
Memasuki pekarangan rumah, mata Semi fokus pada pohon seolah ada makhluk tinggi besar berdiri sejajar di sampingnya. Dia mengusap mata, memastikan lagi penampakan yang dia lihat sampai Dirta menepuk pundak menariknya masuk. Aroma amis menyengat pada darah ular terasa di indera penciuman. Tolu mengunyah sihir lalu melepehkan air ke tangan kanannya yang memiliki tanda bekas bakar api ilmu dari penunggu tua di kaki bukit.
“Inilah tanah ku dan rumah ku, siapapun jin dan siluman yang mengganggu akan aku habisi” ucap Tolu membuka pintu ruangan pribadi menuruni anak tangga.
Dirta terperangah melihat penampilan wanita itu, penuh rasa pesona berlapis sifat sopan santun menunduk dan lebih membungkuk menyapa kedatangan Tolu yang kini hadir di tengah-tengah mereka.
“Kenalkan, saya Dirta” ucapnya mengulurkan tangan.
Tolu hanya membalas melipat kedua tangan di depan dada dengan senyum tipis. Begitu pula kepada Semi, dia mempersilahkan mereka duduk dan menikmati teh yang di sediakan. Karena suasana sedikit kaku, Tolu meninggalkan mereka untuk lebih santai mengobrol.
“Togar, dari tadi istri mu tidak henti melihat di sebelah kiri ku. Aku takut sekali” bisik Dirta.
“Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja padanya?” tanya Togar lalu meneguk teh.
__ADS_1
“Istri mu memang cantik tapi aku tidak berani mengatakan apapun karena merasa takut bertemu pertama kali dengannya. Tolong jangan kau marah dengan kejujuran ku ini” ucap Dirta sambil tersenyum.
...----------------...
Hari telah senja, ruangan makan sudah di tata dengan beraneka macam makanan dan minuman. Begitupula menu hidangan penutup dan buah-buahan di atasnya. Aroma lilin terapi, pisau, garpu dan sendok yang berada di sisi kanan dan kiri piring. Mereka menikmati menu hidangan yang lezat dengan sesekali bercengkrama.
“Bagaimana suasana di perkampungan ini? apakah kalian betah jika tinggal disini?” tanya Tolu.
“Ya benar, tapi sebenarnya suasana disini tidak kalah asri dengan pinggiran sungai Mahakam yang melegenda. Aku tetap mengingat kebaikan mu menolong keluarga ku” ucapan Semi beralih menjurus tentang hal yang lain.
“Tidak usah mengatakan hal begitu, aku ikhlas membantu. Apakah dia masih sering mengganggu?” tanya Tolu.
“Apa maksud pembicaraan mereka? Dia siapa?” gumam Dirta tanpa sadar sudah memotong stik daging panggang menjadi beberapa bagian kecil.
__ADS_1
“Kuntilanak itu masih sering aku dengar” ucap Semi.
Dirta langsung tersedak daging yang dia telan tanpa mengunyahnya, mata melotot gerakan tangan menepuk dadanya sendiri. Semi membantu memukul kuat punggungnya, sedikit rasa menahan tawa karena setelah ini Semi berpikir pasti Dirta tidak bisa tidur atau mati ketakutan tidak berani menatap mata Tolu.
“Jangan takut, Tolu adalah wanita yang baik-baik. Dia memang bisa melihat makhluk yang tidak bisa kita lihat. Dia juga bisa membantu mengatasi masalah mengenai alam lain” bisik Semi.
Dirta mengangguk, dia meneguk dua gelas air dengan cepat.
“Aku mau jujur dari tadi rasanya ada yang melata di kaki ku. Padahal aku tidak melihat apapun yang menempel di kulit” ucap Dirta.
“Togar, apakah kau mengalami aneh saat pulang? Katakan pada ku bau amis apa ini?” tanya Tolu melirik mata tajam.
Semi dan Dirta hanya terdiam, mereka menunggu kalimat jujur yang harus di lontarkan olehnya.
__ADS_1