
Banyak pantangan dan hal-hal yang tidak boleh di langgar selama bulan suro, terutama di larang menggelar acara pesta. Bulan panas ini harus di jadikan sebagai tirakat dan ibadah lebih mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Kuasa. Hal ganjil, musibah dan alamat buruk akan menimpa bagi siapa saja yang melanggarnya.
Tidak dengan jalan pikiran Tohfa yang terburu-buru mengambil hari membawa rombongan keluarganya pergi ke rumahnya. Kemarin orang tuanya sempat bersikeras menentang keinginan anaknya untuk melamar Ani. Tapi setelah dia memberi keyakinan pada mereka, pada hari ini Tohfa menunjukkan keseriusan untuk Ani.
Sebuah mobil memasuki gerbang, pak Dadar buru-buru berlari memberitahukan pada mbok Heni kedatangan tamu tersebut. Sementara halaman belakang, Ani sedang bercocok tanam menata dan membuat taman mini dengan bebatuan yang di susun di dekat tanaman bunga mawar yang bermekaran. Tapi keanehan muncul merasakan ada sesuatu ganjil yang mengintai dirinya. Sosok tinggi hitam membayang tepat matahari di atas kepala. Batu berserakan, tubuhnya bagai tersiram angin membawa daun dan pasir mengguyur sangat kencang.
“Apa yang terjadi? Makhluk apa itu?” gumam Ani.
Dia terpaksa berhenti bercocok tangan. Kepalanya terasa sangat sakit di sela menahan sekujur tubuh menggigil bercampur panas. Si mbok yang datang langsung meraih tangannya, dia membantu Ani masuk ke dalam rumah.
“Non, apakah tamu yang datang sekarang si mbok minta mereka pulang?” tanya mbok Heni.
“Tamu siapa mbok?” sahut Ani.
“Pria berpeci yang rajin mengantar non pulang. Orang tuanya datang bersamanya, ada juga rombongan orang ikut di dalamnya” ucap mbok Heni.
Ani mengerutkan dahi, dia mengintip dari balik tirai melihat beberapa orang datang. Dia meminta agar si mbok Heni dan Mariam melayani tamu dengan baik dan meminta mereka untuk menunggu kedatangan Ani. Membersihkan diri, berhias dan memakai wewangian. Ani sudah siap menyambut tamu, kedatangan memasuki ruang tamu memberikan senyuman manis lalu duduk di samping Tohfa.
Perkampungan kaki bukit hitam, 3 Agustus 2021.
“Ani perkenalkan mereka adalah keluarga ku, ini ayah, ibu, paman, tante dan keponakan ku” ucap Thofa.
Satu persatu Ani berjabat tangan dengan mereka, terutama dengan kedua orang Tohfa ketika mencium punggung tangan keduanya ada rasa segan dan sedikit takut. Di dalam pikirannya masih belum mempercayai bahwa Tohfa datang membawa keluarga besarnya.
“Apa yang akan di lakukan mereka disini? Aku jadi sangat penasaran” gumam Ani.
__ADS_1
“Adik, mana kak Tolu dan bang Togar?” bisik Tohfa.
“Mereka sedang keluar, apakah ada hal serius yang mau di bicarakan?” tanya Ani.
“Lihatlah, aku mau melamarmu menjadi istri ku.”
Mendengar perkataan Togar membuat dia keringat dingin. Ani sudah sangat jauh berpikir tetang keseriusan. Lain hari, tidak mau menerima kenyataan karena benar-benar sudah terlanjur terkena ilmu hitam malah mendapatkan jodoh pemimpin akhirat. Ani menetapkan hati, dia harus mengesampingkan ego atau tidak mau menerima kenyataan .
Beberapa jam mereka menunggu kedatangan Tolu. Suasana disana begitu hening, Tolu dan Togar datang dari luar memberikan salam lalu berbincang mengenai hari dimana Togar dan keluarganya datang kembali untuk melamar Ani. Mendengar pemintaan begitu cepat di sela bulan Suro. Tolu melanggar bulan agustus di tahun ini adalah bulan sakral tanpa aja kemeriahan.
“Bagaimana pendapat kalian” tanya ayahnya Tofhu.
“Maaf sebesar-besarnya karena aku tidak menyetujui bulan yang di haramkan untuk menggelar pesta” ucap Tolu membahas dan berdebat sangat lama.
