
“Aku tidak tau pasti apapun yang mereka lakukan pada Ani. Tapi yang pasti semua gangguan hadir semenjak kehadirannya” ucap Serfani.
“Tapi aku mendengar perbuatan buruk mereka menganiayanya. Aku turut berduka atas apa yang menimpa mereka.” Jawab Tika.
Padepokan itu sedang di kacaukan atas kematian para Santriwati dan beberapa warga yang masuk ke dalam hutan. Masih banyak para aparat kepolisian berlalu lalang menyelidiki di tempat oleh TKP. Meskipun belum ada bukti yang kuat menemukan dalang pembunuhan yang di kabarkan adalah seorang pria penganut ilmu hitam.
“Aku yakin sekali bukan si Bromo yang mereka maksud. Coba kalian ingat kalau wanita itu adalah bagian dari keluarga dukun sakti inang Tolu” bisik para warga sekitar.
...----------------...
Virsa masih bersedih atas kematian Sinta, dia berharap agar secepatnya bisa pulang dan memberitahu kepada pihak keluarganya. Di sela rintik hujan pada pagi hari itu, Virsa merogoh kantung mencari dompet. Benda itu sepertinya terjatuh saat dia berlari menghindari si kepala putung tadi malam.
Tidak ada selembar uangpun yang terselip di dalamnya. Hanya telepon genggam yang terpaksa harus dia jual untuk ongkos kembali pulang. Tapi di perkampungan itu tidak ada kios ponsel atau penjual alat tukar barang elektroniik lainnya. Virsa duduk di bawah pohon menunggu Erin yang sedang menjemur pakaian di samping rumah.
“Vir, silahkan makan bersama Lala. Nasinya pasti sudah matang, cepat panggil Lala di kamarnya” ucap Erin sambil memeras pakaian.
“Saya belum lapar bu. ”
“Tidak perlu sungkan, anggap saja rumah sendiri. Oh ya, ibu sudah menyiapkan baju ganti di kamar mu.”
Virsa pun mengangguk menuruti perkataannya, dia mencari handuk lalu mencari kamar mandi. Berputar-putar di dalam rumah tapi kamar kecil itu tidak di temukan. Dia teringat sebuah tempat di dekat sumur yang berada di belakang rumah.
“Jangan-jangan disana kamar mandinya” gumam Virsa.
Kamar mandi darurat yang tidak ada penutup di atasnya. Di sela-sela bambu terlihat bolongan kecil yang memungkinkan orang dari luar bisa mengintip melihatnya. Virsa kembali ke kamarnya, dia mencari kain penutup sebagai alas mandi.
“Kak!” panggil Lala lalu mengusap mata.
“Lala, boleh kah kakak pinjam selembar kain panjang?” tanya Virsa.
__ADS_1
Lala pergi meninggalkannya, dia kembali menyeret kain panjang lalu memberika padanya. Terlintas di benak Virsa melihat kain panjang itu pasti sudah kotor menyapu lantai. Akan tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain.
“Terimakasih dik.”
Selesai berpakaian dan berkemas, dia mengisi lambung di rungan tengah beralas tikar bersama pak Narki dan ibu Erin serta anaknya Lala. Virsa membuka percakapan menanyakan makhluk kepala putung yang telah membunuh temannya Sinta. Mendengar nama itu disebut, pak Narki tersedak hingga matanya melotot sambil memegang lehernya sendiri. Erin menepuk pundaknya, dia memberikan segelas air lalu mengusap punggung pak Narki yang terus-menerus terbatuk.
“Pelan-pelan pak” ucap Erin.
“Ibu, apakah kepala putung itu akan kembali? Apakah dia akan memakan ku?” tanya Lala.
“Tidak ada yang akan memakan mu. Ibu dan bapak akan selalu menjaga mu nak” jawab Erin.
“Uhukk, uhuk, Maaf sebelumnya mbak Virsa kenapa bisa sampai kesini?” tanya Narki.
