
Satu persatu Tolu mencoba pakaian yang di pilihkan oleh Togar, dia berbalik dan masuk kembali ke ruang ganti. Togar berkali-kali tersenyum dengan dua jempol yang bertengger ke arahnya.
“Dia wanita ku, bidadari tercantik yang ku miliki” gumam Togar.
Ketika Tolu berganti pakaian dengan baju gaun kuning yang bersulam bunga dan manik-manik terlihat wajah Togar tanpa henti menatapnya. Tolu merubah pandangan wajah menyeramkan melihat sosok makhluk anak kecil berwajah tua yang memakai celana putih tanpa baju itu merogoh kantung celana Togar. Saat mengetahui bahwa Tolu melihatnya. Makhluk itu pun segera berlari terbirit-birit ketakutan.
“Ada apa dengan mu sayang? Apakah kau kurang sehat?” tanya Togar.
“Tidak apa-apa. Jadi, baju mana yang akan aku ambil?” tanya Tolu.
“Semuanya” jawab Togar singkat lalu mengangkat semua pakaian di atas meja kasir.
Tolu melirik cincin yang di kenakan Togar, aura ilmu di dalamnya begitu melekat seperti sebuah pagar pembatas.
__ADS_1
“Aku tidak tau kau mendapatkan dari mana cincin itu, aku hanya memastikan asalkan benda itu bisa sedikit melindungi mu dari gangguan jahat” gumam Tolu.
Selesai dari kasir, Togar menggandeng tangan Tolu lalu menuntunnya menuruni escalator, wanita itu sangat canggung menggunakan tangga berjalan. Togar memperhatikan setiap langkah dan memastikan supaya dia tidak sampai terjatuh. Ketika melewati toko jam, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“Togar! Ini aku Semi! Wah cewek bro?” ucapnya.
Mata Tolu melotot mendengar ucapan pria itu, dia mencubit tangan Togar bergerak hendak meninggalkannya.
“Tolu, kenalin ini Semi temen kuliah aku dulu di luar pulau” kata Togar.
“Oh maaf aku tidak tau. Cantik seperti yang selalu Togar katakan pada ku sepanjang waktu kami di kampus dahulu” ucap Semi.
Tanpa sadar cubitan Tolu tadi adalah sebuah isyarat akan rasa cemburunya saat Semi mengatakan kata wanita baru. Hal itu membuat Togar sangat senang bukan kepayang. Mereka bertiga singgah di salah satu caffe dan memesan minuman. Tiga cangkir kopi dengan tiga wadah yang berisi dessert. Tolu hanya meneguk kopi yang di sediakan tanpa menyentuh sedikitpun makanan itu. Kemudian dia menatap makhluk yang berada di samping Semi, sosok kuntilanak yang membalas dengan tatapan liar seolah ingin memangsanya.
__ADS_1
“Semi, apakah kau sering mendapat gangguan makhluk halus?” tanya Tolu.
Semi tersedak dessert, matanya melotot menekan bagian rahangnya. Togar tampak panik membantu menepuk pundaknya dan meminta dia meneguk minuman sampai habis. Setelah dia kembali tenang, Semi menggeser posisi duduk sedikit mendekati Tolu.
“Hei, jaga jarak dengan calon istri ku!” ucap Togar mengeraskan suara.
“Tolong sebentar saja beri aku kesempatan, aku ingin mengatakan sesuatu dengannya” Semi memohon di depan mereka.
“Tidak sampai aku duduk lebih dengan dengan wanita ku.” Togar membuat jarak pembatas dan duduk di samping Tolu.
Satu tahun lalu
“Hihih, hihih” tawa ibu Semi menggema di setiap ruangan.
__ADS_1
Mereka tinggal di rumah peninggalan almarhum kakek di wilayah bagian utara bersebelahan dengan sungai Mahakam. Rumah tua yang sudah di renovasi menjadi lantai tiga itu berubah menjadi angker setelah sepeninggal kakek mereka. Semi hanya tinggal bersama ibunya, dia menempuh perjalanan selama dua jam untuk pergi ke kantor. Setiap tengah malam, ibunya berubah mengerikan dan suka melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran. Kadang pula rumah itu beraroma melati, Semi sering melihat kuntilanak yang menakutkan mengganggunya.
“Tolu, katakan apakah kuntilanak itu mengikuti ku?” tanya Semi menyelidik.