bawa bu Diah pergi!” teriak Tolu kepada pak Kuma dan bi Minah.


Byur. (Tolu masuk ke sungai yang alirannya sangat deras)


“Tolu!” teriak Togar dari kejauhan.


Tanpa berpikiran panjang dia melompat ke dalam sungai mencari lebih dalam dan meraih tubuh Tolu terseret aliran yang hampir menewaskannya. Di dalam air, Tolu tetap berusaha untuk membuka mata, dia memeluk tubuh Togar lalu mengucapkan mantra pengikat kekuatan yang dia miliki agar Togar tidak sampai tersentuh oleh sosok kuntilanak yang masih belum terima di kunci oleh Tolu di dalam sungai. Togar membawa Tolu ke permukaaan, dia mengusap wajah gadis itu lalu memeluk sangat erat.


“Berjanjilah pada ku mulai hari ini jangan pergi jauh dari ku lagi” ucap Togar.

__ADS_1


Pria itu berhasil pergi setelah perdebatan panjang dan mendapat tumpahan amarah ayahnya. Apapun akan dia lakukan asal bisa menjadi pendamping wanita yang dia cinta. Semua situasi mereda, Semi yang sudah sadar pun mengucapkan ribuan terimakasih kepada Tolu dan Togar.


“Baiklah aku akan membawa Tolu pulang” ucap Togar melepas dengan jabatan tangan.


Di perjalanan pulang, Tolu merasa sekujur tubuhnya terasa sangat sakit dan begitu lemas. Hampir saja pasangan yang akan melangsungkan pernikahan itu mati mengenaskan setelah tertabrak oleh kendaraan lain yang melintas kencang di tengah jalan raya. Suara benturan yang sangat keras, kecelakaan lalu lintas.


Togar dan Tolu di larikan di rumah sakit dengan luka di kepala mereka. Inilah sengkolo yang mereka dapatkan setelah melanggar hari sakral untuk tidak pergi dan melakukan perjalanan jauh. Meskipun mempunyai kedudukan ilmu hitam yang tinggi, Tolu tidak bisa merubah takdir yang telah di gariskan.


Ruang unit gawat darurat, dua kantung darah dan infus menggantung di sisi kanan dan kiri. Tolu yang paling sekarat dengan detak jantung yang sangat lemah.


“Tolu! Togar!” teriak Ani.


“Sus, biarkan aku masuk melihat keadaan adik ku!” ucap Ani sangat panik dan gelisah.


“Maaf bu, anda tidak boleh mengganggu proses kerja dokter” jawab suster yang menghalangi di pintu.


Ani menangis sejadi-jadinya, dia menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga adik satu-satunya yang dia miliki. Tangisnya terhenti ketika melihat langkah kaki pak Bram berdiri tepat di hadapannya.


“Ani, biasa kah kau batalkan pernikahan ini? mereka sudah terkenal sengkolo dan musibah yang mereka cari sendiri di tengah hari yang sakral. Meskipun melangsungkan pernikahan, bapak khawatir keduanya akan mengalami kesialan” ucap pak Bram sambil menahan tangisnya.


“Tuan, apapun yang terjadi sepertinya mereka tidak akan membatalkan pernikahan. Kita harus pasrah dan berdp’a kepada sang Khalik agar mereka di lindungi-Nya. Semua keputusan ini di tangan adik ku” jawab Ani.

__ADS_1


__ADS_2