
Pemakaman di lapisi langit mendung, hujan deras di sertai halilintar membuat para para pelayat dan pengantar jenazah terpaksa berteduh. Malam mencekam, bisikan orang-orang membicarakan jasad Sika mengenaskan. Kain kafan berdarah, membuat lubang liat bagai kolam berdarah. Jenazah Sika mengambang di atas permukaan. Meski air berdarah itu sudah di kuras, tapi tetap saja air hujan deras membanjiri liang kubur. Terasa hati tersayat, tangisnya tidak bisa di tahan dalam isaknya memeluk sang istri. Ustad dan beberapa orang tua lain meminta dia untuk mengikhlaskan Sika. Berat hati meletakkan mayat sang istri ke dalam genangan air berdarah.
Tanah bercampur lumpur menutup mayatnya, seakan jasad wanita itu mendapat karma atas apa yang telah di buat selama hidupnya. Siapa yang menyangka semua bisikan orang mengatakan bahwa semasa hidup Sika pasti melakukan kesalahan terjahat sehingga mayatnya menjadi tidak di terima oleh bumi?
Parmo berteriak menyebutkan nama kuyang, semua orang terkejut kalang kabut berlari meninggalkan taman pemakaman umum. Ustadz dan dua pria tua menarik tangan Parmo di parkiran, salah satu wanita tua lain masih sibuk menenangkan Parta.
“Pak Parmo, kita akan membicarakan kasus ini besok. Sebaiknya kita pulang ke rumah masing-masing karena cuaca semakin memburuk” ucap ustadz.
“Baik ustadz.”
...----------------...
Tanpa ada kehadiran peran ibu, maka dunia tidak bercahaya dan sinar matahari tidak terasa hangat lagi. Nafas dan ruang hampa, ingin menangis darah semua rasa sesal bersama kekecewaan mendalam. Memang benar semua penyakitnya sembuh, tersisa bekas lubang penyakit membulat kehitaman di sekujur tubuh.
Keesokan harinya, ustadz, para petua kampung dan pak lurah datang ke rumah Parmo. Mereka teringat kejadian beberapa warga yang hilang berjarak sebelum memasuki bulan suro tepatnya di daerah perkebunan jagung. Di rumah yang tidak terurus itu, Parmo enggan membersihkan lantai atau merapikan benda yang berserakan. Tamunya tidak di suguhkan minuman atau teh sekalipun. Pandangan mata kosong Parmo membalas salam para tamu yang masuk menunggu dia bersuara dan menjelaskan semua duduk masalahnya.
“Pak Parmo, tolong katakana pada kami mengenai kematian bu SIka. Mohon maaf jika kami lancang dan ingin ikut campur masalah keluarga anda. Saya mendengar makhluk jadi-jadian berbahaya yang di katakan tadi malam” ucap ustadz.
“Benar pak, mungkin saja ini ada kaitannya dengan misteri para warga yang hilang” kata salah satu petua kampung.
Parmo menjelaskan alur cerita pada mereka, sesekali Parta di beri lemparan sinis oleh salah satu petua kampung. Sosok yang di cap sebagai anak durhaka mengakibatkan kematian ibunya sendiri. Semua orang yang mendengar cerita Parmo menggores ekspresi terkejut setengah mati.
“Bencana! Kampung kita akan binasa!” ucap salah satu petua kampung yang lain.
__ADS_1
“Astagfirullah al’adzim. Naudzuhbillah minzhalik, semoga kita semua di lindungi oleh Allah subhanahu wata’ala” ucap sang ustadz.
“Pak Parmo, jika anda menyetujuinya maka sebaiknya kita melakukan pengajian secara berturut-turut untuk mengirim do’a kepada almarhumah. Semoga arwahnya tenang di alam sana” ucap ustadz menambahkan.
“Kalau begitu besok kita langsung saja memulai acara do;a bersama, ustadz tolong bantu lah aku.”
Parmo mencoba menahan air mata yang tumpah, Sika sudah tidak lagi di menemani harinya. Dia benar-benar terpukul dan kehilangan peran wanita yang sangat mencintainya dengan tulus. Jadi bisa di simpulkan pada perkumpulan mereka hari ini, kehadiran kuyang si kepala putung menjelma menjadi nenek tua itu membuat resah para warga. Orang yang mendengar kabar dari Parmo, bergerombolan pergi membawa obor di tengah malam ke lokasi yang di katakana olehnya.
