
Tubuhnya sudah menjadi mayat, kain hitam yang membungkus telah menghilang. Begitu pula Maman terbujur kaku memprihatinkan. Dadar tidak kuat menahan aroma busuk pada mayat keduanya, dia berlari menuju balik pohon untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
"Siapa mereka? kenapa bisa meninggal di rumah kita?" ucap Togar terkejut.
Tolu membalas dengan menggeleng kepala kemudian berpaling berjalan mencari Sadam. Dia berlari dengan cepat sampai membanting pintu.
"Oh, gelleng poso-poso baia hu holong!" bisik Tolu mengecup dahi Sadam.
...----------------...
Alam lain di rumah Tolu
Maman membuka mata, dia memperhatikan serpihan kaca yang menusuk tubuhnya. Satu persatu dia mencabutnya lalu berlari mencari si preman pasar.
"Gendut! dimana kau?" teriaknya masuk ke dalam rumah.
Suasana di dalam penuh kabut putih, aroma anyir berselubung nyanyian dan tawa suara kuntilanak. Sesekali suara gesekan kuku tajam pada anak tangga menampakkan wujud wanita memakai baju ciri khas daerah asing.
plak, plak. Langkah kecil sosok jin merah melompat menggigit lengannya.
"Arghh sakit!" jeritnya merontah berusaha melepaskan.
Tanpa sadar bahwa bekas gigitan mengeluarkan darah hitam dari tubuhnya. Ketika Maman sampai di ujung anak tangga, dia di hadapkan pada sosok genderuwo. Maman berlari merangkak, keringatnya mengeluarkan tetesan lendir sampai dia tersadar dan berhenti di sudut dinding.
"A_apa yang sudah terjadi pada ku?"
Sosok si wanita mengerikan mengulurkan tangan, suara gertakan tulang bergerak agar Maman mengikutinya.
"Arrghh! pergi!" teriaknya bangkit berlari masuk ke ruangan lain.
Ada si preman sedang memakai kain kafan hitam menyalakan mata merah menatapnya. Rahang membuka lebar, keluar hewan kecil sampai berjatuhan ke ubin.
"Hei gendut! sadarlah!" ucap Maman mengguncangkan tubuhnya.
__ADS_1
Si preman mencekik leher Maman, dari arah belakang tubuhnya di kunci oleh sosok makhluk hitam hingga di tarik menembus dinding. Lorong sempit, gelap dan lembab, Maman terjatuh di lubang raksasa. Di dalam sana kembali dia melihat si preman duduk meringkuk memeluk lututnya. Perlahan Maman menarik tangannya, wajahnya yang semula panik kini sedikit berseri melihat si preman yang tampak seperti biasanya.
"Maman? dimana aku?" tanya si preman tampak ling-lung.
"Ada banyak hal aneh disini. Aku dari tadi di kejar makhluk mengerikan. Ayo kita segera pergi dari tempat berhantu ini" ajak Maman membantu si preman berdiri.
Gerakan posisi berjaga, berjalan mengendap-endap hingga akhirnya mereka keluar melewati gerbang. Keduanya tidak lagi memikirkan barang curian yang semula menggebu untuk di curi. Tapi, saat mereka berlari sejauh mungkin tetap saja posisi mereka tidak berpindah dari tempat semula.
Nafas ngos-ngosan, si preman menjatuhkan diri di atas tanah. Maman menarik lengan di preman akan tetapi lelaki yang sudah tidak sanggup berlari itu seolah sudah pasrah.
"Cepat! " ucap Maman.
"Tidak, Aku tidak sanggup berjalan maupun berlari" ucap si preman.
Tanah berubah menjadi lumpur, teriakan suara wanita menggelegar dari dalam rumah. Maman memeluk si preman, mereka melanjutkan berlari menjauh. Di tengah perjalanan, keduanya terpisah. Maman menghentikan langkah berbalik arah mencari si preman.
"Gendut! dimana kau?" teriaknya.
Diantara selipan pepohonan, tampak si preman berdiri di bungkus kain hitam hanya memperlihatkan wajahnya yang sangat pucat.
Di hadapan sudah di hadang sosok wanita mengerikan berpakaian adat menjulurkan tangan hendak menariknya. Semakin kuat, rasa panas mencengkram lengannya. Dia di bawa masuk ke dalam ruangan persemedian Tolu. Di dalam sana melihat si gendut yang sudah tidak bernyawa.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" ucapnya bernada sangat lemah.
