
Siang ini beberapa para warga datang ke rumah Tolu. Mereka membawa beberapa bungkusan berjalan berbondong-bondong memasuki gerbang. Si mbok bersungut menekuk wajah, kedatangan mereka yang terbilang urakan mengetuk pintu sambil menekan bel tanpa henti. Sadam tanpa henti menangis gelisah, bayi itu menggeliat di buaian. Tolu sedari tadi sibuk menenangkan, perhatiannya beralih pada suara kerumunan orang.
Pandangan beralih pada salah satu orang yang memakai baju hitam berenergi negatif. Suara ketukan pintu si mbok, Dari dalam Tolu menyahut meminta dia agar mengatakan pada para tamu agar menunggunya. Setelah selesai menenangkan Sadam, Tolu mengusap punggung si bayi.
Sang jabang bayi di beri perisai selagi dia meninggalkan kamarnya. Antrian konsultasi belum di gelar namun semangat para pengunjung berlomba-lomba menuju rumahnya hingga pintu gerbang terbuka lebar di penuhi orang berdesakan. Tolu sebenarnya masih fokus mengobati Ani, setengah jiwa sang kakak belum sadar mengambang menunjukkan banyak gangguan ghaib yang tersirat.
“Bagaimana ini? tuan besar pasti marah jika tau ada banyak tamu tidak undang untuk berobat kepada nyonya” ucap bi Tuti di dapur.
Tina hanya memperhatikan wanita itu mondar-mandir sesekali mengintip ke arah jendela.
“Bi, aku akan meminta mereka pergi saja” kata Tina.
“Tidak, mereka akan berpikir hal buruk jadinya. Kita tunggu keputusan nyonya besar saja” kata si mbok.
Tolu meminta para pekerja untuk berjaga di meja arah pintu masuk ke ruang tamu. Tina sudah berdiri di sana, bersiap membawa buku dan sebuah pulpen.
Tulisannya yang masih mengeja akibat putus sekolah di usia dini hingga akhirnya dia meminta setiap tamu menulis sendiri nama dan alamat mereka masing-masing. Terhitung sudah empat puluh orang yang berdomisili di berbagai daerah yang hadir. Satu persatu mereka keluar dengan keadaan yang berbeda-beda. Tolu membantu mereka secara sukarela, hanya saja bila di temukan penyakit aneh lainnya maka orang itu harus menyediakan syarat atau sesajian untuk di bawa di hari yang di tentukan.
Seorang pria berbaju hitam hanya duduk selama berjam-jam salah satu pilar rumah memasang kaki bersila. Tolu dari tadi melihat gerakan tangan kirinya mengusap ubin tanpa henti. Tolu berjalan mendekati, pandangan sinis melotot sambil membusungkan dada.
“Mau apa kau kesini?” tanya Tolu.
“Sedulur ku telah kau aniaya, aku mau kau bertanggung jawab atas kematiannya!” ucapnya mengeraskan suara.
Tangan pria kasar itu mengayun hampir mengenai tengkuk kepala Tolu jika Togar tidak segara datang menahan tangannya. Langsung saja Togar menendang dan menghajarnya tanpa ampun. Semua orang tidak berani melerai pertikaian hingga Tolu meminta Togar melepaskannya.
“Sudah, biarkan dia pergi” ucap Tolu.
Pria berbaju hitam menunjuk Tolu, di dalam hati mengumpat dendam kebencian kematian dukun pemuja kuburan keramat yang mati mengenaskan.
__ADS_1
...----------------...
“Sayang beristirahatlah, biar anak kita akan aku urus semalaman” ucap Togar mengusap punggung Tolu dengan lembut.
“Ah sudahlah, aku bukan tipe wanita lemah. Kau urus saja pekerjaan mu, kenapa kau pulang lebih awal?” tanya Tolu.
“Aku mencari seorang perawat di salah satu rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat ini. Kabarnya nanti sore mereka akan mengirim sang perawat ke rumah” kata Togar.
“Tuan, nyonya, ada masalah besar! Sadam
tidak ada di dalam boxnya” ucap si mbok.
Mereka berlari masuk mecari, di setiap kamar bahkan sampai keluar rumah. Jeritan bayi Sadam terdengar di ruang pribadi Tolu. Pintu berlapis besi terkunci dari dalam, Togar mencoba membuka pintu dengan kunci yang biasa Tolu berikan padanya akan tetapi pintu tetap terkunci.
