
Terlelap angan memicu kepalsuan. Sebab sinar jingga telah hilang. Api tetap menyala dan kebencian setiap mata setan menghinggapi rasa ketidaksukaan penganut setan terkutuk menjadi satu dalam manusia yang kufur. Hal lain mencabik kerisauan sesak sukar meresap ke tulang sumsum aliran darah di jiwa. Lubang hitam dan pintu alam lain semakin terbuka tanpa terkunci lagi.
Suara aneh semakin keras ketika langkah kakinya mendekati bungkusan besar. Sadam juga ikut bergerak dan merengek tanpa henti di dalam gendongan.
“Sayang, ayah akan memberikan mu pada ibu, sebelumnya mari temani ayah melihat isi bungkusan ini” ucap Togar.
“Togar, jangan kau bawa Sadam kesana, jauhkan dia dari bungkusan itu” ucap Tolu dari depan pintu.
Dia berlari menuju bungkusan, membawanya pergi dari arah pintu belakang dan menyingkirkan para makhluk yang dari tadi sibuk menikmati darah dari kepala kambing putih yang menetes. Dia memasukkan bungkusan ke dalam ruangan pribadinya. Meletakkan satu-persatu pada wadah besar kemudian menyiram dengan air bunga ritual. Merasakan jin merah mulai tidak bisa di kendalikan dan juga nyawa suaminya yang mulai terancam. Dia menggunakan segala cara untuk melindungi agar tidak sampai terulang kembali.
“Wahai inang, engkau harus tau bagaimana kau bisa mendapatkan semua kekuatan itu. Semua sebab akibat yang terjadi adalah bertujuan agar Togar tidak menjadi manusia setan!” bisik salah satu wanita yang memakai pakaian mirip dengannya.
Di dalam ritual ayam cemani dan kepala kambing, sosok yang sedang melakukan interaksi dengannya itu seolah menyampaikan hal yang tidak dia ketahui di alam ghaib. Salah satu penjaga dirinya yang memberikan suatu gambaran mengenai hal yang di alami Togar dan Sadam. Pertama-tama tampak sosok itu membicarakan Togar kepadanya.
“Sampaikanlah apapun yang tidak aku ketahui” ucap Tolu.
“Ya, suami mu itu telah meminum tumpahan darah setan. Seharusnya kau bersyukur bahwa raja jin telah merasuki mu agar meneguk darah setan itu kembali ke asalnya” gema suara makhluk tersebut.
“Aku masih belum mengerti, raja setan itu tidak memberitahu ku!” ucap Tolu.
“Mengenai anak mu, sebaiknya kau harus berhati-hati dalam menjaganya. Jika tidak maka seumur hidup mu akan di penuhi rasa penyesalan.”
__ADS_1
Sosok itu menghilang membawa serpihan pasir menaburi meja ritualnya. Masih banyak hal yang ingin du tanyakan akan tetapi terlihat semua teka-teki hidupnya semakin membuat dia khawatir dan was-was.
“Apa maksud dari yang dia katakan?” gumamnya.
Selama satu jam dia menyelesaikan segala urusan ilmu hitam dan pagar penjaga keluarganya. Dia membersihkan diri lalu mempercepat gerakan untuk mengurus Sadam. Matahari telah tergelincir, malam membawa sejuta hal fenomena ghaib terutama sosok kepala putung yang sedang bersembunyi di bali pepohonan area belakang rumah. Di atas kasur sedang menatap Sadam, dia merasakan sosok lain hadir di sekitar rumahnya.
“Sayang, besok akan pergi ke luar kota. JIka terjadi sesuatu segera hubungi aku dan jangan lupa besok baby sister akan datang di bawa oleh Tono. Kesehatan si mbok sudah membaik, dia akan bekerja kembali lagi disini” ucap Togar.
Baru saja dia menerima pesan masuk dari layar ponselnya menerima berita si mbok. Pekerja yang selalu mengabdikan diri meski usia telah lanjut seolah tidak mau melepaskan pekerjaan yang setiap hari bergelut kesah dengan gangguan ghaib.
