Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Mantra pembangkit jin


__ADS_3

Teriakan seorang tamu yang baru saja tiba, dia melepaskan jilbab gerakan bergulat mencakar tanah. Wanita itu mempunyai kodam di dalam tubuhnya yang terkena hawa benturan ghaib pada salah satu sosok makhluk. Jeritan melengking melebihi suara ramai di pesta, kesurupan dua orang anak kecil kejang-kejang memanjat pohon.


“Ucok ayo turun!” teriak salah satu wanita tua dari bawah pohon.


Sebagian orang meninggalkan pesta, mereka sibuk menonton acara kesurupan. Ustadz Gersan mengambil tindakan meminta para tamu kembali ke meja meja sedang yang kesurupan di bawa ke surau terdekat. Ustadz di bantu oleh para petuah kampung lain menyadarkan mereka. Ani semakin mengerutkan dahi, gelisah tidak tenang hingga tanpa sadar hijab yang menjuntai terlepas sendiri membentuk model aneh.


Sosok kuntilanak mengganggunya, Tolu tidak mengetahui serangan makhluk ghaib pada sang kakak. Tofha melihat keanehan pada Ani, diapun membantu Ani memasangkan hijab selayar itu dengan kelembutan. Beberapa para tamu menyaksikan keromantisan kedua pengantin menebarkan senyuman ke arah mereka.


“Sudah cukup mas, aku malu,” ucap Ani.


Stef naik ke pelaminan meminta Ani dan Tohfa memasuki ruangan pengantin untuk berganti busana. Gangguan kembali terjadi , kaki Ani terasa sangat sakit. Sosok kuntilanak menahan hingga memuntahkan belatung dan darah mengakibatkan bau amis pada Ani. Para perias yang sibuk mengganti busananya memakai masker dan sesekali menjauh. Si mbok yang tidak sengaja melewati ruangan itu ikut memperhatikan hal yang terjadi pada Ani. Dia berjalan terburu-buru mencari Tolu untuk memberitahu yang terjadi.


“Mbok, sekarang bawa kak Ani ke ruangan pribadi ku” ucap Tolu.


“Baik non.”


Ani menghentikan hiasan berjalan menaiki anak tangga ke lantai atas, merinding bulu kuduknya merasakan sosok lain seolah berdiri di samping. Dia dilemm besar, membacakan surah ayat suci Al Qu’an di dalam ruang ritual sang adik.


“Maafkan aku dik” gumamnya.


Meneruskan membaca surah dan berdzikir, tulang kepala tengkorak terbang membanting dinding. Jendela pecah dan tirai menggulung tubuhnya.

__ADS_1


“Arghh!” jerit Ani.


Tolu membuka balutan kencang tirai yang mengikatnya kemudian menggenggam tangan sang kakak, meminta dia meminum air yang sudah dia isi dengan mantra.


“Kakak, tidak ada pilihan lain. Aku tidak bisa di sisi mu selama dua puluh empat jam, akan ada kematian di hari ini jika kau tidak meminumnya” ucap Tolu.


“Tidak, aku sudah berjanji pada Tohfa untuk meninggalkan kegelapan,” jawabnya menahan tangis.


“Kakak, kau mau tetap bersama Tohfa tidak? Semua keputusan di tangan mu. Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu” ucap Tolu pergi meninggalkannya.


Ani benar-benar menangis di hari bahagianya, tangisan kesedihan yang mendalam akan cobaan hidup. Dia tidak bisa mengingkari gangguan beruntun yang menyerang dirinya. Kakinya semakin kaku, kulit gosong keriput. Dia bercermin melihat wajahnya hampir setengah buruk rupa. Posisi tubuh tumbang memukul dirinya sendiri.


“Apa yang harus aku pilih?” gumamnya.


“Maafkan aku mas Tohfa” ucapnya bernada lirih.


Efek setelah meminum air berubah dratis pada dirinya. Rasa sakit pada kaki menghilang seketika, kulitnya perlahan menguning dan wajahnya kembali seperti semula. Dia kembali berhias, aroma anyir melekat tidak lagi tercium oleh para perias manten. Busana selayar putih indah terdapat bouquet bunga di mawar putih di tangan. Ani dan Tohfa menaiki pelaminan kembali di iringi musik lantunan yang syahdu.


