Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Mengelakkan


__ADS_3

Sadam menawarkan pada mereka untuk menginap di rumahnya. Hujan deras, kilatan petir datang menyambar salah satu pepohonan. Toyo meminta agar mereka tetap melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing.


“Maaf gais, aku harus pulang. Aku tidak mau membuat Sadam dan keluarganya repot karena kita” ucapnya mencari alasan.


“Kalau cuaca ekstrim begini pasti sulit untuk mengemudi” kata Sadam.


“Aku sih ikut mereka aja. Bagaimana dengan mu Ta dan engkau honey?” tanya Afif.


Mereka berdua menggelengkan kepala, seperti jawaban iya dan tidak tertahan mengingat salah gangguan yang ada di rumah megah itu.


“Kita pulang saja” bisik Ita.


“Tapi aku masih betah disini” jawab Mira.


Wajah Tolu datar menawarkan mereka untuk bermalam. Kamar yang sudah di persiapkan berada di lantai dua. Pertengahan malam pada pukul 00:00 tepat berbunyi jarum jam raksasa yang mengagetkan mereka. Ini adalah kali pertama Toyo buang air kecil di celana. Mimpi buruknya seolah menjadi nyata. Dia buru-buru bangkit ke kamar mandi berganti pakaian.


Cermin besar di dalam toilet memamerkan wajah sosok lain yang menyerupai dirinya. Sebelumnya pria itu menyentuh sendiri kaca. Saling memandang dan bergerak bersama.


“Aku tidak tertawa, kenapa di dalam pantulan kaca diriku itu tertawa melihat ku?” gumam Toyo.


Satu detik, dua detik hingga pada hitungan ketiga dia berlari secepatnya masuk kembali ke kamar. Seharusnya itu adalah kamarnya tadi bersama dengan Afif. Warna dinding berubah menghitam, ada bercak darah bergambar tangan yang menempel dan kasur yang terbuat dari jerami.


“Bukan kah ini kamar ku tadi?” gumam Toyo.


Dia menutup pintu, menuju ke kamar lainnya. Gagang pintu di dorong tidak terbuka, tampak di dalamnya sudah ada yang menempati.


“Mengapa tiba-tiba kamar itu berubah?” batinnya lagi.


“Bang, boleh pinjem jarinya? Ada sesuatu yang harus aku ambil di punggung ku” suara makhluk di hadapan.


“Ahhh! Tolong aku!”

__ADS_1


“Toyo bangun!” Afif menepuk pipinya keras.


Dia bermimpi yang terasa sangat nyata, keyakinannya melihat celana jeans yang sudah dia ganti di kamar mandi. Bi Tuti memberikan segelas air minum lalu meminta ijin menutup jendela.


“Den, jangan buka jendela tengah malam.


Takutnya ada binatang melata atau sejenisnya yang masuk ke dalam” kata bi Tuti.


“Terimakasih telah mengingatkan bi” jawab Afif.


Mereka kembali terlelap, tapi gangguan di dalam rumah itu terus berlanjut pada Toyo. Sosok anak kecil yang ingin meminjam jemarinya itu kini memegang jemarinya erat di sampingnya. Mata Toyo melotot melihat keberadaan sosok makhluk tersebut. Dia tidak berani berteriak menahan rasa takut perlahan dia melepaskan genggaman tangan si hantu. Suara retakan seperti ranting patah, Toyo bergerak berjalan keluar kamar.


“Yang mana pintu keluar rumah ini?”


Di bawah anak tangga telah berdiri wanita berbaju putih dengan rambut yang menutupi wajahnya. Kepalanya miring ke samping, ddi dalam ruangan yang padam dia tidak bergerak sama sekali. Semula Toyo berpikir dia adalah hantu, sampai dia melihat kaki wanita itu menginjak lantai.


“Jika dia bukan hantu, lalu siapa dia?” batinnya.


Dia mencekik Toyo sangat kuat, mengangkat tubuhnya ke atas sampai wajahnya merah padam. Ani kerasukan salah satu begu ganjang peliharaan Tolu. Dia seolah tidak suka akan kehadiran pria itu. Toyo si cucu dukun yang berada di perbatasan desa. Sosok dukun yang selalu menyerang Tolu dengan Teluh dan sihirnya.


“Kakak, lepaskan dia!” Tolu menekan kuat punggung Ani.


Toyo di banting ke lantai, pelipisnya terluka terlihat sosok yang di dalam tubuh Ani masih ingin memberi palajaran pada pria itu. Tolu dengan santainya mengunyah sirih membalas tatapan lain di mata Ani.


“Kau yang keluar sendiri atau aku yang mengeluarkan mu?” gumam Tolu.


“Ampun inang.


Kejadian tadi malam melekat kuat di ingatan Toyo. Dia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menginap di rumah itu lagi. Di depan meja makan telah terhidang sarapan pagi. Sebelum mereka pulang, Tolu memberikan mereka kain songket yang mereka pilih sesuai warna kesukaan masing-masing.


“Terimakasih inang” ucap Mira.

__ADS_1


“Terimakasih bu.”


Ucapan dari masing-masing teman Sadam di sambung mencium punggung tangan Tolu berpamitan pulang.


“Sadam, jangan lupa angkat telepon ku setelah aku sampai rumah nanti” bisik Mira.


Gelagat Mira di saksikan Afif melirik penuh curiga.


......................


Semakin hari kedekatan Sadam dan Mira tidak bisa di tutupi lagi. Afif mengepalkan tangan siap memukul wajah Sadam. Tepat di kafetaria kampus, dia dan Mira sedang asik tertawa bercanda bersama.


“Mira, sekarang kau pilih aku atau Sadam? Dan kau Sadam, apakah aku bukan sahabat mu lagi?” ucap Afif.


“Aku tidak bermaksud apapun. Tenang kan diri mu Fif” jawan Sadam.


Sosok jin merah menyeringai siap menyerang Afif jika pria itu menyakiti Sadam. Di sisi lain, peliharaan Tolu mendengus mendekati Mira. Suhu tubuh wanita itu menurun, pandangannya berubah gelap hingga dia jatuh pingsan.


Energi positif di serap oleh para jin yang mengikuti Sadam, Mira di bawa ke Rumah Sakit. Para Mahasiswa lain menyaksikan kejadian itu hanya berani saling berbisik. Diantara mereka ada yang mengenal Sadam si anak dukun sakti. Tidak ada yang berani berurusan dengannya.


Perjalanan dari kampus ke rumahnya berjarak tiga jam. Sadam mencari alasan yang tepat agar tidak pulang. Kali ini dia berbohong dengan mengatakan sedang melakukan tugas penelitian kuliah supaya berharap sang ibu mempercayainya.


Di dalam panggilan telepon.


“Ucok, jangan kau lakukan hal yang tidak-tidak atau merusak nama baik keluarga kita. Kau paham?”


“Ya bu, aku akan selalu mendengarkan ucapan ibu.


“Ibu akan memantau mu dari kejauhan”


“Bu, aku bukan anak kecil lagi. Aku tutup telpon ini, aku sayang ibu.”

__ADS_1


__ADS_2