
Kepala terlepas, sosok organ tubuh bergelantungan memberi bekas organ tubuh menggantung menetes darah tanpa henti. Ritual terakhir untuk Parman, dia benar-benar melepaskan diri berubah menjadi sosok si kepala putung.
"Parman, kini kau bukanlah manusia seutuhnya. Kau adalah siluman si penganut ilmu keabadian. Dengan ilmu mu itu, kau bisa menyerap energi orang-orang yang kau kehendaki. Ahhahah" ucap dukun Omas.
Meneruskan mantra, sosok dukun Omas berkomat-kamit menghembuskan mantra di atas dupa. Parman berubah mengeluarkan gigi taring, wajah menampakkan urat berwarna hitam, di atas kepala ada hewan-hewan kecil berjatuhan. Dia menunduk mendekati Omas.
Ini sudah jadi kehendak dirinya sendiri. Dia menekan tekad sampai ke anak cucu buyutnya agar tidak mengganggu dan sebagai leluhur pelindung di masa kelak. Sosok makhluk jadi-jadian kini melegenda dari masa ke masa. Setelah malam itu, Omas tidak terlihat lagi di kediamannya. Togar, Bram berserta warga lain kewalahan mencari hingga saat ini.
...----------------...
Tiba masanya hari dimana semua akan terbuka. Sosok kepala opung Parman terlihat di salah satu pepohonan dekat perumahan Tolu. Si mbok Heni sangat terkejut, dia melepaskan gelas yang sedang dia cuci. Mengucapkan istighfar berkali-kali lalu menoleh ke arah jendela. Dia berlari mencari sosok penampakan tadi. Ketika sampai di salah satu pepohonan, sosok tadi menghilang membawa serpihan angin kencang.
"Aku rasa tadi adalah opung Parman! " gumamnya.
"Mbok, ini adalah daftar belanjaan yang harus di beli" ucap Tolu.
"Ya non. Anu__" sahut si mbok sedikit terbata.
"Tadi melihat opung Parman di salah satu pohon itu" tunjuk si mbok.
Tolu mengangguk, dia menepuk pundak wanita tua itu lalu berbisik. "Jika kau melihatnya lagi maka cepat bersembunyi."
Si mbok melotot ketakutan, dia langsung meminta ijin pergi sambil mengusap dadanya. Banyak keanehan yang terjadi di rumah itu. Ini tentang segala gangguan datang silih berganti, rumah yang selalu berpasir dan berserakan dedaunan kering.
Mengenal berita Ani, wanita malang itu sampai saat ini belum di temukan. Pihak kepolisian, detektif dan para warga kampung di pepohonan pinus rimbun sampai saat ini masih mencarinya. Tolu mengerahkan kekuatan terakhirnya, hidup atau mati sangat kakak harus kembali.
...----------------...
__ADS_1
Kekecewaan Bram pada diri sendiri, dia menyesali perbuatannya. Nasi sudah menjadi bubur. Jiwa sudah dia gadaikan berganti darah setan yang seumur hidup harus meneguk darah hingga kematian akan berpihak padanya.
"Apakah aku harus jujur dengan Togar?" gumam Bram.
Bram mengobrak-abrik seluruh benda yang ada di depan meja kerjanya. Dia begitu frustasi, dia pun meraih ponsel memberi pesan agar Togar datang ke secepatnya. Sore hari tanpa sinar senja yang indah, keributan tidak terelakkan di rumah Bram setelah kedatangan Togar.
"Ayah, kenapa ayah baru mengatakan hal ini sekarang? apakah ayah sengaja menyembunyikannya sendiri?" kata Togar sedikit mengeraskan suara.
"Aku semula ingin pergi kesana dengan opung mu, sampai dia merubah jalan pikirannya dan meminta Toto membawa ku pergi sejauh mungkin. Ketika aku kembali lagi kesana, tempat itu di tutupi semakin belukar sangat gelap berterbangan burung gagak" ucap Bram.
"Opung!" tangis Togar tidak tertahankan.
Togar mendesak sang ayah agar membawanya ke daerah tempat mereka terakhir kali bertemu. Disana, sesuai apa yang di katakan oleh sang ayah bahwa ketika sesampai disana, tempat tersebut tidak bisa di masuki dengan mudah.
"Sekarang kau sudah percaya?" tanya Bram.
