Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Nafas di ujung tenggorokan


__ADS_3

Di bulan angker ini, banyak pemuja setan yang memiliki ilmu ghaib merasa sangat kehausan. Darah bagai air minum yang di teguk. Bergetar dahaga tenggorokan, Tolu melompat keluar jendela akibat tidak tahan merasakan haus. Pak Dadar terkejut menyorot senter melihat Tolu merangkak melompat dari gerbang pekarangan. Senternya terjatuh karena sangking ketakutan dia berlari masuk ke dalam pos penjaga dan menguncinya rapat-rapat.


“Apakah tadi yang ku lihat adalah nyonya besar Tolu? Atau hantu?” gumam Dadar.


Tolu berlari ke dalam hutan tanpa alas kaki menggunakan baju tidur berwarna hitam. Meski setengah tubuhnya di kuasai iblis, dia sudah menanamkan tekad melawan diri agar tidak sampai minum darah manusia. Mata setan bersinar di malam hari, kuku setan berkerlap-kerlip memberi penerangan meski malam mencekam di hutan di tutupi kabut tebal.


Seekor serigala yang melintas di sambut si dukun Tolu menggunakan cakaran kuku dan cekikan. Hewan itu mati di cabik dan hisap darahnya hingga habis. Belum selesai menikmati darah hewan bertaring yang berukuran besar, sosok kepala pung terbang di atasnya. Dia seolah menginginkan isi organ yang terbuka pada perut di serigala. Tolu mengusir makhluk jadi-jadian itu dengan sihir yang dia miliki.


“Hiii, hi” suara aneh memekik telinga.


“Pergi!" bentak Tolu.


...----------------...


“Siapa dia?” ilmu hitamnya sangat tinggi. Tapi aku merasakan ilmu putih yang dia miliki dari kejauhan. Dia manusia biasa tapi wujud aslinya sudah di setengah setan. Tidak ada yang aku takuti sebelumnya” ucap seorang wanita memasukkan kembali kepala ke dalam tubuhnya.


Dia adalah wanita si kepala putung yang berwujud manusia. Seorang penganut ilmu sesat yang tinggal di bagian ujung perkampungan. Beberapa warga yang nekad sering meminta pertolongan dengannya kebanyakan berakhir secara tragis. Desas desus orang pintar yang berkedok sebagai wanita tua memakai pakaian kebaya mengatakan dia adalah wujud kuyang yang suka memakan bayi orang yang melahirkan dan darah manusia.


Parmo dan Sika membawa Parta menuju ke tempat orang pintar itu berada, di tengah perjalanan mereka di hadang seekor ular melingkar. Perasaan Sika mengatakan bahwa ular yang menghalangi jalan menuju tempat mereka pergi akan mendapat bahaya yang mengancam. Tapi Parta malah memukul ular dengan batu dan memindahkannya di sisi jalan bagian kanan.


“Pak, kau tidak perlu sampai membunuhnya. Darah hewan yang kau bunuh itu pasti akan menuntut balas” ucap Sika.


“Ah tidak mungkin. Aku tidak percaya perkataan tahayul itu” sahut Parmo.


“Bu, badan ku sangat gatal sekali. Sebaiknya kita pulang saja.”


“Tidak, ayo perjalanan kita sudah dekat. Ayo masuk ke dalam mobil kembali” ucap Parta.

__ADS_1


Di sebuah rumah yang terbuat dari papan dan kayu itu di kelilingi dengan tali berwarna hitam, ada banyak kepala tengkorak berserakan di depannya. Merinding bulu kuduk mereka berjalan perlahan mengetuk pintu.


“Masuk” ucap suara dari dalam.


Pintu terbuka dengan sendirinya, di dalam sana seorang nenek tua mempersilahkan mereka untuk duduk di atas tikar. Dia melirik Sika, wanita keturunan bangsawan itu terasa harum semerbak di rongga hidung si wanita kuyang. Incaran darah murni sudah di dapat wanita itu, dia menyodorkan segelas air putih untuk mereka minum.


“Habiskan” ucap si nenek tua.


