
"Hati-hati pak Dadar!” ucap Togar.
“Maaf den.”
Mereka sampai di rumah sakit jiwa pukul 07:00 WIB. Dua orang petugas sudah menyambut mereka, memindahkan Ani ke kursi roda. Sebelumnya Tolu memeluk sang kakak, dia memastikan lagi jin peliharaannya benar-benar mengikuti sebagai pendamping Ani.
“Kakak, cepat lah sembuh” bisik Tolu.
Togar menyelesaikan segala urusan administrasi, dia membayar mahal dan meminta pengobatan yang terbaik untuk sang kakak ipar. Tolu meminta seorang perawat pendamping khusus untuk Ani, dia juga memberikan nomor ponsel rumah dan Togar jika terjadi sesuatu padanya. Tiga kali menoleh membalikkan tubuh, berat melepas sang kakak. Togar merangkul Tolu, dia menggiring sang istri segera masuk ke dalam mobil. Tolu menyadari tidak semua ilmu sihir dan sesuatu yang bersifat ghaib dapat membantu.
Sebelum pulang, kegiatan rutin berbelanja keperluan untuk mengisi meja hitam di ruangan pribadinya. Selalu saja Togar bersabar mengikuti semua tingkah sang istri. Pasar tradisional, para penjual langganan, bahan-bahan rutin, namun ada yang berbeda hari ini. Tolu kembali meminta seekor kerbau yang langsung di sembelih dengan bagian potongan anggota tubuh.
“Untuk apa kerbau itu?” tanya Togar.
“Belikan saja, apakah kau keberatan?” tanya Tolu memasang wajah dingin.
“Tidak, aku hanya bertanya saja sayang” jawab Togar sambil tersenyum.
...----------------...
Bayi Sadam tertidur pulas di dalam keranjang box bayi. Hari ini si mbok sibuk mondar-mandir membersihkan rumah sesekali melihat Sadam. Hari ini rumah sangat sepi, Mariam sedang tidak bekerja karena sedang mengurus Sagala. Di dapur, si mbok merasakan ada yang sedang memperhatikan, dia sangat ketakutan ketika sebuah kaki yang sangat dingin menyentuh tengkuknya.
“Tolong Jangan ganggu mbah” ucap si mbok meringis.
Harum aroma bawang teriris di pisau melebihi wangi bunga kantil menusuk rongga hidung. Kejutan selanjutnya di lemparkan pada lengkingan teriakan menghantam jantung.
“Arghh!” jeritan dari balik sudut dinding.
Di rungan lain
Sosok jin merah tidak mau kalah mengganggu, dia menjelma menjadi sosok bi Tuti berjalan mengendap mendekat. Dia menepuk bahu si mbok, tatapan mata merah yang tidak bisa di hindari mencari-cari pandangan lain.
“Bi Tuti? Bukannya bibi sekarang bersama Tina?” tanya si mbok.
Jin merah hanya tersenyum, dia menumpahkan cairan darah hitam dari rongga mulut. Alangkah terkejutnya si mbok sampai dia menjatuhkan menyentuh ceret listrik membakar kulitnya. Tangisan lengkingan suara Sadam, rasa sakit yang di tahan dari kulit yang terbakar. Penampakan itu menghilang sekejap di ganti suara aneh dari atap rumah. Gangguan selanjutnya melihat Sadam merangkak di atas langit-langit rumah.
“Sadam?” ucap si mbok bernada bergetar.
__ADS_1
Sadam tertawa terbahak-bahak, dia membawa pisau bergerak seakan bersiap menusuk dirinya. Saat pisau sudah sampai di dada, penampakan menghilang dan si mbok tidak sadarkan diri.
Tono bersunggut histeris melihat sang ibu, dia langsung mengangkatnya ke dalam kamar dan mencari pertolongan. Ketika langkah kakinya sudah melangkah ke luar, terlihat sosok bayangan tinggi besar bermata merah melihatnya. Mundur secara perlahan, masuk kembali sambil membanting pintu.
“Bang! mana makanan ku? ” suara makhluk aneh menggema.
“Siapa disana?” teriak Tono bergetar.
Tangan tangga berderit, jendela terbanting di sambung angin kencang menerbangkan jendela aneh. Dia melihat sosok Sadam merangkak mendekatinya. Bayi merah itu masih terlihat berbentuk darah bersama tangisan kencang.
“Arggh! Arghh!” teriak Tono.
Tono membopong si mbok pergi keluar rumah. Dia tidak memperdulikan lagi pintu rumah itu masih terbuka lebar begitu pula gerbang yang terbuka. Setelah melihat Tono pergi , dua orang pria berjalan masuk menutup pintu gerbang. Pandangan mata berjaga tidak henti melihat keadaan sekitar.
“Bagaimana? Apakah sudah aman?” tanya pria bertubuh kurus alias Maman.
“Ya, dia keluar begitu saja membawa wanita tua tanpa menutup pintu. Apakah rumah ini sudah tidak berharga?” sahut pria bertubuh gemuk si preman pasar.
“Entahlah, sekarang kita sikat saja isi di dalamnya” kata Maman.
Radius satu meter sebelum memasuki ruangan, harum aroma semerbak bunga kantil bercampur kemenyan menusuk rongga hidung. Si preman pasar membalikkan badan karena menangkap sosok hitam berdiri di depan pintu. Hanya dia yang melihatnya, Maman sudah lenggang kangkung masuk seolah bisa menembus makhluk yang dia lihat tadi.
