Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Hari pernikahan Togar dan Tolu


__ADS_3

“Ayah, maaf aku baru sempat menemui mu. Aku baru menyelesaikan administrasi” ucap Togar.


Raut wajah pak Bram yang gelisah, dia menghela nafas lalu mengerutkan dahi. Bagaimana lagi dia harus menyampaikan ke khawatirannya itu? Pak Bram menarik tangannya untuk duduk di sampingnya.


“Togar, apakah pernikahan ini sebaiknya di batalkan saja? Musibah telah datang di detik-detik hari pernikahan mu” kata pak Bram.


“Tidak ayah, sekalipun Tolu masih di rumah sakit. Aku akan menikahinya disini, aku akan menjaganya.”


Mendengar jawaban Togar, dia pun tidak berkata apa-apa. Pak Bram melihat kesungguhan anaknya itu untuk bersama Tolu. Dia tidak ingin anaknya kesedihan menghampirinya lebih dalam setelah kepergian istrinya Mawarni. Ketika hari mulai pagi, pak Bram berpamitan untuk pulang. Dia harus segera menuju ke kantor untuk bertemu dengan para klien.


“Togar, ayah pergi sekarang. Jika kau membutuhkan sesuatu segera kabari ayah” ucap pak Bram sambil menepuk pundaknya.


“Ayah, aku sangat berterimakasih pada mu.”


Dokter sudah memberi kabar bahwa kondisi Tolu sudah membaik, dia juga menyarankan bahwa hari ini pasien yang sembuh total dalam satu malam itu sudah mulai pulang. Ani membantunya berjalan di sisi kanan sedangkan Togar di sisi kiri. Tolu melihat keduanya begitu serius merawatnya, dia ingin berjalan sendiri namun mereka berdua tetap memperlakukannya seperti orang yang sakit.


“Kakak, Togar, aku benar-benar sudah merasa baikan. Tolong biarkan aku berjalan sendiri” ucap Tolu.


“Tidak! Kakak tetap akan merawat mu sampai wajah mu yang pucat itu kembali kemerah-merahan” kata Ani.

__ADS_1


Togar mengantar mereka pulang meski semalaman pria itu tidak terlelap. Dia memaksakan matanya untuk tetap menyala. Hingga siang hari ini pria itu masih berada di rumah Tolu, tanpa henti dia mengamati segala gerakan wanita itu. Tolu yang sudah mulai tampak risih meminta dia untuk segera kembali. Tetap seja pria yang keras kepala itu enggan beranjak dari tempak duduknya.


“Togar, jika kau tidak mau pulang maka tidak akan ada pernikahan di hari esok” ancam Tolu memasang wajah marah.


“Sayang, biarkan aku berada disini sebentar lagi” ucap Togar mengambil posisi duduk lebih mendekat.


“Aku tidak akan menarik ucapan ku” Tolu memalingkan wajah.


“Ya sudah kalau begitu boleh kah aku mengunjungi mu sekali lagi?”


“Tidak!” ketus Tolu melipat kedua tangannya.


“Biasanya tempo hari kau memukul ku saat kejadian sama kau meminta ku untuk pulang. Aku bersyukur kau sedikit berubah” gumam Togar.


...----------------...


Rumah Tolu sudah di penuhi dengan para perangkat tim sukses acara pesta pernikahan berlangsung. Aktivitas meramu narupan dan perlengkapannya seharusnya itu di layangkan kepada kerabat atau keluarga kemudian pada warga di sekitar. Tapi tidak dengan Ani dan Tolu yang sudah menjadi anak yatim piatu dan tidak mengetahui siapa saja kerabat mereka. Kemiskinan yang melanda dan hidup yang serba kekurangan membuat sanak saudara enggan mendekati atau berkunjung. Jauh hari sebelum acara di gelar, Tolu dan Ani hanya menyampaikan pada tetangga di dekat rumah mereka.


Napuran (sirih) dengan segala perlengkapannya akan disodorkan kepada kerabat jika ingin menyampaikan suatu hajat. Suatu adat suku batak napuran yang bersusun berupa tutur kata dan sopan santun yang tidak ternilai.

__ADS_1


Hari indah dan bersejarah di sepanjang hidup Tolu dan Togar akhirnya pun tiba. Serangkaian acara yang di mulai dari pengajian, pesta adat, akad nikah, dan resepsi pernikahan adat Batak berlangsung dengan mulus dan lancar. Meskipun beberapa para orang sering terkejut melihat penampakan wujud sosok yang mengerikan. Bukan hanya itu, makanan yang tersaji terkadang beraroma jeruk purut yang menyengat di indra penciuman.