Dia di dorong makhluk tersebut mendekati jendela. Dari atas, Maman melihat dirinya sendiri yang sudah menjadi mayat dengan tubuh di penuhi serpihan kaca dan bersimbah darah.
Maman di bawa pergi oleh si makhluk wanita mengerikan, menyadari dirinya sudah tiada. Dia mengikuti langkah si makhluk wanita itu menembus alam lain di rumah Tolu.
"Maman! mau kemana kau? awas! ada hantu di depan mu!" teriak si preman.
Maman hanya menoleh sebentar melanjutkan lagi jejak mengikuti si makhluk tadi. Jin merah sudah memeluk dan mengisap tubuh si preman dari arah belakang. Hingga darahnya habis menjadi arwah penasaran penghuni baru di rumah itu.
"Aaarghh!! "
__ADS_1
...----------------...
Jasad kedua pria itu sudah di bawa pergi mobil ambulans. Garis polisi terpasang disana, para warga hanya saling berbisik mengeluarkan berbagai asumsi pendapat mengenai keganjilan kematian dua pria asing tersebut.
"Inilah dampak yang terjadi jika berani masuk ke dalam rumah ku dan mempunyai niat buruk" gumam Tolu.
Setelah keadaan kembali tenang, Tolu meminta Togar menemani Sadam. Dia masuk ke dalam ruangan khususnya dan mulai meramu persembahan dan sesajian. Banyak hal yang harus dia lakukan terutama mengurus Ani agar bisa kembali seperti semula. Terlebih lagi ganggu tanpa henti berusaha menghancurkan dirinya dan keluarga. Sosok dukun Tolu menjadi incaran adu kekuatan ilmu Hitam para dukun sakti.
Mimpi buruk Togar di sela menjaga bayi Sadam. Sosok ayah yang tertidur pulas itu bermimpi panjang melihat penampakan ganas yang ingin membunuhnya. Padahal sosok ayah yang teramat menyayangi anaknya itu sudah menahan rasa kantuk berlebihan. Sampai dia terlelap sementara Sadam membolangkan mata asik bermain dengan si jin merah.
Suara gerangan, rasa takut di alam bawah sadar, pria itu menghindari lompatan pocong yang mengejarnya. Semakin dekat hingga Togar tidak berkutik. Dia menumpahkan cairan darah kental tepat di rahang Togar. Rasa aneh bercampur mual, pria itu pingsan dengan keadaan sekujur otot yang tegang dan mengeras.
Meja ritual Tolu bergetar, dia merasakan keganjilan serta musibah kembali pada keluarga kecilnya.
"Ada apa dengan suami ku?" gumamnya berlari menuju kamar.
Sadam masih melayang di langit-langit kamar. Ketika melihat Tolu, jin merah perlahan menurunkan si bayi ke atas ranjang dengan ketakutan kemudian menghilang. Nyala mata setan Tolu melihat Togar yang terkena santet dari salah satu dukun sakti. Serangan santet hari ini semula di tuju untuk dirinya malah berpindah mengenai sang suami.
"Togar! kau harus bangun terlebih dahulu dari alam lain! pulang! ayo bangun!" bisik Tolu sambil membaca mantra.
Panik sekali, setengah jiwa di rasuki para perewangan serta begu di tambah raja jin penunggu kaki bukit. Tolu mengumpulkan seluruh kekuatan setan untuk menebus jiwa Togar.
Kepala kerbau masih segar di santap sebagai sesajian. Bunga-bunga bercampur darah ayam hitam di mandikan ke sekujur tubuh Togar. Tidak perduli ranjang itu kotor maupun lantainya. Sadam kecil terlihat kembali tertidur, untuk berjaga sang bayi maka Tolu menghembuskan rantai sihir mengikat dari serangan apapun.
Belum cukup cara untuk membangunkan Togar, terlihat setelah tubuh tersiram darah dan bunga malah keluar berbagai macam hewan melata dari mulutnya.
"Aku akan mengutuk dan membalas siapapun yang sudah menyakiti keluarga ku!" gumam Tolu mengambil hewan-hewan tersebut lalu memakannya.
...To be continued...
......................
__ADS_1
Note🌿Oh, gelleng poso-poso baia hu holong (Oh anak bayi laki-laki ku sayang)