Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Jelang cahaya padam


__ADS_3

Setengah tubuhnya sudah di isi dengan mantra, setiap hari hembusan energi di transfer aliran tanpa jeda dari Tolu. Pelindung, penjaga bahkan penawar dari segala racun sihir di udara tanpa sengaja terkena atau di layangkan dari para dukun dan orang-orang yang tidak menyukai mereka. Tubuh sudah di isi lingkaran pagar ilmu hitam, Ani tidak menyadari selama ini dari kejauhan atau sesekali hal gangguan mistis yang dia temui merupakan sosok penjaga yang di kirim dari Tolu untuk sesekali melihatnya.


Pada hari ini, setelah lepas dari pelet Sandro, kedekatan takdir mempertemukan dengan Tofha si pria muda yang sholeh dan rajin membasahi kulitnya dengan air wudhu. Pria itu sangat menghormati Ani. Dia mengarahkan Ani untuk lebih mendekatkan diri kepada sang Khalik. Dia yang ingin menjalani hubungan serius bahkan berniat untuk menjadi suami bagi Ani. Tapi, tidak semua hal yang di rencanakan manusia berjalan dengan mulus. Tepat hari ini, untuk pertama kali Ani melaksanakan sholat fardu shubuh, dia mengalami hal aneh sehingga ketakutan ingatan kembali terulang di masa lalu. Mengambil air wudhu, Ani merasakan rasa panas pada kulitnya, tubuh terasa terbakar seakan melempuh tersiram air panas.


“Aargghh!” teriak Ani kesakitan.


Kaki dan tangan kepanasan, ketika dia menghidupkan keran air di sebelahnya, air tersebut tidak terasa dingin atau apapun. Menjerit kesakitan di waktu dini hari, Ani sudah tidak kuat menahan panas itu pun berlari ke arah kolam renang yang terletak di belakang rumahnya.


Byur. Byur.


Ani melompat masuk ke air, di dalam air terlihat sosok makhluk mendekatinya. Dia berubah menjadi wujud segumpal jantung yang berdetak memaksa masuk ke dalam rongga mulut Ani.


“Gluk” bunyinya turun ke dalam perutnya. Ani keluar dari permukaan, dia merasakan tubuhnya tidak panah lagi. Tapi benda aneh sedang bergerak di dalam perutnya. Ani memukul-mukul perut dengan kuat, sampai dia memuntahkan beberapa gumpal darah berwarna hitam. Tidak sanggup menahan sakit serta rasa panas kembali menyiram kulit, dia tidak sadarkan diri di tepi kolam.


...----------------...


Setengah badan terasa panas melempuh. Sesekali mereka merangkak untuk berpindah posisi duduk. Mencari masalah dengan dukun sakti merupakan kesalahan fatal di hidup mereka. Kejadian membakar rumah dan menyiram tubuh Tolu dengan minyak lampu. Bangsal, Norman dan Parta menjalani hari bagai hidup segan mati tak mau. Parta adalah anak tunggal yang sangat di sayangi kedua orang tuanya, pria itu sudah di bawa ke segala tempat pengobatan ghaib dan medis. Tapi tetap saja penyakitnya semakin parah.


“Ini adalah kesalahan mu mencari masalah dengan dukun itu. Sekarang ayo kita minta maaf dan memintanya untuk menyembuhkan penyakit mu!” ucap pak Parmo.


“Tidak ayah, aku tidak mau meminta maaf pada wanita jahat itu” bantah Parta.


Parmo menampar anaknya, begitupun Trim mendorong Parta sampai dia terjatuh dari kursi roda.

__ADS_1


“Kami bersusah payah membesarkan mu, tapi kau merusak masa depan mu hanya karena pikiran dan hati mu yang sudah di isi dengan setan. Sekarang kau pilih untuk sembuh atau tetap berada di kursi roda ini?” ucap Sika penuh amarah.


Tidak pernah Sika bersikap kasar pada Parta, hari ini dia jauh di dalam hatinya menginginkan rasa melapangkan dada untuk meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Dia tidak mau anaknya menjadi lumpuh di tambah penyakit aneh yang menggerogoti tubuhnya.


“Tidak! Aku tidak mau!” teriak Parta merangkak menuju dapur.


