Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Kelahiran anak si dukun sakti


__ADS_3

Hujan deras mengguyur perkampungan di desa seberang, rasa duka bercampur kepenatan hati. Hari ini bukan lah perpisahan selamanya, Bram hanya menginginkan sedikit ketenangan hidup di sela kekacauan serta ketakutannya setiap hari. Bram sudah duduk di ruang tamu sejak pukul enam, kopinya sudah habis dan beberapa putung rokok hampir memenuhi asbak. Tolu yang entah dari mana datangnya sudah berdiri di sampingnya, dia menawarkan selembar daun sirih yang sudah di isi bahan nginang.


“Ayah, makanlah” ucap Tolu.


Membaca keinginan sang mertua agar terlepas dari gangguan ghaib, Tolu memberikan nginang di balik obat penawar dan penghilang aroma tubuhnya agar tidak di ikuti sisa makhluk halus di rumahnya. Pria itu mengikuti keinginan sang menantu, hal terakhir yang dia turuti sebelum pergi jauh dari rumah itu. Rasa getir itu melekat di bagian langit-langit mulu, kopi sudah habis namun rasa getir mengakibatkan raut wajahnya berubah nyengir sambil membalas perkataan Tolu.


“Terimakasih, ayah merasa sarapan ini tidak lengkap tanpa ada Togar yang mencicipinya,” ucap Bram.


Pria itu menoleh melihatnya lagi, tapi Tolu telah menghilang menambah kesan angker di tengah ruangan yang sepi. Sosok sang menantu kembali menampakkan diri, dia memakai baju putih, rambut acak-acakan berjalan perlahan mendekati.


“Tolu?” ucap Bram.


Dia berjalan tanpa henti hingga menembus Bram, posisi berdirinya oleng meraih benda apa saja agar tidak terjatuh.


“Ayah, kenapa pagi-pagi sekali sudah bersiap-siap?” kata Bram berjalan memasuki ruangan. Ada Tolu di belakangnya, Bram berpikir apakah dia benar-benar Tolu atau penampakan makhluk tadi.


“Aku ingin berpamitan untuk pindah kembali ke kota. Disana letaknya sedikit jauh, ayah mau memperluas usaha dan bisnis disana” kata Bram.


“Ayah, kenapa mendadak sekali? Apakah ayah tidak menyembunyikan sesuatu dari ku dan Tolu?” tanya Togar curiga.


“Tidak, aku akan tetap memantau segala perkembangan rumah tangga kalian.”


“Ayah, segara kabari aku jika sudah sampai,” kata Togar.

__ADS_1


Bram segera berpamitan, sebelum pergi dia memberikan nasehat kepada keduanya.


“Semoga kalian selalu hidup rukun dan langgeng menjalani rumah tangga ini. Untuk Togar, kau adalah tiang keluarga, imam yang harus selalu menjaga dan melindungi istri mu. Jangan sakiti dia, jika ayah mendengar kau menyakitinya maka ayah akan menghajar mu. ”


“Menantuku, ayah pamit pergi” kata Bram pada tolu.


Mereka berdua mencium punggung tangan Bram, manik mata pria tua itu sedikit berkaca-kaca sedikit berat berpisah. Di dalam mobil pak Bram masih memutar kepalanya melihat ke arah Tolu dan Togar.


“Pak, apakah bapak benar-benar ingin melakukan perjalanan ke kota itu?” tanya Toto meyakinkan.


“Ya.”


...----------------...


Di tengah kelahiran bayi dukun sakti mandraguna, banyak dukun santet, orang berilmu hitam dan para makhluk ghaib mengincar. Ada yang menginginkan hati dan empedu untuk di makan hidup-hidup, ada yang berusaha membuat bayi itu menghilang di dalam kandungan bahkan ada yang menginginkan bayinya mati. Persiapan matang Tolu menghindari segala serangan yang di tuju untuk dia dan si jabang bayi, dia memasang garis pelindung yang mengorbankan setengah jiwa kemanusiaannya. Setelah hari ini, dia akan semaki beringas dan hanya mempunyai secuil hati naluri manusia.


