
Dalam keheningan malam berselimut suara mencekam, kuku tergores menaiki anak tangga. Arwah dukun Siria berselubung masih mengincar Tolu beserta keluarganya. Tolu tidak tidur semalaman, dia mengucapkan mantra pagar perlindungan. Dua kekuatan hitam beradu di balik angin kencang. Pintu berderit, jendela terbanting dan cahaya lampu berkedip. Ani membolangkan mata, di terkejut ketakutan bergerak badan kejang-kejang lalu bola mata ke arah langit-langit rumah.
Sosok mengerikan keluar dari tubuhnya. Ani mengeluarkan buih dari rongga mulutnya, dia menjerit histeris sampai di mbok datang menahan gerakannya yang mau berjalan ke arah jendela.
“Non! Sadar non!” si mbok membacakan lafaz surah pendek ke telinganya.
Melawan dukun Siria dan santet dari dukun lain yang menuntut balas, perseteruan dua jin yang yang mengganggu dan kekuatan yang harus banyak di kerahkan untuk melawan mereka. Pertahanan kekuatan arwah dukun Siria tumbang, kumparan asap menghilang, namun akibat dari sihir jahat itu membuat lampu rumah pecah. Togar terkejut terbangun menghentakkan tubuh mencari penerangan. Menemukan pematik menyalakan dalam kegelapan, Togar keluar melihat rumah tampak sepi. Dia mencari di setiap ruangan, suasana rumah mencekam di selubungi asap putih mengepul.
“Kemana semua orang?” gumam Togar.
__ADS_1
Dia berada di alam lain karena di dalam rumah itu sedang berlangsung peperangan ghaib. Tolu meleburkan batu mustika merah miliknya, dia menabur bunga sampai semua gangguan berhenti. Begitu pun pada Ani berhenti mengerang, dia menjatuhkan boneka jerami dari balik sakunya. Boneka itu pun hangus terbakar. Ternyata Selama ini Ani menganggap boneka jerami itu adalah sebuah boneka cantik nan indah pemberian dari Sandro. Sihir pudar, kemenangan terletak di tangan Tolu. Sedikit lagi Togar terjebak di alam ghaib, Tolu menarik tangannya dari balik cermin raksasa yang terpasang di ruangan pribadinya.
“Tolu, aku tadi di rumah kita. Tapi kenapa semua orang seperti menghilang?” ucap Togar sambil mengusap mata.
“Nanti saja aku jelaskan, ayo kita menemui kak Ani.”
Melihat Ani tergeletak di atas ubin bersama si mbok, Togar pun langsung mengangkat satu persatu dia menempatkan di atas kasur kamar Ani.
“Tidak usah, aku harus mengobati mereka terlebih dahulu” ucap Tolu.
__ADS_1
Tolu mengusap telapak kaki Ani dan si mbok, dia mengucapkan mantra kira-kira sampai setengah jam. Keduanya pun terbangun seperti orang ling lung. Mereka di beri air putih, Ani di minta untuk membersihkan diri dari ujung kaki sampai ujung rambut.
“Maafin si mbok non. Setelah melihat nyonya Ani kejang dan mengalami hal aneh, si mbok tiba-tiba tidak sadarkan diri” ucapnya kebingungan.
“Sudah si mbok silahkan pergi beristirahat saja” perintah Tolu.
“Terimakasih banyak non.”
Situasi memang terlihat mereda, tapi tiupan sihir terasa menghantui dunia sosok dukun sakti itu. Tolu masih merasa kurang cukup, terutama kekhawatirannya akan serangan secara mendadak pada orang terdekat. Tolu menahan rasa demam menggigil pada tubuhnya, tenaga dalam terkuras walau banyak sosok ghaib kuat yang menjaga. Dia menarik selimut, membungkus tubuhnya namun tetap saja rasa dingin semakin menjadi. Dari arah belakang Togar menambah selimut lalu mendekapnya, sepanjang malam dia terpaksa tidak berkutik menerima perlakuan dari pria yang tidak pernah putus asa menunggunya itu.
__ADS_1
“Jangan khawatir, aku tidak akan mudah meninggal jika harus mendapatkan serangan ghaib. Aku tidak perduli walau istri ku adalah seorang dukun” bisik Togar.