Dia meraba atas meja mencari pisau, kerena kesusahan meraih susunan pisau dia bergerak membongkar lemari bagian bawah dekat rak piring. Rasa gatal menyerang penyakit aneh yang dia derita, Parta mencungkil dan menguliti dirinya sendiri, menyayat dan merobek paksa kulit. Di samping lemari piring, dia sibuk memotong dagingnya sendiri. Darah segar memenuhi lantai ubin, bau anyir mengundang burung gagak berterbangan masuk dari jendela.


Sika dan Parmo terkejut melihat Parta, Sika menjerit histeris sedangkan Parmo merampas pisau dari tangan anaknya itu.


“Parta Hentikan!” teriak Parmo.


Kejang-kejang tubuh Parta, bola mata penuh berwarna merah darah menatap keduanya. Parta meninggal setelah menarik dua kali nafas panjang. Sika tidak sanggup melihat kematian anaknya itu sampai tidak sadarkan diri.


...----------------...


Dia berjalan di seret oleh neneknya Trim menuju ke rumah Tolu.


Ting Tong (Suara bel berbunyi)


“Cari siapa nek?” tanya Mariam.


“Saya mencari dukun Tolu. Cucuku sedang sakit” ucap Trim.

__ADS_1


“Hari ini nyonya besar sedang pergi ke hutan. Kemungkinan nanti sore akan pulang” ucap Mariam membuka sedikit pintu.


“Kami akan menunggunya di luar” sahut Trim menarik Norman ke arah pilar dekat teras rumah.


“Masuk saja nek, tunggu saja di dalam.”


Tidak, aku dan cucuku akan menunggu di luar.”


Mbok Heni menjatuhkan kain pel di tangan, dia menjerit melihat Ani pingsan. Mariam langsung berlari setelah mendengar suara teriakannya.


“Astagfirullah, non Ani!” ucap si Mbok.


Mariam yang datang melihat Ani langsung membantu mengangkat untuk memindahkannya ke kamarnya. Meski tubuh sang majikan terasa sangat berat. Sementara si mbok yang sudah renta hanya menarik ke sisi lantai yang kering. Mendengar suara gaduh di belakang, nenek Trim menoleh melihat ke dalam. Ruang tamu itu tercium aroma melati yang sangat menyengat bercampur anyir menusuk rongga hidung.


“Tidak bisa di pungkiri, rumah seorang dukun pasti bersifat ganjil” gumam Trim.


“Nenek, ayo kita pulang aja. Gatal sekali, kaki ku juga mati rasa begitu sakit!” kata Norman.


“Diam! Semua ini salah mu! Bentak Trim.


Mbok Heni mengganti pakaian Ani sementara Mariam menelepon Togar memberitahukan kondisi kabar di rumah. Sesuai amanat dan pesan yang di sampaikan oleh Togar bahwa apapun masalah atau bentuk keperluan mengenai rumah maka dia harus diberitahu. Togar pun meminta ijin untuk pulang dari kantor, hal pertama yang dia lakukan adalah menelepon dokter pribadi keluarga mereka lalu memarkirkan mobil berjalan keluar memasuki hutan.


Suasana mendung, kabut putih menutupi pandangan bercampur nada suara hewan liar mencekam. Sekujur bulu kuduk merinding ketika memasuki area hutan lebih dalam. Togar meneruskan langkah menyusuri hutan, dia menghafal rute dua jalan yang sering di lalui Tolu. Sosok dukun itu tidak sadar bahwa suaminya mencari ke hutan, dia sudah berjalan sampai di pintu keluar hutan sedangkan Togar sampai di depan gua kaki bukit keramat. Suara aneh terdengar dari mulut gua, Togar melangkah lebih dekat memastikan apa yang ada di dalamnya.

__ADS_1


“Tolu!” panggil Togar.


Setelah sekian lamanya, dia baru sampai di tempat itu. Biasanya hanya rute lain yang dia temui untuk menemukan kekasihnya. Hentakan kaki raksasa, angin menghempas tubuh Togar menarik masuk ke dalam gua. Gumpalan kabut menyelimuti menghilangkan pandangan orang di luar tidak bisa melihat letak gua.


__ADS_2