Kelahiran anak beraliran darah setengah setan di ikuti suara bunyi Guntur menggelegar tanpa hujan yang turun. Banyak burung gagak berterbangan di atas rumah sakit, para penjenguk pasien yang datang menyaksikan ribuan burung gagak berterbangan tanpa henti dengan suaranya yang mengerikan. Salah satu orang tua yang mengerti akan mitos, mengatakan bahwa ada sosok makhluk berilmu hitam berada di salah satu ruangan rumah sakit. Mereka pun bertanya-tanya siapa sosok makhluk mengerikan yang sudah membuat kejadian seperti ini.


“Arghh! Kau harus mati!” ucap suara sosok penganut ilmu hitam di udara. Dia menghembuskan benda ghaib di udara.


“Aku yang harus mendapatkan jantung anak itu! Minggir kalian!” gema suara sosok dukun lain yang ikut memperebutkan segumpal darah yang berdetak itu.


Berbagai suara lain terdengar oleh Tolu di tengah kesakitannya menjalani proses melahirkan. Togar memegang tangannya, mengusap dahi sang istri di dalam hati mengucapkan lafazh dan surah pendek berharap keselamatan sang bayi. Gangguan demi gangguan menghadang, lampu berkedip mengganggu alat medis di tambah bantingan pintu. Tolu melepaskan genggaman tangan kiri Togar, dia menekan kuat telapak tangannya yang bersimbol api untuk memanggil raja jin penghuni kaki bukit.

__ADS_1


Para makhluk halus lain hanya bisa melihat dari kejauhan, menantikan celah waktu menggapai bayi yang akan keluar itu. Raja jin pun hadir, dia menyelubungi sekujur tubuh Tolu. Gangguan yang di tuju oleh dokter dan para suster terhenti, Tolu melahirkan secara normal. Tangisan anak pertamanya sangat keras melengking menggema melewati setiap ruangan-ruangan kosong.


“Alhamdulillah, terimakasih ya Rabb,” batin Togar bersujud syukur melihat sang buah hati lahir dengan selamat dan lengkap tidak kekurangan satu apapun.


Aroma darah ibu dari penganut ilmu hitam itu tercium oleh dukun Omas. Dia melepaskan leher kemudian terbang mengincar berniat akan mengunyah sang bayi merah.


“Hihihihhh” tawa lepas si kuyang terbang di atas rumah sakit.


Salah satu orang yang melihatnya berlari ketakutan, dia mengabarkan ke salah satu pos penjaga. Sontak suara kentungan panjang menandakan ada bahaya yang sedang terjadi.


“Kuyang! Kuyang!” teriak mereka.


Sosok si kepala putung menembus dinding mencari dimana anak Tolu berada. Tepat di buaian Togar, bayi itu sedang di adzan kan dengan suara sayup merdu olehnya.


“Arggh!” jeritnya menjauh. Bukan hanya itu saja, kedatangan sosok di kepala putung langsung di serbu oleh para perewangan, begu ganjang dan makhluk peliharaan Tolu.


Malam kesialan baginya karena berani mengganggu bayi pemilik dukun sakti. Serangan, pukulan dan kobaran api membakar sebagian anggota tubuhnya. Si kepala putung pergi meninggalkan rumah sakit, dia berjanji akan kembali menuntut balas dengan menggabungkan kekuatan bersama qodam dukun Siria.


“Aku akan memastikan bahwa kau akan menderita seumur hidup setelah kelahiran anak itu! Hihihih” ucapnya di dengan oleh Tolu.


Di atas ranjang dengan jarum infus di tangan, Tolu kehilangan energi hanya sanggup membuka mata sesekali menutup kembali. Melahirkan, menguras tenaga di tambah mengeluarkan tenaga demi menepis serangan. Tolu sesekali membuka mata menoleh ke bayinya, Togar masih sibuk menimang hingga salah satu suster meminta sang bayi di pindahkan ke ruangan bayi.


“Sus, bisakah malam ini anak ku bersama ku di ranjang yang kosong itu? Atau letakkan saja di dalam box bayi yang tersedia ini” ucap Togar.

__ADS_1


“Maaf pak, sesuai prosedur bahwa bayi ini harus di pindahkan terlebih dahulu di ruangan bayi. Besok pagi baru bisa di satukan kembali oleh ibunya” ucap suster.


__ADS_2