Hujan perlahan turun, angin kencang di tambah petir menggelegar di angkasa. Para tamu undangan basah kuyup karena air hujan di tengah angin kencang yang sangat dahsyat melanda perkampungan itu. Guyuran air tumpah tidak terkendali, Tolu berdiri di bawah hujan memukul tanah sebanyak tiga kali dalam hati mengucap mantra.


Di tidak merasakan hujan dan bencana ini berasal dari makhluk ghaib atau serangan sihir di udara. Siapa yang bisa melawan kehendak illahi? Tidak ada yang bisa menghentikan apapun di dunia ini sebab yang Maha Kuasa mengatur segala urusan di langit dan di bumi. Hujan berlangsung selama satu jam lamanya mengakibatkan genangan air banjir sampai semata kaki.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka, dukun sakti sekalipun bisa di kalahkan ilmu yang lain. Kira-kira dukun siapa di balik semua ini?” bisik seorang pria ke temannya.


“Entahlah, menurut kabar jika tidak ada yang bisa mengalahkan atau menyakiti Tolu. Hari ini tampak masih menjadi tanda tanya bagi semua orang,” sahut Tono.


Si mbok melambaikan tangan ke arahnya, hidangan di piring dia tinggalkan berlari menghampiri si ibu. Masih ada sisa nasi di bibirnya, si mbok menarik sedikit telinga anaknya itu lalu menariknya masuk ke dalam.


“Dasar kau, ibu selalu berpesan agar jangan bercengkrama di depan makanan. Nasi mu sampai tidak terasa sampai menjadi hiasan di wajahmu, cepat bersihkan!” ucap si mbok.


“Ya bu, ada apa ibu memanggil ku?”


“Bantu ibu membuat lubang untuk membuang air yang tergenang” perintah si mbok memberikan cangkul ke tangannya.


Tolu mencari cara gara hutan berhenti, meskipun harus mengorbankan semua tenaga dalam atau dirinya sendiri. Dia tidak mau sang kakak bersedih atau semua orang kampung berpikir bahwa ilmunya sudah tidak berarti lagi. Di dalam ruang persemedian, Tolu menghidupkan boneka jerami dengan darahnya. Dia menyayat telapak tangan kirinya yang bertanda hitam, meneteskan di sekujur tubuh boneka jerami. Benda mati itu hidup menjadi makhluk kecil berwarna merah memiliki taring panjang kini menatapnya.


Ale ni begu pangingani na mangolu dang mata hehe ma au mamanggil mi bangkit be tumpaki daro hu nion hata-hata hu.


Suara aneh memekik makhluk meringkik melingkarkan di telapak tangan bekas luka. Dia masih sibuk menikmati sisa darah Tolu, tubuhnya di genggam kuat dengan tangan kanannya. Dia melemparkan keluar dari jendela, sosoknya berubah wujud menjadi api di depan atap membentang payung hitam raksasa. Seketika hujan berhenti, sosok tersebut di beri tambahan kekuatan menghempas mantra menyalurkan sihir hitam.


Seketika hujan berhenti, genangan air di tutup dengan karpet merah yang di pesan oleh Togar. Bukan hanya itu, semua kekurangan dan kerusakan property pelaminan langsung di tangani dengan cepat oleh kaki tangan pak Bram. Pak Seto juga andil membantu prosesi acara, setelah keluar dari rumah sakit dia langsung turun tangan bekerja kembali pada Bram.


Situasi mereda, para tamu berdatangan memadati acara pesta. Tampak rombongan memakai baju kebaya lengkap mengenakan hiasan sanggul dan tusuk konde naik ke atas pelaminan memberi salam pada Tohfa dan Ani. Masing-masing dari mereka membawakan satu keranjang besar yang berisi berbagai peralatan dapur. Bukan hanya itu saja, terlihat beberapa bucket uang tampak apik di hiasi pita besar sebagai hadiah untuk mereka.

__ADS_1


Tolu (wahai para makhluk penghuni yang hidup tidak kasat mata. Bangkitlah, aku memanggil mu, bangkit lah bantu aku. Dengan darah ku ini, patuhi kata-kata ku).


__ADS_2