Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Guncangan


__ADS_3

Di dalam hutan, Togar menemukan Tolu berdiri di depan pintu Gua. Dia melihat tubuh sang istri dari belakang terlihat sangat berbeda. Tanduk runcing yang pernah dia lihat kini benar-benar terpampang nyata. Tolu terbang menjulang tinggi, dia seolah sedang menangkap sebuah sinar merah yang berputar dari arah atas perbukitan. Togar menyaksikan keanehan sang istri, langkah tertahan semula ingin menghentikan tapi di tahan oleh sosok jin merah yang menarik ujung celananya.


“Arghh!” teriak Togar sangat terkejut.


Tolu menghilang di balik kegelapan, belum sempat Togar mengejar bersamaan jin merah kecil ikut terbang menembus kaki bukit. Tepukan kecil di pundaknya, Togar menoleh melihat sang istri seolah bersikap normal menatapnya.


“Kenapa kau disini?” tanya Tolu menarik berputar arah meninggalkan hutan.


...----------------...


Mata si mbok meski sudah di usia senja, terbilang masih memiliki pandangan yang jelas. Dia tidak ada riwayat penyakit rabun jauh maupun dekat. Jelas sekali sosok bayi merah berubah menjadi wujud jin bermata merah. Si mbok menyimpan semua yang dia lihat, apapun guratan akan keganjilan mengenai bayi itu dia rahasiakan dari para pekerja lainnya. Tina meletakkan sang bayi ke dalam box, dia meminta ijin pada si mbok untuk melanjutkan kembali tugasnya.


“Mbok, wajah mbok terlihat pucat. Apakah mbok tidak apa-apa?” tanya Tina memperhatikannya.


“Aku baik-baik saja,” sahut si mbok.


Tina pun pergi berjalan menuju lantai atas, di salah satu ruangan yang tidak boleh di buka itu terlihat sebuah bayangan dari bawah pintu. Si mbok lupa memberitahu larangan agar tidak mendekati kamar pribadi milik Tolu. Pekerja baru itu memegang beberapa kunci berusaha membuka pintu besi. Dia sangat kepayahan membukanya hingga pada kunci terakhir pintu besi itu terbuka. Ketika Tina memegang batang pintu, si mbok menahan tangannya dari arah belakang.


“Jangan pernah masuk kesini, ini adalah kamar pribadi nyonya besar. Kau mengerti?” kata si mbok.


“Tapi aku tadi melihat ada orang di dalam sana. Bayangan seperti sedang mondar-mandir dari dalam” ujar Tina.


“Maafkan kami yang belum bisa terbiasa beradaptasi disini mbok. Ayo ikut bibi!” hentak tangan bi Tuti mencengkram kuat lengannya menggiring membawa Tina pergi.


...----------------...

__ADS_1


“Tina, bukan kah sudah bibi katakana agar jangan pernah ingin tau apapun atau ikut campur masalah keluarga mereka!” bi Tuti menekan suara.


“Maaf bi,” Tina menundukkan kepala hendak menangis.


“Sejujurnya aku sangat ketakutan meski baru setengah hari disini. Tadi aku melihat ada sosok hitam besar seperti wujud gundoruwo di depan sana” tunjuk Tina kea rah luar jendela.


“Ya, kau harus menahan dan tetap kuat apapun yang kau alami. Opung Parman memberi amanat untuk pindah kerja disini.


Bi Tuti pun menyodorkan sapu padanya dan beranjak pergi.


Membersihkan bagian ruangan belakang yang tersusun beberapa patung yang di tutupi kain putih menambah kesan angker bagi yang melihat. Merinding bulu kuduk Tina melepaskan kain satu persatu untuk membersihkan tempat itu. Ada sebuah patung berdiri di tutupi kain putih tepat di dekat kaca raksasa. Bagian sudut itu di penuhi jaring laba-laba, ada suara meringis di tambah lampu berkedip di atasnya.


“Mbah, saya minta ijin membersihkan kamar ini, tolong jangan ganggu saya” ucapnya dalam hati.


...----------------...


