
Mereka meninggalkan mobil di depan rumah tua itu, berjalan mengikuti arah yang di katakan lelaki tadi. Jalan kecil tergenang air berlumpur, di sebelah kanan kiri pohon yang berukuran lebih besar terikat kain berwarna merah dan hitam. Mereka mencari kuburan yang di maksud, area gersang di penuhi rerumputan liar memanjang menutupi pandangan.
“Apakah ini sudah benar jalannya?” ucap pak Bram.
“Ya tuan, disana sudah kelihatan sebuah beberapa kuburan” tunjuk Seto.
“Hei, pantangan menunjuk kuburan atau jari mu akan bengkok. Cepat basahi jari telunjuk mu dengan air liur sebanyak tujuh kali” kata Bram.
Seto pun menuruti sang majikan, mereka meneruskan langkah menuju kuburan yang di sambangi lelaki tua dengan asap yang mengepul di sekitarnya.
“Siapa kalian?” tanya lelaki itu.
“Kakek, maaf kami mengganggu. Apakah kakek dukun Kartim?” tanya Seto berjongkok mendekati.
“ya, ada perlu apa kalian mencari ku?”
“Kek, kami ingin meminta bantuan” ucap Bram.
“Tunggu saja aku di rumah, ikuti jalur setapak ke arah sana. Jaraknya Kira-kira hanya 1 kilo meter dari sini. setelah selesai aku akan pulang.”
“Baik kami akan menunggu kakek disana.”
Matahari sudah tergelincir tapi batang hidung si kakek tidak muncul juga. Pak Bram mengusap kepalanya, dia sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia menyuruh Seto menyusul, tapi saat akan beranjak dari tempat duduk. Si kakek tua datang berjalan melotot masuk membanting pintu.
“Sebaiknya kalian pulang saja. Aku tidak mau berurusan dengan wanita ganas itu!"
“Apa yang membuat jalan pikiran mu berubah?” tanya Bram sedikit kesal.
“Wanita itu bukan wanita biasa. Aku tidak mau membuatnya marah!” bentak si pria tua.
“Apakah yang kau maksud adalah menantu ku?” tanya Bram.
“Sosok wanita setengah siluman yang berilmu tinggi yang tidak pernah melepaskan orang yang mengganggunya” ucapnya.
__ADS_1
“Kakek mohon tenang dan bersabar, tuan besar tidak mungkin melukai menantunya sendiri. Ijinkan beliau menyampaikan keinginannya terlebih dahulu” kata Seto dengan sopan.
“Baiklah, aku akan mendengarkannya.”
Diskusi panjang, bertanya dan mencari tau apapun yang dia ketahui tentang sang menantu. Setelah mendapatkan segala keterangan dan informasi, perlahan dia Bram menanyakan cara agar menantunya bisa perlahan lepas dari belenggu ilmu hitam.
“Apakah kau sudah gila? Cepat pergi!” bentak si pria tua.
Amarahnya sudah tidak terkendali, dia ketakutan sampai kehilangan setengah energi akibat menembus segala bentuk hal terkait Tolu. Seto mengeluarkan beberapa tumpukan uang yang berada di dalam koper Bram.
“Tolong kakek pikirkan sekali lagi, tuan besar akan menambah nilai nominalnya” ucap Seto.
“Ini bukan tentang uang, tapi banyak nyawa yang akan melayang. Jika aku memaksa maka kau ikut mati!”
“Apapun yang terjadi, Togar harus berdampingan dengan wanita yang tidak di gandrungi masalah mistis. Terlebih lagi menantuku itu sedang mengandung. Aku terima semua resikonya” kata Bram.
“Baik jika itu mau mu. Aku akan melakukan persembahan di kuburan keramat” ucap si pria tuan.
“Ya, aku mau anak menantu ku bahagia.”
“Tapi tuan, bagaimana jika usaha ini gagal?”
“Setidaknya aku sudah memberikan segala upaya dan berkorban apapun untuk mereka.”
Persyaratan sesajian harus di sediakan dalam jangka waktu tiga hari, sebelumnya si pria tua mengajak Bram meminta ijin dengan memberikan tanda meneteskan darah di bagian kepala kuburan keramat. Luka bekas irisan tangan itu dengan sapu tangan yang di sobek.