Hari pertama mereka melakukan acara menyombol Horbo (Pemotongan Kerbau) yang bertujuan menyuarakan kepada sanak saudara dan handai taulan adanya acara pernikahan yang akan berlangsung sebentar lagi. Setelahnya Mangalehen Mangan, pemberian makan terakhir Upah-Upah atau makanan besar pada acara spesial. Sedangkan lauknya tumpeng di adat Jawa berupa simbolis pemberian makan terakhir dari orang tua di syaratkan dengan nasihat-nasihat.


Bisa juga dikatakan sebagai malam melepas masa lajang. Hanya ada pak Bram sebagai orang tua tunggal dari Togar dan kakaknya tolu sebagai pengganti ayah dan ibunya. Horja godang (pesta adat), dengan acara margondang, manortor, memotong dia puluhkerbau dan mengundang kaum keluarga, kaum kerabat dan para tokoh adat.


Gemetar jari jemari dan tubuh itu ketika gaun pengantin dipakaikan di tubuhnya. Riasan, aksesoris dan perhiasan yang tersemat, kamar pengantin yang indah membuat Tolu sedikit malu-malu dan tampak gugup. Hari bahagia tanpa seorang ibu dan ayah yang akan melepaskan anaknya ke tangan lelaki yang akan menikahinya. Semua itu begitu menyakitkan dengan menjalani hari spesial seumur hidup ini sendiri. Tolu berusaha menepis genangan air matanya, posisinya yang menjadi seorang dukun di kampung itu sedikit terganggu oleh para dukun dan orang-orang yang tidak menyukai dirinya dan meletakkan rasa kebencian akibat Tolu membantu para korban yang terkena ilmi sihir.


Tanpa henti Tolu mengucapkan mantra di dalam hati sebelum memoles dan mengusap batu mustika merah miliknya. Dia juga menempatkan dua penjaga makhluk halus di bagian depan rumah untuk menjaga segala serangan yang akan mengganggu acaranya. Sesekali langit menjadi mendung dan gelap gulita, seakan ada hujan badai akan turun di daerah tempat itu. Tiba-tiba langit menjadi cerah kembali, pergantian cuaca yang memperlihatkan perang ghaib pada hari itu. Tolu berusaha untuk melindungi orang-orang di sekitarnya agar tidak terjadi hal-hal yang di inginkan akibat kiriman sihir.


Dia tampak sangat cantik di tengah raut ketegasan wajahnya. Tolu dan Togar memakai pakaian kebaya putih, selama proses pernikahan berlangsung kedua tangan mereka sangat dingin. Tolu berusaha mengendalikan perasaanya ketika Togar selesai mengucapkan ijab Kabul. Togar mengecup kening wanita yang di hadapannya kini menjadi istrinya. Mereka disambut dengan kain ulos dan diarak beramai-ramai untuk duduk di pelaminan. Togar dan Tolu juga di beri nasihat dan nasihat. Air mata yang tidak bisa di bendung mereka akhirnya tumpah. Begitu pula Ani yang berkali-kali memeluk adiknya.


Pesta pernikahan itu sangat meriah, terlebih lagi kedua mempelai menari tor-tor yang disaksikan oleh semua tamu. Tarian tor-tor ini tergolong menyedihkan apalagi diiringi dengan alat musik "Gondang Sembilan" dan penyanyi menyanyikan lagu ini dengan bahasa batak yang sangat menyentuh hati bila mengerti arti liriknya.


NOTE:


🌿Acara Manortor (tari) Manortor adalah seni tari dengan menggerakkan seluruh badan yang gerakannya seirama dengan iringan musik yang dituntun atau dimainkan dengan alat-alat musik tradisional seperti gondang, suling, dan ogung. Dipusat dengan gerakan pada tangan dan jari , kaki dan telapak kaki, punggung dan bahu.


🌿Tortor juga suatu tarian menggerakkan seluruh badan dengan dituntut irama gondang, dengan pusat gerakan pada tangan dan jari, kaki dan telapak kaki, punggung dan bahu. Sedangkan yang menjadi penari manortor (tari) disebut dengan panortor.

__ADS_1


INSTAGRAM @arsyalfaza


__ADS_2