Bram pergi mengemudi mobilnya lalu kembali dengan dua liter minyak di dalam dirigen besar. Dia menyiram akar pepohonan besar dan semak belukar itu lalu menyalakan pematik hingga api membakar berkorbar.
"Ayah, apa yang kau lakukan?" tanya Togar.
Angin membawa kobaran api semakin menyala. Bagian depan pedalaman semak belukar dan akar yang menutupi perlahan membuka jalan pintu masuk. Di depan sana terlihat jalan kecil menuju kearah letak wilayah telaga mati. Bram menarik tangan Togar, sampai disini dia benar-benar mengurungkan niat untuk melangkah maju.
“Sudah sampai disini saja, bukan kah seharusnya kau haru melihat keadaan Tolu? Ingatlah bahwa menantu ku itu sedang mengandung. Jika mengalami koma sampai hari ini maka bayi di dalam perutnya akan terkena dampak buruk” ucap Bram.
“Tapi ayah, opung Parman pasti membutuhkan kita. Tinggal selangkah lagi menuju kesana” ucap Togar.
Menghitung kepergian opung Praman yang sudah lewat satu bulan. Menyadari akan bahaya di depan mata, Bram menarik tangan Togar menjauhi daerah tersebut.
__ADS_1
“Kita akan kembali lagi dengan persiapan yang matang, sekarang aku akan memanggil petugas kepolisian untuk menjaring daerah itu” kata Bram.
Anggukan setuju pada Togar, dia menahan emosi dan segala pikiran kacau mengenai kondisi Parman. Setelah polisi datang, Bram menyerahkan semua pada pihak berwajib dan berharap kasus ini secepatnya dapat di tangani. Tapi tetap saja mengenai dunia ghaib tanpa bukti nyata, pihak kepolisian kewalahan mencari semua kaitan dan masalah mengenai kehilangan Parman di rumah dukun Omas. Belum bisa dikatakan bahwa dukun Omas sebagai pembunuhnya, mereka tidak bisa mengatakan jika dia adalah tersangka dalam pembunuhan berencana karena tidak ada mayat disana.
Sepanjang perjalanan pulang Togar dan Bram tidak saling berbicara sampai Toto membuka pembicaraan akan sebuah surat kabar yang berpindah ke tangan Togar.
“Apa ini pak?” tanya Togar.
“Saya mendapatkan berita di dalamnya mengenai kriteria yang sangat mirip dengan nona Ani. Tuan, kemungkinan nona berada di wilayah itu” kata Toto sambil menyetir.
Pengikut setia yang selalu mengikuti dimanapun sang majikan pergi, dia juga tanpa kenal lelah mencari informasi akurat akan semua hal yang di butuhkan. Togar membaca surat kabar dengan seksama, penampakan Ani yang berpakaian compang-camping di dekat kaki bukit. Dia mengurungkan niat memberitahu hal ini sebelum Tolu benar-benar sembuh total, secepatnya dia menyembunyikan surat kabar itu di dalam laci mobil.
“”Kita semua harus merahasiakan hal ini dari Tolu” ucap Togar.
"Ya, kau benar. Jangan sampai kabar ini semakin mengganggu kesehatan menantu ku" kata Bram.
Dering ponsel pesan whatsapp berbunyi.
Dokter Frans
Istri tuan baru saja siuman. Akan tetapi beliau masih membutuhkan beberapa kantung darah lagi di PMI. Terhitung transfusi darah ini tetap berjalan karena ibu Tolu mengalami pendarahan akut pada saluran cerna.
Berbagai alasan secara medis telah di jabarkan oleh sang dokter, tapi tetap saja wanita berstatus dukun itu seperti kekurangan tegukan darah segar. Perewangan, penjaga ghaib dan semua makhluk yang bersemayam menjaga dirinya secara ghaib berebutan tetesan darah dari dalam kantung yang mengalir di selang pipa jarum infusnya.
“Toto, tepat di depan pertigaan sana ambil jalur kiri. Kita ke PMI terlebih dahulu” ucap Togar.
“Baik tuan."
__ADS_1
Bram hanya mengernyitkan dahi melihat sebuah kotak yang berisi kantung darah di tangan Togar. Menantunya bukanlah wanita normal lainnya, dia harus lebih berlapang dada tanpa mengkritik atau mengomentari segala hal mengenai Tolu.