Virsa pun menceritakan semua kejadian yang dia alami bersama SInta. Kini dia menyampaikan keluhan ingin segera pulang meski hanya berbekal sebuah ponsel. Narki menoleh melihat Erin, mereka tidak memiliki uang untuk membantu wanita itu. Erin melepaskan cincin di tangannya lalu memberikannya pada Virsa.
Melihat kebaikan mereka, Virsa jadi tidak tega untuk menerima ataupun menjadi beban bagi keluarga itu. Dia menjadi serba salah memikirkan langkah selanjutnya, Virsa memutuskan untuk pulang di hari esok dengan berjalan kaki sebelum senja tiba.
“Vir, hal itu akan beresiko. Ibu tidak mau terjadi sesuatu pada mu. Biar bapak antar kamu besok sampai ke perbatasan” ucap Erin.
...----------------...
Mengobrak-abrik jiwa, sosok yang terlihat mengintai wanita duduk termenung di dalam sebuah kamar kosong. Ikatan tubuhnya sudah di lepas para suster, dia terkadang mengeluarkan suara aneh dan mencakar dinding. Setelah semua kejadian di padepokan, salah satu dukun di balik tirai kejahatan ters mengganggu. Salah satunya untuk membalaskan dendam pada Tolu yang sudah menggagalkan rencananya mengirim teluh pada orang yang di tuju.
“Non, sudah waktunya minum obat” ucap suster.
Ani menepis gelas dan obat yang di berikan, dia memalingkan wajah lalu berjalan menjauh. Suster itu tetap sabar menghadapi kelakuannya. Dia membersihkan serpihan gelas kaca lalu perlahan menutup pintu. Di sudut ruangan, terlihat penampakan sosok putih mengulurkan tangan, dia terbang mendekat masuk ke dalam tubuhnya.
“Kak Ani!” gumam Tolu melotot.
__ADS_1
Dengan menggunakan mata setan dia melihat sang kakak kerasukan. Tolu menggendong Sadam sambail meraih tas selempang dan kunci mobil. Dia berkendara menuju rumah sakit, ada jin merah kecil dan beberapa perewangan yang mengikutinya. Sesampainya disana, dia lmenemui suster penjaga. Tampak jam waktu menjenguk hanya di perbolehkan di pagi dan siang hari sesuai waktu yang di tentukan.
“Maaf bu, anda bisa kembali hari esok” ucap suster.
“Tolong beri aku ruang beberapa menit saja untuk melihat keadaan kakak ku” ucap Tolu sambil mengayun Sadam di pundaknya.
Melihat kehadiran Tolu, suster kedua yang baru saja tiba itu tersenyum tipis lalu menanyakan keperluan apa yang membuat dia datang.
“Nyonya maaf sebelumnya jika anda ingin berjenguk pasien maka kami akan memberikan waktu hanya sepuluh menit saja” ucap suster tersebut.
“Terimakasih, tolong bawa aku ke ruangan itu.”
Suster pertama menarik lengan temannya, dia melotot namun temannya itu berbisik sangat pelan membawannya berjalan menjauh. Setelah mendengar perkataannya dia mengernyitkan dahi menoleh ke arah Tolu.
“Kau ingat siapa dukun sakti yang di bicarakan salah satu pasien? Dia orangnya”
“Apa?"
Suster kedua itu berjalan membawa senter menuju ruangan Ani. Pemadaman Listrikmenambah kesan angker saat berjalan dengannya. Tangan suster bergetar membuat cahaya penerangan menjadi tidak fokus.
“Sus, sini biar aku saja yang memegang senter” ucap Tolu.
Terdengar suara mengikuti perkataan wanita itu, suster tersebut memberikan senter berjalan berdampingan dengannya. Aroma sirih menyengat pada tubuh wanita yang dia takuti itu, sesekali melihat bayi yang seolah sedang membuka mata menatap tajamnya.
“Ini Cuma ilusi ku saja” gumam si suster.
Jin merah kecil bersembunyi di sela tubuh Sadam, dia tersenyum mengganggu mengeluarkan kuku tajam memanjang hampir merobek ujung topinya. Tolu menghentikan langkah, sosok jin itu menghilang, sedikit lagi si suster menjerit histeris.
“Cepat buka pintunya sus” ucap Tolu.
__ADS_1