
“Sudah mau menjadi suaminya pun aku tetap tidak mengetahui nomor telepon istri ku. Huffhh!" gumam Togar.
Persiapan hari ini adalah menunggu dokter pribadi untuk mengganti perban di leher dan kepalanya. Dia masih ingat bagaimana Tolu memukulnya dengan gelas. Sangat keras, sampai dua belas jahitan. Seperti peringatan agar selamanya jangan pernah sembarangan atau mempermainkan hati wanita itu. Togar melirik bingkai foto kecil di atas nakas. Wajah ibu yang selalu ada di hatinya tidak pernah terlepas dari rasa rindu. Hari ini dia juga berniat mengajak Tolu untuk berziarah ke makam ibunya, dia meraih tusuk konde kesayangan peninggalan sang ibu dahulu untuk di berikan kepada wanita yang dia cinta.
Tok, tok.
“Permisi den, dokter sudah sedang menunggu di lantai bawah” ucap bi Tuti.
Pekerja yang seharusnya harus menikmati masa pensiunnya di umur yang tua itu kini di minta pak Bram untuk mengurus rumah kembali dengan di dampingi dua orang pekerja lainnya. Peran bi Tuti sudah memahami anggota keluarga dan setiap urusan rumah membuat pak Bram berat untuk mengijinkannya tidak bekerja kembali. Bi Tuti hanya di tugaskan untuk mengomando para pekerja lain dan menjaga rumah ketika mereka sedang pergi.
“Den.”
“Ya bi sebentar lagi saya turun” jawab Togar
...----------------...
__ADS_1
“Bagaimana tidur mu? Apakah nyenyak?” tanya pak Bram di ruang tamu bersama dokter Semi.
“Alhamdulillah nyenyak yah. Halo dok, apakah hari ini saya akan cabut jahitan?” Togar bersalaman lalu duduk di samping pak Bram.
“Coba saya periksa terlebih dahulu.”
Mereka berada di ruang khusus tamu, pak Bram yang sangat menyayangi anak laki-lakinya itu ikut menemaninya di dalam.
“Tuan, luka di kepala putra anda cepat sekali kering. Kemungkinan pelepasan benang ini menjadi sedikit sakit” ucap dokter Semi.
Luka di kepala dan leher Togar sangat cepat sekali pulih. Dia menyembunyikan sebab mengapa dia terluka meskipun berkali-kali sang ayah bertanya. Hanya ada bekas sayatan kecil pada lehernya. Dokter Semi memberikan resep obat kepada mereka lalu berpamitan untuk pulang. Pandangan matanya menangkap bayangan wanita di samping Togar, sosok makhluk mengerikan berpakaian hitam dengan leher bergerak miring menatap penuh amarah. Dia mengusap kepala Togar, ada tumpahan darah yang keluar dari rahangnya melumuri luka-luka di kepala Togar. Dokter Semi mempercepat langkah ketakutan meninggalkan mereka.
“Ada yang aneh dengan dokter itu!” gumam Bram.
“Ayah, aku ingin berpamitan pergi bersama Tolu ke makam ibu” ucap Togar.
__ADS_1
“Tunggu sebentar.”
Pak Bram menuju balkon mengambil salah satu pot bunga kecil yang berisi bunga kamboja bonsai. Dia memberikan pot bunga itu ke tangan Togar dan sebuah amplop coklat.
“Tolong tanam bunga ini di samping makam ibu mu dan berikan amplop ini kepada Tolu.”
Togar membuka isi amplop yang berisi lembaran uang. Alangkah terkejutnya dia melihat perubahan sikap sang ayah yang kini memperhatikan segala keperluan Tolu. Hampir saja Togar berkaca-kaca, dia langsung memeluk sang ayah dan tersenyum bahagia.
...----------------...
Hujan sudah berhenti, daun, ranting dan tanah yang basah membuat bekas jejak kaki. Pintu gerbang terbuka, pak Nanang sibuk mondar mandir menata taman bunga dan membersihkan rerumputan. Togar memasuki pintu, menyapa pekerja dengan ramah lalu menekan bel rumah. Sesekali dia memperhatikan penampilannya sendiri, dia tidak mau terlihat kurang sempurna di mata gadis yang dia cinta.
“Silahkan masuk tuan” ucap mbok Heni.
Sudah dua jam dia menunggu kehadiran Tolu, dengan sabar pria itu duduk sambil menghabiskan hidangan dan minuman di atas meja.
__ADS_1