
“Sudah beberapa jam Dodon dan para algojonya berputar-putar melewati palang pembatas perkampungan. Salah satu mobil mereka mogok sehingga mereka menepikan tiga kendaraan lain di pinggir jalan.
“Tuan, kita sudah melewati tempat ini lebih dari tiga kali” ucap salah satu Algojo.
“Apapun caranya, kita harus sampai ke rumah dukun itu! Cepat carikan aku seorang dukun sakti untuk membantu kita” perintah Dodon.
“Ya tuan.”
Tidak ada dukun yang berani setelah mendengar sasaran adalah sosok Tolu. Mata Dodon merah padam, urat leher mengeras dan tangan mengepal sekuat-kuatnya.
“Katakan pada salah satu dukun itu bahwa aku hanya meminta bantuan mengantarkan ke rumah si Tolu!” bentak Dodon.
Amarah bagai semburan lahar api, keinginan kuat untuk membalaskan dendam di balik keingkaran perkataan dalam keinginan. Dodon memaksa dukun tua untuk membantu menyerang Tolu karena sudah melayangkan nyawa anaknya.
__ADS_1
“Tapi tuan, saya takut karena kekuatan ku tidak sebanding dengan dukun Tolu. Aku hanya bisa mengantar mu di depan rumahnya saja” ucap si dukun.
“Apa? Kau mau mati di pukuli para algojo ku? Cepat penuhi keinginan ku!” ucap Dodon kasar mengangkat kerah bajunya.
Dukun tua itu merasa berada di dalam posisi yang sulit, jika dia menerima kehendak Dodon maka dia akan mati di tangan Tolu dan jika melawan berdampak buruk akan serangan oleh para algojo.
“Pasti aku akan tewas jika di pukuli semua algojo itu” gumam si dukun.
Dia mengambil langkah penyelamatan tunggal, menyerang Tolu dengan memanfaatkan sumber tubuh Dodon. Si dukun beralasan meminta Dodon sebagai mediasi ritual sebagai peran satu aliran darah ayah kandung. Tengah malam Dodon di ikat di salah satu pohon dekat rumah Tolu, dengan rasa percaya pria itu menunggu aba-aba dan perintah dari si dukun.
“Aku tidak perduli apapun lagi asal bisa menyerang dan membalaskan dendam atas kematian putra ku” ucap Dodon kemudian memejamkan mata.
Hitungan sepuluh detik, angin menggulung menampar tubuh Dodon. Dia membuka rahang mengucapkan teriakan suara yang tidak terdengar. Pita suara terkunci membisu, rasa sakit tidak terhingga menyerang tubuhnya.
__ADS_1
“Pak, sepertinya kita harus melepaskan ikatan di tubuh tuan besar” ucap salah satu algojo.
“Tidak bisa di tarik lagi, dia sudah memutuskan untuk menyerang dukun sakti,” kata si dukun.
Ilmu hitam Tolu terbang, serpihan berwujud hewan melata melata memasuki rongga hidung, mulut dan telinga Dodon. Dari dalam kulit dan darahnya di hisap mengeluarkan darah hitam, menggeliat keluar masuk menembus pori-pori. Para algojo tidak berani membantunya, mereka semua melarikan diri ketakutan meninggalkan mereka berdua. Dodon meninggal, bola mata menghilang dengan tubuh yang tidak utuh lagi.
“Pak, ini akibat kau terlalu memaksakan keinginan yang membabi buta” ucap si dukun di depan mayatnya yang membusuk lalu berjalan pergi.
Menjelang pagi hari, salah satu warga kampung yang melewati jalan dekat rumah Tolu di kejutkan dengan mayat yang terikat di pohon. Ibu muda itu menjerit ketakutan, dia berlari pontang-panting menyampaikan kabar ke rumah kepala desa.
“Mayat! Ada mayat yang terikat di pohon dekat rumah bu Tolu” ucap wanita muda itu.
Perkampungan terkesan mendadak tenar di pagi hari, para wartawan datang silih berganti untuk mencari tau kabar mengenai kematian Dodon. Begitupun warga kampung berbondong-bondong melihat keadaan jasad yang di kabarkan terkena ilmu hitam.
__ADS_1
“Sekarang aku semakin takut pada Tolu. Apakah dia pelakunya?” bisik salah satu warga.