“Apa? Ayo cepat masuk sebelum ada yang melihat kita” ajak Maman.
Memperhatikan lagi bayangan sudah lenyap, perlahan si preman kembali masuk. Pintu pun tertutup terbanting dengan sendirinya. Maman enggan memperdulikan semua keanehan yang terjadi di rumah itu, dia sudah tidak tahan untuk mengambil benda berharga yang terpajang di atas meja dan di dalam lemari hias. Dua kantung kain besar sudah dia sediakan untuk memasukkan benda-benda berharga yang dia curi.
“Sudah cukup, ayo kita pergi saja. Ada yang tidak beres dengan rumah ini” bisik si preman.
“Ah! Biasanya kau yang paling pemberani menghadapi apapun. Kenapa kini nyali mu sangat kecil?” tanya Maman.
Suara tangisan bayi yang mereka dengar dari tingkat atas membuat Maman penasaran ingin melihat siapa yang ada di dalam rumah. Dia mengeluarkan pisau lipat bersiap melenyapkan orang tersebut.
“Jangan! Tujuan kita kesini bukan untuk membunuh!” ucap si preman.
“Hei kau tidak mendengarnya? Pasti ada orang lain di dalam rumah ini selain bayi yang menangis itu” ucap Maman.
Plak, plak. Clap. (Suara sandal teklek terdengar mondar-mandir dari atas loteng).
__ADS_1
Keduanya bersembunyi, mereka berpencar menuju ke arah ruangan lain. Maman seolah menantang bahaya. Dia mengendap-endap menaiki anak tangga, langkah tepat di depan pintu yang berlapis besi. Di pandangannya, pintu itu terbuat dari lapisan emas yang megah nan indah. Tangannya menyentuh gagang pintu, seakan dengan mudah pintu itu dapat terbuka. Senyuman lebar merekah di wajahnya, dia berpikir sedang mendapat durian runtuh atau hujan emas pada hari ini.
“Aku kaya!” gumamnya lalu masuk ke dalam.
Ctek (pintu tertutup).
Alangkah terkejutnya dia melihat ruangan itu, bola mata kejang begitupun urat-urat dan tulang persemedian. Benda-benda aneh, dupa, kepala tengkorak yang di gantung dan isi sesajian di atas kain hitam. Asap hitam mengepul, sosok penampakan jin merah tersenyum meneteskan lendir ke tangannya.
“Argh! Argh!” jerit Maman.
Dia tidak bisa keluar, pintu besi terkunci hingga menghilang tanpa bekas.
...----------------...
Sepanjang perjalanan pulang akibat tidak fokusnya Dadar mengemudi, dia menabrak seorang pengendara sepeda motor yang melintas. Togarpun langsung keluar dari mobil dan memeriksa begitu juga dengan Tolu. Seorang pria berumur itu mengayunkan tangan ke arahnya, Togar dengan sigap menepis hendak membalas serangan. Tolu melerai pertikaian, tangannya yang dingin menahan tubuh keduanya.
“Gila, kuat sekali wanita ini!” gumam si pria.
“Unang songoni . Ho ndang pangodanghon parkaro ni on (Jangan begitu, kau jangan menambah perkara ini)” ucap Tolu bernada tajam khasnya.
Pria itu hanya terlihat lecet saja, sepeda motor yang tersenggol hanya tergores sedikit. Dadar berkali-kali menunduk meminta maaf kepadanya. Karena melihat pria itu masih tampak marah, Dadar menekuk lutut bergerak akan bersujud. Tolu menghalangi, dia meminta dadar kembali ke masuk ke dalam mobil.
“Sudah pak, jangan kau seperti itu. Biar aku dan Togar saja yang mengurusnya” ucapnya.
“Terimakasih banyak non, maafkan saya” ucapnya penuh rasa bersalah.
Togar menyodorkan sebuah cek untuk si pria itu. Tanpa mengucapkan apapun dia menjalankan sepeda motornya dan pergi. Tolu melihat aroma yang pernah dia rasakan di suatu tempat, keganjilan pria itu seolah sengaja mengambil kesempatan untuk melihat mereka.
“Siapa dia?” gumam Tolu.
Maman bersembunyi di bawa meja, dia melingak-linguk merangkak berpindah menuju ke sisi lain. Dia mendengar suara jeritan temannya. Rasa bingung, pikiran kacau bersama hawa mencekam menyebar mengganggu memperlihatkan penampakan sosok makhluk halus melihatnya di sudut dinding. Semakin mendekat terbang melebarkan kain hitam membungkus tubuh si preman.
“Argh! Ampun! Jangan bunuh aku!” teriak si preman.
Bau busuk menyengat, kain hitam mengikat erat dirinya. Di dalam dia sudah kehabisan nafas hingga jatuh pingsan. Sementara sosok lain yang datang melayang terbang berhamburan beramai-ramai mengitari. Mereka mengincar hawa murni manusia, secara brutal para mahkluk itu mengisap hawa si preman. Di tempat lain, Maman babak belur di hajar jin merah. Serangan terakhir yang akan di lancarkan oleh si jin adalah mengisap darah dari bagian urat nadinya. Maman yang tidak tahan dengan siksaan dan gangguan makhluk itu berlari terjun bebas ke luar jendela.
Prang (Suara pecahan kaca jendela).
__ADS_1
Pria itu tewas seketika, keadaan tubuhnya terlihat mengerikan.