Tolu tidak bergeming, hanya memperhatikan perjuangan Togar berkali-kali berusaha membuka pintu. Dia menarik sudut bibir tersenyum memutar telapak tangan kiri di penuhi mantra hitam. Perlahan pintu terbuka, Nampak cahaya matahari memasuki ruangan. Gorden berjatuhan, cahaya api lilin padam dan binatang yang berada di sekitar mata hewan menghilang. Ani memeluk bayi Sadam, rambut acak-acakan dengan poni panjang yang menutupi matanya.
“Sttzz! Jangan berisik. Anak ini sedang bermimpi indah!” bisik Ani bernada setengah menghentak.
“Apa? Cepat berikan pada ku kak!” ucap Togar membuka satu persatu jemari Ani yang semakin kuat memeluk Sadam.
Tolu mengulurkan tangan di depan Ani, dia menganggukkan kepala lantas si kakak memindahkan Sadam ke tangannya. Rintik gerimis di sudut mata Ani mengalir, dia terlihat frustasi mengganti mimik wajah tawa lalu menangis kembali. Si mbok menyaksikan menariknya keluar ruangan, pekerja yang sudah menganggapnya sebagai orang terdekat itu membawanya ke Ani lalu membantunya berganti baju dan menyisir rambutnya.
“Mbok, tolong urus kak Ani. Dia masih taraf penyembuhan” ucap Tolu.
“Ya non, mbok akan selalu di samping non Ani” sahut si mbok memasang wajah murung.
...----------------...
“Apakah kak Ani harus di bawa ke rumah sakit?” tanya Togar.
__ADS_1
“Tidak, sebentar lagi kak Ani akan sembuh Total.”
Tolu memejamkan mata, malam ini ada Sadam di tengah-tengah mereka yang posisinya sedikit dinaikan lebih tinggi dari kepala mereka. Togar tanpa henti mengamati anaknya itu hingga dia terlelap. Di dalam pandangan mata normal. Di atas kasur itu terdapat tiga orang, tapi dalam pandangan kasat mata ada banyak sekali jin penjaga mengitari mereka terutama terdapat jin kecil merah dekat Sadam.
Tempat tidur terguncang dan mimpi buruk Togar. Jemari panjang beku merambat menyusuri wajahnya, Togar membuka mata menoleh melihat Sadam membalas tatapannya. Bayi itu dapat berdiri sendiri, dia menarik akar yang menjuntai kemudian merangkak naik ke atas perut Togar hingga memasukkan sebuah cacing ke dalam mulutnya.
“Hueekk!” Togar memuntahkan cacing.
“Hihih, hiihih” tawa bayi Sadam mendekatinya.
Wujud anaknya mirip sekali seperti setan atau makhluk jadi-jadian. Tanduk di atas kepalanya seperti kepunyaan Tolu yang sering dia temui di alam bawah sadar maupun penampakan secara tidak sengaja.
“Hei Togar, apakah kau tidak ingin menyelamatkan anak mu?” ucap salah satu sosok yang berdiri di dekat jendela.
“Apa maksud mu?” Togar berjalan perlahan mendekati Tolu.
“Berikan jantung mu maka anak mu tidak menjadi pengikut ku! Hihihih. Aku akan kembali tepat di malam bulan purnama” gema suara sosok menghilang.
“Togar bangun! Tubuh mu dari tadi kejang dengan mata melotot” ucap Tolu menyadarkan.
Dia menceritakan semua mimpi padanya, Tolu hanya mengatakan bahwa hal itu hanya bunga tidurnya saja. Tolu meminta Togar membuatkan susu di botol dot Sadam, suami penurut itu jalan seribu langkah secara cepat.
...----------------...
“Apakah bibi mendengarnya? Suara orang seperti minta tolong” bisik Tina.
Mereka tidur di bawah tepatnya di samping ranjang Ani. Beralaskan ambal tebal, Tina merasa kamar sangat dingin seperti sedang di kutub utara. Dia melihat keadaan Ani, sang majikan melotot melihatnya memasang wajah marah.
“Non, nyonya Ani bangun dan bertingkah aneh” bisik Tina.
__ADS_1