...----------------...
“Togar, cepat susul ayah. Dia sedang berada di sebuah perkampungan yang letaknya tidak jauh dari sini. Perkampungan kuburan keramat” ucap Tolu.
“Ayah tidak mengatakan akan pergi kesana hari ini, aku akan menelepon untuk menanyakan langsung” ucap Togar.
“Tidak, anggap saja kita tidak mengetahuinya. Kau harus kesana tanpa unsur kesengajaan. Cepat pergilah sebelum terlambat.”
__ADS_1
Pikiran Togar tidak tenang, dia melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Mencari alamat yang di katakan oleh Tolu, saat mendekati lokasi dia turun dari kendaraan dan bertanya kepada salah satu warga kampung. Memasuki area jalan setapak dan kecil, hampir saja dia tergelincir posisi tangan berpegang pada batang pohon. Suara burung hantu nyaring terdengar. Dia menyorot senter memergoki sang ayah, Seto dan seorang pria tua sedang bersujud di depan kuburan.
“Ayah hentikan! Apa yang engkau lakukan di tempat ini?” ucap Togar menarik tangannya.
Sepanjang perjalanan, Bram hanya terdiam membisu. Seto mengikuti dari belakang merasakan ada sosok lain yang ikut menumpang di kursi bagian belakang. Dia mengarahkan kaca depan lebih sedikit miring ke samping. Sosok wujud laki-laki besar bertanduk merah menyeringai melotot mencekik lehernya. Seto kehilangan keseimbangan, dia melakukan rem mendadak hingga menabrak sebuah pohon di sisi kanan jalan. Togar memutar haluan kendaraan terkejut menyaksikan mobil penyok mengeluarkan asap. Mereka langsung menolong Seto keluar dan membawanya ke dalam mobil Togar.
Mobil itu di tinggalkan begitu saja, mereka melarikan Seto ke rumah sakit. Di ruang tunggu, Togar meminta pada sang ayah menjelaskan maksud keberadaannya dan Seto di depan kuburan keramat.
“Bukan kah sudah jelas, ayah hanya mau kau hidup tenang bersama menantuku” kata Bram.
“Tidak dengan cara seperti itu, ayah biarkan aku memutuskan pilihan hidupku. Aku sudah dewasa!” Bram meninggalkan Togar, dia mencari tumpangan taksi untuk pulang ke rumah.
Menggigil tubuh Bram setelah melakukan transaksi ghaib dengan si pria dukun tua. Dia tidak sedikitpun menyesali hal yang sudah di lakukan. Terlebih lagi, hidupnya sudah sangat kesepian tanpa kehadiran Mawarni. Menyadari setelah mengenal Tolu, hidup Bram tidak bisa tenang terganggu berbagai penampakan yang tidak pernah dia ceritakan pada siapapun.
“Mawarni, bawa saja aku bersama mu. Aku gagal membimbing anak kita, maafkan aku” gumam Bram mengusap foto sang istri.
Dahulu anak satu-satunya itu adalah seorang yang taat ibadah, tapi semua berubah setelah dia bertemu Tolu hingga menentang Bram agar bisa menikah dengannya. Tanpa ada rasa kebencian, Bram hanya merasa menyesal berpindah dan melakukan nomaden terakhir kali dari kota seberang ke perkampungan ini.
...----------------...
Wajah murung Togar menyusul Bram ke rumah, dia menekan bel rumah berkali-kali sampai Tina membuka pintu.
“Maaf bibi ketiduran den” ucap Tina.
Togar berlari memasuki ruangan kerja, kamar dan balkon. Dia tidak menemukan dimana keberadaan sang ayah. Bram terduduk di sudut dinding kamar mandi, Togar membantunya berdiri mengarahkannya duduk di kursi.
“Ayah, maafkan aku jika menyinggung mu” ucap Togar pelan.
“Setidaknya kau sudah berhasil menjadi anak yang pembangkang. Almarhumah ibu mu meletakkan harapan yang besar agar kau bahagia.”
“Ayah, ikhlaskan aku meniti rumah tangga bersama Tolu. Wanita yang kucintai, dia adalah kebahagiaan ku dan kini aku akan menjadi seorang ayah.”
“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Pulanglah, Tolu pasti menunggu mu di rumah.”
__ADS_1