Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Rampas


__ADS_3

Mengusap punggung tangan Tolu di sepanjang perjalanan, tangan kiri Togar bergerak menggapai tubuh Tolu perlahan meminta dia mendekat kepadanya. Tolu semula menolak mengeraskan tubuh perlahan melunturkan sedikit hatinya mau memeluk Togar. Sebab akibat seolah akan dia rasakan setelah mengabaikan persyaratan pada raja iblis di kaki bukit.


“Togar, jika suatu saat kau pergi. Maka aku akan mencari qorin mu dengan kekuatan ku” gumam Tolu.


...----------------...


Sisi hitam berlapis secuil ilmu putih yang tersisa. Tolu tidak terima dengan perlakukan Bangsal dan dua pria lainnya. Dia meniupkan sihir di udara untuk memberi pelajaran untuk mereka. Sementara rumah masih di renovasi, mereka tinggal di salah salah satu apartemen di pusat perkotaan. Lokasi tempat yang strategis itu sangat dekat pada tempat kerja Togar maupun Ani. Hari berlalu, si mbok yang sudah pulih kini sudah bisa pergi ke pasar tanpa harus berdua dengan Tolu. Meski hidup sudah berkecukupan, wanita itu tidak menghilangkan kebiasaan melakukan semua hal sendiri tanpa menganggap si mbok sebagai sosok pekerja pembantu rumah.


“Non, hari ini si mbok bisa melakukan semua pekerjaan sendiri. Non jangan repot-repot ikut ke pasar lagi” ucap si mbok.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Aku kesini karena mencari sesuatu” sahut Tolu.


Mereka berdua berjalan sambil melingak-linguk dagangan orang di pasar. Langkah terhenti di tempat dagangan bunga, seperti biasa Tolu memesan beberapa bungkus bunga dan bertanya pesanan daun sihir berserta isi menginang. Melanjutkan langkah ke penjualan ayam, dia meminta lima belas ekor ayam hitam yang sudah di pesan pula sejak kemarin untuk di antar menuju alamat rumah yang di berikan.


Saat menuju perjalanan pulang, Tolu berpisah dengan si mbok di tengah jalan. Pedagang ayam tadi dia minta mengantar ayam itu ke rumah Tolu yang berada di kampung. Terlihat rumah itu sudah Sembilan puluh Sembilan persen selesai di perbaiki. Dia menggali beberapa lubang di halaman rumah lalu memotong leher semua ayam. Darahnya di masukkan ke dalam tujuh lubang yang dia gali, mengucap mantra, menabur bunga dan menginang. Tolu mengubur darah ayam cemani kemudian menepuk tanah sebanyak tiga kali.


Senja tidak seindah jika tidak di pandang dari atas perbukitan, Tolu memejamkan mata setelah selesai bermeditasi dengan sosok penghuni gua. Dia menunggu hari dimana kekuatannya maksimal digunakan tanpa ada penghalang apapun. Dari kejauhan terlihat seorang pria membawa obor memanggil namanya.


Pria itu bagai anak ayam yang kehilangan induknya, ekspresi dan kegelisahan sangat terlihat. Dia mondar-mandir memanggil dan berkeliling hutan sampai malam tiba. Tolu tetap tidak memperlihatkan diri malah asik melihat tingkah Togar mencarinya. Saat terdengar benda terjatuh dan api padam, Tolu berlari menghampiri Togar sambil mengernyitkan dahi.

__ADS_1


“Kau tidak apa-apa?” tanya Tolu.


“Tidak, sebentar biar aku nyalakan lagi apinya” ucap Togar.


Dia menggenggam tangan Tolu, meminta berjalan di belakangnya. Para jin, siluman dan makhluk ghaib menyaksikan mereka berdua sesekali menampakkan wujud. Tolu menggunakan mata setan menghalangi gerakan sosok yang akan mengganggu Togar.


Setiba di rumah, mereka di sambut dengan kedatangan sosok pria berpakaian baju koko lengkap dengan peci hitam di kepalanya. Dia menjabat tangan kepada Togar dan meletakkan tangan di depan dada sebagai tanda rasa hormat tanpa menyentuh tangan Tolu.


“Assalamualaikum” ucap pria itu sopan.

__ADS_1


“Walaikumsalam” balas Togar hangat tersenyum sumringah memperhatikan penampilan pria itu dari atas sampai bawah.


__ADS_2