“Mbok, biar aku saja yang mengurusnya. Si mbok bisa melanjutkan pekerjaan kembali” ucap Tolu.


“Ya non.”


Wanita yang baru belajar menjadi seorang itu masih tampak canggung. Dia melihat sang bayi sudah tertidur, ada botol dot kosong di sampingnya. Ini adalah kali pertama anaknya mengkonsumsi susu formula tanpa sepengetahuannya. Dia tidak menanyakan hal ini pada si mbok, menyadari sikap dan keanehannya sendiri yang berlari mencari batu mustika di sela tubuh masih rentan oleh makhluk halus.


“Ucok, anak laki-laki ku sayang. Kau akan aku beri nama Sadam Togar, jadi lah anak yang kuat, pintar dan berbakti pada kedua orang tua” gumam Tolu.


Setelah membersihkan diri, dia mengeluarkan bayinya ke ranjang posisi tangan menyentuh ujung selimut sang bayi hingga Tolu ikut terlelap di sampingnya. Tidak lama kemudian, Tolu bermimpi mengenai gambaran penghuni lain yang mengatakan hal aneh tentang bayi itu.

__ADS_1


“Wahai kau yang terbilang dukun sakti mandra guna. Ilmu mu belum ada apa-apanya jika kami para dukun sakti disini menggabungkan kekuatan untuk membunuh mu dalam sekali patahan tulang leher. Kini, anak mu telah menjadi incaran kami, serahkan dia atau para perewangan atau peliharaan kami menghabisi darah anak itu.


Hahahah” gema suara di udara berwujud api merah kemudian menghilang di bawa angin.


“Tidak ada yang bisa melukai anak ku!” bentak Tolu terbangun dari mimpinya.


Bayi Sadam masih tertidur pulas, sesekali dia menggeliat lucu membuat Tolu merasa ketakutan jika terjadi sesuatu padanya. Memikirkan perihal mimpi sebagai pertanda buruk, Tolu meniup sihir berlapis mantra melingkari asap putih ke tubuh bayinya.


“Apapun takdirnya nanti, mamak akan selalu menjaga mu” gumam Tolu.


Penyerahan diri opung Parman di hari lalu masih mengisahkan tanda tanya di hati Toto. Dia terus mencari tau segala hal menyangkut sang majikan. Menyusuri jejak hingga menyewa beberapa orang terpercaya sampai menemukan penampakan sosok wajah opung di balik sebuah batang pohon yang tertangkap kamera. Seorang detektif memberikan beberapa gambar Parman, terlihat wajah usang menghitam ada gigi taring menjuntai membuat dia sangat terkejut.


Hasil pencarian lain mengenai lokasi yang mengatakan letak daerah ilmu keabadian yang menumbalkan jiwa sendiri. Toto semakin bertanya demi kepentingan apa sang majikan rela menuju jalan yang sesat. Harta kekayaan terbilang berlebih, Toto maju mundur ingin memberitahu semua kepada Togar sampai di memberanikan diri karena membayangkan nasib sang majikan.


“Tuan, di dalam amplop ini adalah semua bukti keberadaan tuan besar” ucap Toto.


Togar masih sibuk menimang bayinya, dia hanya mengangguk dan kembali menatap sang bayi dengan senyuman lebar. Toto berdiri di sampingnya sambil menunggu perintah dari Togar. Beberapa menit berlalu sang bayi di pindahkan ke dalam box lalu Togar berjalan kembali ke ruang kantor dan membuka amplop tersebut.


Kaki Togar tidak bisa menopang tubuh, dia merengkuh tubuh memeluk salah satu foto. Dia masih tidak percaya akan kenyataan yang terjadi pada sang ayah.


“Untuk apa ayah melakukan ini semua?” gumamnya menahan gerimis di sudut mata.


“Toto, apakah menurut mu kalau aku harus menemui dukun Omas?” tanya Togar.


“Sebaiknya jangan tuan. Jika tuan kesana maka akan jadi santapan si dukun karena tuan tidak mau menjadi pengikutnya” kata Toto sedikit berbisik.

__ADS_1


__ADS_2