Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Mengurung ghaib


__ADS_3

Bulan Suro tidak terlepas dari hal ganjil, para dukun, orang-orang yang memiliki ilmu ghaib berlomba-lomba mencuci gaman dan benda pusaka mereka. Bulan panas ini juga di manfaatkan untuk mengirim santet dan teluh secara langsung tepat mengenai orang yang di tuju. Para makhluk bergentayangan haus mencari mangsa, mereka mengincar darah daging manusia. Pemeliharaan makhluk jadi-jadian menuntut untuk di beri makan guna melancarkan keinginan majikan mereka.


Bangsal sudah bersekutu dengan setan, dia memanfaatkan darahnya untuk menghidupkan kembali dukun Siria. Dia berguru dan memuja setan setelah membuka kitab hitam terlarang yang dia dapat dari peti hitam yang tersimpan di balik papan lantai rumahnya. Sebelum membuka buku itu, dia teringat nasehat ibunya. Jangan sekali-kali menyentuh benda berwarna hitam apapun di rumah ini. Tapi, nasehat itu di abaikan karena rasa sakit hati dan dendam lebih besar dari pada rasa takutnya pada ibunya yang sudah tiada.


Membuka buku pada lembar pertama, Bangsal di banting gulungan angin yang masuk dari jendela. Dia terlempar membentur tembok, buku itu terhempas tertutup kembali. Bangsal merangkak meraih kembali buku, dia membuka lembar pertama gerakan menahan mengucap sebuah mantra. Buku berdebu, tulisan aksara latin yang sulit di baca, di bagian sudut bawah tertulis bahasa Melayu berukuran sangat kecil. Bangsal mencari kaca pembesar di laci dan seluruh lemari buku.


“Ketemu” gumamnya tersenyum lebar.


Sebelum meletakkan buku di atas meja, dia melapisi dengan kain hitam di atasnya. Bangsal membaca huruf satu-persatu sambil memahami setiap isinya. Di dalam buku terkutuk itu terdapat ilmu dan mantra sakti, tapi dia harus menumbalkan dirinya sendiri setelah selesai menggunakan mantra pada halaman terakhir.


“Aku tidak punya pilihan lagi, Tolu sudah membunuh ibu ku. Dia harus mati!” gumam Bangsal.


Hari demi hari dia menjalani ritual, menghafal mantra dan bersemedi. Dia juga menyiapkan sebuah foto Tolu dan boneka jerami santet untuk membunuhnya. Tepat di hari ke sepuluh ritual mantranya akan selesai, dia berpikir usahanya itu akan berjalan mulus tanpa kendala.


“Di dalam kitab ini tertulis semua keinginan ku terlaksana. Aku tidak sabar melihat jasad wanita iblis itu. Hahahah” tawa Bangsal menggema begitu kuat.


...----------------...


Wajah Ani murung, dia tidak bisa menjalankan ibadah dan hijrah setelah insiden lalu. Kejadian berulang saat dia mengambil air wudhu pasti rasa panas pada kulit terasa terbakar. Mukenah dan jilbab dia buka kembali.


“Aku harus menjauh dari Tohfa, dia harus mendapatkan wanita yang lebih baik dari ku” gumam Ani.


Di parkiran perusahaan, Tofha mengejar Ani yang akan masuk ke dalam mobil. Jari tangan kanannya terjepit saat Ani menutup pintu mobil menghindar darinya.


“Arggh!” jerit Tofha.


Ani terkejut langsung membuka kembali pintu. Dia mengusap tangan Tohfa yang terluka bercampur setengah membiru.


“Maaf aku tidak sengaja” ucap Ani.


“Ani, bisa kita bicara sebentar?” ucap Tohfa lembut.

__ADS_1


Wajahnya wanita itu kembali murung, dia menghela nafas tidak bisa menjawab pertanyaan pria yang masih dia cintai itu. Alangkah malunya dia berhadapan dengan Tohfa, kerudung sudah dia lepas dan pakaiannya kembali sedikit lebih seksi.


“Tolong ikut mas sebentar saja” desak Tofha.


“Ya, aku akan mengikuti mu dari belakang” ucap Ani.


Tohfa melajukan sepeda motor bebeknya ke pinggir jalan yang terdapat sebuah penjual sate keliling. Mereka menepikan kendaraan dan duduk di salah satu kursi panjang dekat gerobak. Tohfa membuka jaketnya, dia menutupi paha Ani dengan sopan.