Dia tersenyum menyeringai melirik Sika. Wanita si kuyang yang sudah tidak sabat itu meminta Sika lebih mendekat di sampingnya.


“Hei kau, mendekat lah. Aku akan menyelesaikan semua masalah mu” ucapnya.


“Begini nek, kedatangan ku kesini untuk mengobati anak ku Parta. Semenjak kasusnya melukai dukun Tolu, muncul penyakit yang tidak bisa di sembuhkan” ucap Sika.


“Berikan ujung rambut mu pada ku” ucap si wanita tua.


“Bagaimana? Apakah sudah hilang rasa gatal dan perih itu?” ucapnya.


“Sudah nek. Pak, bu! Aku sudah tidak merasakan gatal dan sakit lagi. Ahahah” keras suaranya menjawab di campur tawa.


“Tapi kekuatan ku hanya bisa sementara menyembuhkan mu. Dia akan mengetahui dan marah malah berbalik menyerang ku. Kau sudah melukai dukun Tolu maka harus ada salah satu dari orang tua mu yang tinggal disini” ucap makhluk itu.


“Apa? Kalau seperti itu jadinya maka biar aku saja yang tinggal”ucap Parmo.


“Tidak, bagaimana dengan pekerjaan mu. Aku dan Parta juga tidak bisa membawa mobil keluar dari wilayah ini” kata Sika.


“Ya, keputusan yang bijak. Kau sebagai ibu kandung dari anak ini harus rela berkorban untuknya. Tinggalkan dia malam ini, penyakit mu akan sembuh seketika” ucap si wanita tua.

__ADS_1


“Kapan istri ku bisa kembali nek?” tanya Parmo.


“Besok pagi sebelum matahari terbit maka kau harus sudah menjemputnya.”


Parta dan Parmo pergi meninggalkan tempat itu tanpa Sika. Berat hati Parmo meninggalkan sang istri, tapi dia tidak mempunyai pilihan lain demi kesembuhan Parta.


“Sini berbaring di atas tempat tidur” ucap makhluk itu.


“Nek, apa yang akan kau lakukan?” tanya Sika.


“Aku hanya menjalankan tugas ku. Mengobati anak mu, bukan kah kau menginginkan dia sembuh selamanya?”


Sika mengangguk, matanya terhipnotis merasa semua hal yang di lakukan adalah kebenaran. Tepat di tengah malam, SIka terbangun di kejutkan penampakan kepala putung. Organ tubuh bergelantungan, darah berjatuhan menetes memamerkan gigi taring lancip.


“Arghh! Arghh!” jerit Sika.


Gigi taring menancap tepat di lehernya, mata sika melotot kejang-kejang menahan rasa sakit. Kunyahan, suara berdecap selesai puas merenggut darah murni segar dia merobek isi perut wanita itu menikmati semua organ tubuh sampai habis. Kesalahan setiap manusia yang mencoba ke arah jalan sesat, mereka di binasakan oleh api yang di sulut dinyalakan sendiri.


Ayam berkokok menandakan waktu akan pagi, Parmo berputar-putar di wilayah itu tidak melihat rumah nenek tua yang mereka kunjungi semalam. Dia sudah keringat dingin, perasaan tidak tenang. Parta memutuskan berjalan kaki berlari mengitari tempat kosong.


“Aku yakin sekali disini letak rumahnya” gumamnya.


“Tolong! Tolong! Kembalikan istriku!” jerit Parmo.


Di menangis memukul kepalanya sendiri, matahari telah terbit dan dia melanggar persyaratan dari si wanita tua. Cahaya matahari, memperlihatkan rumah wanita itu. Parmo berlari mendobrak pintu mencari Sika. Dia terjatuh melihat tubuh Sika terburai mengenaskan. Dia hanya bisa memeluk kepala istrinya sambil menangis.


“Ini semua salah ku! Aku tidak mendengarkan kemauan terakhir mu!” ucapnya tersedu-sedu.

__ADS_1


Parmo membawa jasad istrinya, dia membungkus dengan kain meja milik si wanita tua. Setelah puas memporak porandakan tempat itu, Parmo pergi melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


__ADS_2