“Aku akan segera menghubungi mu. Jika kau pulang nanti, bawakan aku ayam cemani hitam dan seekor kambing jantan hitam” kata Tolu.
“Apapun yang engkau minta maka aku akan menuruti” ucap Togar.
“Maaf non, saya ingin menyampaikan bahwa makan makan sudah siap” ucap bi Tuti.
“Ya mbok” jawab Tolu singkat.
“Ayo sayang, sini biar Sadam aku saja yang gendong” ucap Togar.
Berjalan bersama menuruni anak tangga, bayangan firasat Tolu kacau merasakan sosok kepala putung itu akan mengganggu. Dia mengucapkan mantra di dalam hati, dari balik kaca jendela terlihat kepala terbang sangat cepat. Dendam tersemat tidak berujung, arwah dukun Siriah mengincar darah musuh sampai semua yang dia inginkan mati. Ketika mereka duduk di ruang makan, meja sudah tersaji hidangan makan malam lengkap dengan ayam setengah sesuai kesukaan Tolu. Akan tetapi, semuanya di kagetkan suara jeritan Ani di dapur hingga suara pecahan piring tanpa henti terjatuh di lantai.
__ADS_1
“Tunggu disini bersama Sadam” ucap Tolu berlari.
“Bi, tolong jaga Sadam. Aku mau menyusul Tolu” ucap Togar memindahkan Sadam lalu menyusul ke dapur.
Tempat itu penuh pecahan piring, Tina berjongkok menutup telinganya rapat-rapat. Tubuhnya menggigil ketakutan, menyadari sang majikan melihatnya maka dia pun menunjuk ke arah jendela. Sesuai hal yang di rasakan oleh Tolu tadi, kepala putung mulai mengganggu keluarganya. Suara aneh dari arah luar menghilang, mata Tolu memerah dia berjalan keluar rumah di ikuti Togar dari belakang.
“Togar ini urusan ku dengan makhluk itu. Kau masuk ke dalam dan jaga Sadam untuk ku” kata Tolu.
“Tidak, bagaimana jika terjadi sesuatu pada mu?”
“Aku tidak akan mati karena makhluk itu. Cepat! Waktu ku tidak banyak untuk menahannya!” desak Tolu menekan nada tinggi.
Togar menuruti perkataannya, dia merasa menjadi seorang pria yang sedang berlindung di bawah lengan sang istri. Hatinya yang masih tidak menentu itu tetap melihat apapun yang di lakukan sang istri dari balik kaca jendela. Kakinya sedikit gemetar karena melihat Tolu berubah menjadi sosok lain yang pernah dia jumpai.
Ciri khas wanita memakai pakaian adat, sanggul yang semula rapi kini terlepas dengan rambut terurai acak-acakan. Kuku lebih panjang menjuntai hingga ke tanah, di hadapan Tolu telah melayang kepala putung terlihat organ tubuh menetes dan rahan gigi taring terbuka lebar. Togar bergerak ingin membuka pintu rumah, akan tetapi tiba-tiba pintu itu terkunci dari luar.
Brugh, brugh ( dia mencoba membukanya).
Di luar sana, wanita itu berkelahi dengan si kepala putung. Setengah tubuh dirinya di bantu para penjaga dan makhluk raja jin sehingga tidak sedikitpun kulitnya terkoyak atau terluka meski terkena cabikan si kepala putung. Beberapa saat terlihat kepala putung lain terbang mengitarinya, semula dia berpikir mempunyai dua musuh ilmu keabadian. Ternyata kepala putung yang baru hadir itu menyeret sosok arwah kepala putung dukun Siriah pergi meninggalkannya.
“Opung parman? Itukah kau?” gumam Tolu.
__ADS_1
Suara aneh bercampur jeritan menghilang di udara, Tolu kembali menjadi dirinya kembali dan para penjaga sosok-sosok lain keluar dari tubuhnya.
“Mauliate nunga manolong hu. Tolong radot tondong dohot jabuhu asa ndang mulak hajadian on. (Terimakasih telah menolong ku. Tolong jaga keluarga dan rumah ku agar tidak kembali kejadian ini).