“Maaf, aku tidak mau aurat mu di lihat orang” ucap Tohfa.


Memesan dua piring sate, Ani meminta pesanan daging setengah matang kepada si penjual. Tidak biasanya dia ingin menikmati daging setengah mentah. Tohfa mengucap bismillah melihat Ani memasukkan tiga tusuk sate sekaligus ke mulutnya.


“Bismillah, semoga jadi darah daging” ucap Tohfa pelan.


Ani tersedak memuntahkan seluruh isi dari perutnya. Tofha mengusap bekas muntahan itu dengan tangannya dan meminta tisu kepada si penjual.


“Apakah kau sakit?” tanya Tofha.


Bagaimana dia menjelaskan semua pada pria itu? Garis besar dan sudut pandang Tofha akan mengatakan bahwa keluarga mereka adalah pengikut aliran sesat. Dia tidak ingin adiknya di cemoh atau menjadi buruk di mata Tohfa. Apalagi menjelaskan bahwa tubuhnya tidak bisa menerima siraman air wudhu.


“Jika aku mengatakan semua. Kau pasti langsung berlari dan pergi dari ku” gumam Ani.


“Pak, bungkus saja satenya setengah matang dua bungkus” ucap Tohfa memberikan selembar uang berwarna biru.


“Terimakasih den” jawab di penjual.


“Aku akan mengikuti mu dan memastikan kau sampai di depan pintu rumah” ucap Tohfa.


Sesampainya di depan rumah, Tohfa berbalik arah meninggalkan Ani. Sebelumnya dia menekan suara klakson sebanyak tiga kali. Sosok penampakan makhluk halus yang pernah dia temui di rumah itu kembali terlihat menyeringai ke arahnya.


...----------------...

__ADS_1


Membuka mata di pagi hari, Togar sudah seminggu ini tidak melihat Tolu tertidur di sampingnya. Dia masih berada di ruang persemedian. Togar mengurungkan niat pergi ke kantor lebih awal meski ada rapat pertemuan dengan kliennya. Dia membawakan segelas air dan sepotong roti untuk Tolu, dia mengetuk pintu perlahan dan memanggilnya. Sedetik pintu terbuka, Tolu menggiringnya turun dengan pandangan tajam.


“Togar, hari ini kau jangan pulang sore. Aku mau pergi ke pasar mencari sesuatu” ucap Tolu.


“Kalau begitu aku cuti saja hari ini. Aku mau merawat mu, lihatlah, perban di perutmu pasti belum di ganti” ucap Togar menekan bagian hidung tengah istrinya.


“Tidak, aku tidak menginginkan pria yang malas bekerja” ucap Tolu.


“Aku tidak pernah malas mencari nafkah untuk mu. Yasudah aku akan ke kantor dan pulang tepat waktu. Apakah begitu banyak berang yang harus di beli? Aku akan mampir ke ATM untuk menarik uang sebelum pulang”


kata Togar.


“Ya, aku mau membeli Sembilan ekor kerbau” ucap Tolu.


“Sembilan?? Sayang, apakah kita akan mengadakan pesta pernikahan kembali? Atau apakah untuk merayakan kehamilan mu?” tanya Togar.


“Tidak! Aku belum mau hamil anak mu” jawab Tolu datar.


“Jangan buat aku jadi pria cengeng. Aku tidak sanggup mendengar kata-kata itu.”


Menuruti permintaan sang istri, Togar pergi menemui pak Bram. Kedatangannya di sambut oleh para pekerja yang langsung tersenyum melihat kedatangannya.


“Selamat datang den, bibi sangat senang melihat den Togar kembali” ucapnya dengan membungkukkan badan.


“Selamat datang tuan” sapa Tina.


Togar membalas sapaan mereka, dia berjalan mencari ayahnya di ruang kerja. Melihat sang ayah sibuk di depan layar laptop, Togar perlahan masuk dan duduk di hadapannya menunggu ayahnya mengetahui kedatangannya.


“Aku tau kau sudah datang. Ada kepentingan apa sampai jam segini kau terpaksa baru sempat melihat ayah mu” tanya Bram meliriknya.


“Maaf ayah, bukannya aku tidak ingin mengunjungi mu. Ada banyak masalah keluarga yang harus aku selesaikan” jawab Togar.

__ADS_1


__ADS_2