“Tidak ada namanya bulan pembawa keburukan” ucap pak Jagad.
“Aku sangat berterimakasih dan menghormati kedatangan Tohfa dan keluarganya. Tapi apakah acara lamaran ini bisa di tunda sampai bulan depan?” tanya Tolu.
“Ya benar, bapak dan ibu semoga dapat memakluminya. Kami mohon dengan sangat agar bisa menerima keputusan kami” kata Togar menimpali.
“Adik, tapi aku sudah menyetujuinya. Biarkan acara ini segera di langsungkan” ucap Ani.
Mendengar perkataan wanita itu, Tohfa berdiri dan tersenyum membungkukkan badan. Air muka masam Tolu menunjukkan tanda ketidaksetujuan. Dia ingin sekali menyela perkataan kakaknya tapi dia tidak ingin membuat suasana menjadi keruh. Di tengah pelepasan akan pilihan hidup tanpa terkena ilmu ghaib, Tolu menekan ujung baju lalu mengangguk setuju.
“Ya baiklah kakak, jika itu keputusan mu maka aku akan menyetujuinya juga. Bagaimana dengan mu bang?” tanya Tolu menoleh ke arah Togar.
__ADS_1
“Aku pun demikian, setuju dengan mu” sahut Togar.
“Alhamdulillah, terimakasih kak, bang.” Tofha membungkukkan badan dua kali ke arah mereka.
Kedua belah pihak mendiskusikan sinamot dan biaya pesta yang akan di langsungkan. Keluarga Tohfa mengatakan mahar dan seluruh biaya senilai dua ratus juta rupiah. Hari lamaran dan pernikahan di tetapkan dua minggu setelah pertemuan, Ani merasa sangat bahagia akan keseriusan Tohfa kepadanya.
Tanpa berpikir dampak buruk atau semua hal kejadian ghaib hitam di bulan suro. Dia memandang langit malam tanpa bintang, terdengar suara burung hantu bersahutan dan angin malam menerbangkan ranting pohon. Di dekapan wanita itu terdapat sebuah foto bu Mariti bersama pak Don. Air mata menetas, rasa rindu sosok ibu yang telah tiada tidak bisa terbendung.
“Ayah, ibu. Aku akan memiliki seorang pendamping hidup. Dua minggu lagi aku akan di persunting olehnya” gumam Ani.
“Kakak.”
Tolu berdiri di sampingnya. Adiknya bagai hantu bisa menembus dinding maupun hadir sewaktu-waktu. Kebiasaan itu tidak lagi mengejutkannya, Ani menggiring Tolu duduk di tepi kasur. Tolu memperhatikan wajah kakaknya yang setengah menghitam, kulit tubuhnya berwarna gosong. Menyadari semua itu adalah efek dari pelepasan mantra dan segala rantai ghaib menimbulkan kerusakan di tubuhnya.
“Kakak, seluruh tubuh mu gosong begini. Apakah engkau merasa kesakitan?” tanya Tolu.
“Tidak apa-apa. Ini sudah menjadi keputusan ku” jawab Ani.
“Tapi kak, apakah Tohfa akan menerimanya? Jika akhirnya dia menyakiti mu maka aku akan membunuhnya dengan sekali cekikan” ancam Tolu.
“Jangan, dia akan menjadi abang ipar mu yang sangat baik dan menyayangi ku” ucap Ani.
“Kakak, aku akan mengatakan pahit dan kenyataan ini. Kau akan menggelar acara pernikahan di bulan Suro, bulan yang di pantangkan mengadakan acara apapun menghindari kesialan di hidup. Kakak, tolong pikirkan sekali lagi” kata Tolu.
“Aku tidak akan menarik perkataan ku, do’akan saja semoga acara ini berjalan dengan lancar” jawab Ani.
__ADS_1
Di ruangan persemedian, Tolu meramu berbagai benda ritual yang di letakkan ke dalam kaleng hitam. Keringat bercucuran, mata setan menyala, setan yang bergentayangan berterbangan di ruangan. Tolu mempersiapkan pagar penjaga yang keta, dia menyadari pasti banyak serangan secara mendadak karena para musuh dan semua jenis dukun masih ingin beradu ilmu melawannya.