
“Tolu! Buka pintunya!” teriak Togar.
Perlahan gagang pintu itu bisa mendorong terbuka, dia memeluk sang istri erat. Tolu mendorong tubuhnya, dia menekan rasa cinta dan sayang yang hadir menjadi terlalu besar di dalam lubuk hatinya.
“Sudah, aku kan meminta mu menjaga Sadam” ucap Tolu ketus.
“Anak kita baik-baik saja, suami mana yang tega meninggalkan istrinya di luar sana dengan makhluk mengerikan itu?”
“Stthh! Sudahlah ayo kita kembali ke ruang makan.”
Tina sudah selesai membersihkan pecahan piring. Walau dia masih sangat ketakutan, sesuai pesan bi Tuti agar dia tetap kuat dan bertahan. Bi Tuti mengusap punggungnya, manik mata memperlihatkan sebuah pesan yang tersirat sehingga Tina hanya mengangguk lalu kembali melanjutkan pekerjaan lain. Sadam sudah tidur di dalam box bayi, selesai makan makan berakhir tidak menghentikan kegiatan Tolu kembali menuju kamar khususnya untuk melakukan ritual maupun persemedian.
“Malam ini kau jaga Sadam sampai aku kembali masuk ke kamar, banyak hal yang harus aku lakukan” ucap Tolu pergi menutup pintu tanpa menungggu jawabannya.
Togar menghela nafas panjang, dia membuka layar laptop menunggu rasa kantuk yang belum tiba. Dia menyelesaikan pekerjaan kantor sampai jam dua pagi. Sebelum tidur, dia membuka pencarian situs di internet mengenai sosok kepala putung. Kuyang, itu adalah istilah umum atau sosok makhluk kepala putung penganut ilmu keabadian sehingga tidak pernah bisa musnah sekalipun telah di binasakan. Tapi, Togar menemukan banyak pendapat lain dari sosok ini. Hal itu membuat isi kepalanya berputar memikirkan semua yang telah dia alami.
“Ah sudahlah, apapun makhluk yang mengganggu. Semoga keluarga ku baik-baik saja” gumam Togar kemudian menoleh melihat Sadam.
Dia memindahkan Sadam tepat di sampingnya, terlihat kaki dan tangan anaknya telah terpasang gelang bertali merah, hitam dan putih. Mengingat sosok jin merah yang pernah memindahkan anaknya, Togar memasang posisi berjaga dan menyalakan alarm mode getar di sisi lain untuk membangunkan dirinya setiap satu jam sekali.
“Bayi ku yang baik budi, ayah baru saja memejamkan mata dan mendengar alarm ini. Syukurlah suara berisik ini tidak membangunkan mu” ucap Togar sambil merapikan selimut sang bayi.
Lingkar mata panda Togar tidak bisa di tutupi, menjelang pagi hari maka dia bersiap untuk pergi sebelumnya berpamitan kepada istrinya.
“Aku tidak menepati janji akan kembali ikut tidur di samping Sadam. Semalaman aku berjaga agar kepala putung itu tidak kembali” kata Tolu.
__ADS_1
“Tidak apa-apa sayang, aku pamit ya.”
...----------------...
Embun pagi, hawa dingin dan udara yang lembab membuat kaca rumah berembun di tambah rintik gerimis hujan begitu rapat menyemai angin kencang menerbangkan dedaunan kering. Bersiap menghadapi penampakan dan gangguan lainnya. Tina mengintip dari balik jendela dapur, beberapa detik dia terkejut mendengar suara bel rumah.
“Astaga, aku pikir tadi hantu!” gumamnya lalu mengelus dada.
Dia mempercepat langkah membuka pintu, kedatangan dua wanita muda membawa beberapa tas dan masing-masing koper di tangan mereka. Di dalam mobil keluar Semi, dia tampak sibuk membuka isi bagasi dan menurunkan bungkusan dan keranjang ke teras rumah.
“Selamat pagi, kami adalah baby sister yang di tugaskan oleh pak Togar” ucap kedua wanita itu.
“Oh, tolong tunggu sebentar. Saya panggil nyonya besar terlebih dahulu” ucap Tina berlari mencari sang majikan.