“Itu dia rumah di wanita kuyang! Ayo kita bakar rumahnya!” teriak para warga.
Dalam sekejap, api membakar rumah beserta isinya. Sosok kepala putung melihat rumahnya terbakar membuat dia menjadi marah besar. Masih ada tubuhnya tertinggal disana, dia menghafal setiap wajah yang merusak rumah dan membakar tubuhnya. Terlebih lagi dua peran dukun berpakaian hitam mengenakan topi blankon menatap dia bergelantungan di atas pohon.
“Grrrr, Stthh” suara aneh dari sosok kuyang.
Dia menggigit leher keduanya secara bergantian dan menyerang warga lainnya. Kemunculan kuyang menghentakkan tubuh dan sontak membuat mereka lari kocar-kacir. Tiga orang warga mencari perlindungan ke rumah Tolu, mereka melompati pintu gerbang rumah lalu mengetuk pintu sangat keras.
Dor, dor, dor (Suara menggedor pintu).
“Siapa yang mengetuk pintu begitu keras?” tanya mbok Heni.
“Tidak tau mbok, anakku Sagala juga semalaman ini tidak berhenti menangis. Perasaan ku jadi tidak menentu” jawab Mariam.
Tolu meminta Mariam tinggal di rumah karena mereka akan sangat sibuk mengurusi acara pesta pernikahan Ani secara mendadak. Tohfa sudah menggebu meminta pada Tolu untuk mempercepat proses lamaran, pernikahan dan pesta di satu hari yang sama.
__ADS_1
Si mbok membuka pintu, tiga orang pria itu masuk terburu-buru . Manik mata ketakutan menatap ke arah luar. “To_to_tolong kami!”ucap laki-laki bertubuh gemuk.
“Bu, tolong saya. Ada kepala putung yang menyerang kami!” ucap pria bertubuh kurus.
“Ada keributan apa mbok?” tanya Tolu menuruni tangga.
Ketiga pria itu berlutut menyatukan dua telapak tangan. Memelas dan menyeret kaki keluh, Tolu menarik ujung baju bagian pundak ketiga pria itu dengan tangannya sendiri.
“Pergi! Kalian sudah membakar rumah makhluk itu. Sudah kedua kalinya kalian menyakiti para bangsa setengah ghaib. Bukankah membakar rumah ku tempo hari bisa di jadikan pelajaran yang berharga?” kata Tolu melemparkan mereka ke halaman rumah.
Dia membanting pintu, mengunci rapat-rapat tanpa memperbolehkan siapapun yang keluar. Mendengar tangisan Sagal, Tolu menyuruh Mariam memberikan air bening dari kamarnya untuk di usapkan sekujur tubuh anaknya. Togar mengetahui masalah yang terjadi di rumah, dia mengusap pundak sang istri perlahan.
“Sayang” ucapan Togar terhenti ketika menerima hempasan tangan Tolu.
Dia menuju kamar persemediannya, Tolu merasakan hawa ilmu hitam sangat kuat terbang mengitari rumah. Suara jeritan ketiga pria melihat penampakan kuyang, Ani terbangun melihat dari tirai jendela. Tidak menyangka ada makhluk kepala putung terbang di luar rumah. Menyembunyikan wajah di balik gorden, menyaksikan sosok si kepala putung mengisap dan mencabik pira yang berada di rumah. Ani menutup mulutnya, dia mengambil al qur’an di meja sambil memeluknya.
“Mati” ucapnya menggema di udara.
Tolu maksimal melawan serangan sosok kepala putung yang akan mendekati Ani. Di alam lain, Tolu dan si kepala putung berperang ganas melempar serangan tanpa henti. Tolu mengusap bantu mustika merah, bantuan raja siluman iblis berhasil mengusir kuyang.
“Aku akan kembali! Tidak ada yang bisa mengalahkan ku!” ucap si kepala putung.
Kuyang hadir di setiap tempat yang tidak terduga. Kadang dia berwujud terlihat seperti manusia biasa. Orang yang berhasil di kelabui kembali menghilang. Tubuh dan jiwa mereka di bawa ke alam lain selama-lamanya.
__ADS_1