Sesudah memberitahu Tolu, dia mengambil alih menjaga Sadam di ruang bayi. Namun, kakinya terasa ada yang menyentuh. Mata Tina melirik ke bawah, sebuah tangan dengan jemari teramat panjang masuk kembali ke kolong box Sadam.
Tina membuka lemari untuk mencari kain panjang lalu mengangkat Sadam. Dia menggendong dan membawanya ke luar supaya menghindari hal yang tidak di inginkan seperti gangguan tadi. Sementara dari balik ruangan lain, terlihat si mbok sudah sibuk membawa nampan yang berisi beberapa cangkir dan teko menuju ruang tamu. Dia memperhatikan banyak sekali bingkisan dan oleh yang di bawa oleh tamu tersebut. Si mbok kembali ke dapur, dia pun menghampiri dan mencium punggung tangan wanita itu.
“Kemana saja mbok? Aku sangat khawatir” ucap Tina.
“Si mbok hanya sedikit pusing, jadi kemarin beristirahat di rumah sampai lupa memberitahu nyonya dan tuan. Bagaimana kabar mu? Sadam terlihat tertidur pulang di dalam gendongan kain panjang ini” kata si mbok gerakan tangan mengusap pelan rambutnya.
“Kabar ku baik mbok, siapa pria yang di sofa ujung itu mbok?”
“Oh, dia adalah sahabat karib tuan besar. Ibunya juga kadang berkunjung kesini.”
__ADS_1
“Bu, apakah pekerjaan ku sudah beres?” tanya Tono yang tiba-tiba datang membawa tumpukan alat kebersihan.
“Belum, lantai atas masih kotor. Sebelumnya, bersihkan kamar tamu untuk di tempati baby sister yang akan mengurus Sadam” kata si mbok.
“Tapi bu, ada banyak kamar tamu. Terlebih lagi, kamar-kamar kosong itu pasti berhantu”
“Apa sekarang kau berani membantah?” ucap si mbok melotot.
Tono berlari meninggalkan mereka, Tina hanya tersenyum tipis melihat tingkahnya. Terlintas di benak bahwa para baby sister itu pasti akan mati ketakutan mendapatkan gangguan ghaib.
“Mbok, aku akan berkeliling sambil membawa Sadam. Kalau boleh jujur, aku tadi di ganggu ketika menjaganya sendiri di kamar bayi” kata Tina lalu menunduk.
“Yasudah, segala cara harus di sikapi dengan matang. Kita harus bertahan untuk membantu tuan dan nyonya” pinta si mbok.
...----------------...
Hari pertama bekerja sebagai baby sister, salah satu wanita berkulit sawo matang itu di kejutkan dengan sebuah jeritan panjang dari balik dinding. Dia menempelkan telinganya, mendengarkan suara jeritan bercampur lengkingan panjang memekik telinga. Seperti ada benda dingin menyentuh pipinya, dia menjauhkan diri sampai terjatuh ke lantai.
“kamu kenapa Sin?” tanya Virsa membantunya berdiri.
“A_a_ada sesuatu di balik dinding itu” tunjuknya ketakutan.
“Apa yang kamu dengar? Aku tidak mendengar apapun. Cepat, kita harus menjaga bayi Sadam” ucap Virsa meninggalkannya.
Kamar bayi terlihat sangat mewah, ukuran sangat besar di tambah dua buah lemari yang terbuat dari kayu jati di lengkapi segala keperluan bayi dan berbagai macam pajangan mainan yang berjejer di bagian sisi kanan dan kiri ruangan. Tercium bau anyir menyengat, virsa mendekati tirai putih seperti ada sosok hitam besar berdiri di baliknya. Tangannya bergetar meraih tirai penuh rasa takut menyibak perlahan melihat sosok tadi telah menghilang.
__ADS_1
Di sisi lain tempat dukun muda daerah barat daya, api menyala berkobar di dalam perapian, rumah tua itu di kelilingi berbagai macam tulang hewan. Sosok pria berpakaian hitam memakai blankon sedang menatap api sambil mengucap mantra berkali-kali menyebut nama Tolu.