Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Rumah Tolu di bakar


__ADS_3

“Jangan kau ajak orang menghakimi orang yang tidak bersalah. Lihat sedikit sisi baiknya, wanita itu pernah menyelamatkan sebagian orang kampung” ucap salah satu pasien.


“Buka kedua bola mata mu lebar-lebar! Dia membunuh dukun perbatasan penjaga perkampungan” ucap seorang pasien pria tua.


“Ya, aku mendengarnya. Tapi jika kau menuntut kematiannya juga berarti kau sama saja seperti dia.”


Keributan di ruang pasien tidak bisa di elakan, para suster melerai mereka terpaksa memindahkan para pasien ke ruangan lain. Di sisi lain, Bangsal sudah mempersiapkan suara terbanyak dan serangan membawa para warga untuk membakar rumahnya. Ramai para warga kampung membawa obor mencari rumah Tolu bagai tertelan gelapnya malam. Padahal cahaya obor yang di bawa sudah cukup sebagai penerangan membilah jalan, tapi mereka berputar-putar tidak menemukan rumah tersebut.


“Kenapa kita tidak menemukan rumah dukun Tolu?” tanya Norman.


“Pasti ada yang tidak beres, sebaiknya kita pulang saja” ucap Parta menggidikan badan.


“Hush! Dasar lemah! Penyihir itu harus di musnahkan agar tidak membuat resah para warga!” teriak Bangsal menyeruakan suara.


Bangsal menghafal mantra yang pernah di ajarkan oleh sang ibu. Dukun Siria juga membantu membisikkan lewat angin dari sisa kekuatan hitamnya. Mengikuti ucapan mantra. Tangan kanan bangsal menunjuk ke arah barat, kepala miring dengan gerakan mirip cara jalan dukun Siria.


“Disana, kalian tetap berjalan lurus” ucapnya bernada berbeda dari biasanya. Seluruh warga mengikuti sambil bersorak penuh semangat untuk menghancurkan rumah Tolu.


...----------------...


“Pak Togar, ibu Tolu tidak ada di kamarnya” ucap salah satu suster.


Togar langsung berlari memastikan lagi bahwa Tolu tidak ada disana, dia berlari mencari ke setiap sudut rumah sakit sampai ke tempat parkiran sampai terlintas di benaknya kalau Tolu akan pergi ke rumah atau hutan. Tolu telah berjalan menggunakan kekuatan ghaib bersama angin sampai ke rumah. Dia masih memakai pakaian rumah sakit telah berdiri di depan Bangsal dan para warga kampung. Rambut terurai, mata menyala menandakan amarah pada orang-orang tersebut.


“Dasar wanita penyihir! Bakar dia dan rumahnya!” teriak Bangsal.


“Bakar!” teriak warga kampung lain.

__ADS_1


Sebagian warga kampung yang sudah kena hasut Bangsal tidak sadar ikut menjadi musuh bagi Tolu. Sedangkan sebagian para warga lain berada di sisi kanan sedang mengamati mereka melempar obor ke rumah Tolu. Api itu tidak bisa membakar rumahnya, angin kencang memadamkan api bersama suara aneh terdengar dari balik angin yang bertiup.


“Bakar!” teriak para warga.


Bangsal mendekati Tolu, dia menyiram minyak lampu ke tubuhnya. Semula Tolu tidka berniat menyentuh mereka sekalipun telah menyalakan amarah. Mendapatan kelakuan buruk dari Bangsal membuat Tolu mencekik pria itu lalu melemparkan ke pohon di dekat rumahnya.


“Arghhh!” teriak Bangsal.


Tubuhnya terbanting sampai mengeluarkan muntahan darah, pria yang memiliki ilmu kekebalan itu berdiri menyerang Tolu kembali sambil mengucap mantra.


“Hentikan!” teriak ustadz Gersan.


Dia berjalan tepat di tengah para warga, kedua tangan di angkat sehingga para warga berhenti berteriak. Sedangkan para warga di sisi kanan masih terdiam menyaksikan kejadian itu.


“Tolong bapak dan ibu tenang. Kita tidak boleh main hakim sendiri” ucap ustadz.


“Hentikan omong kosong mu Bangsal. Apakah istri ku tidak cukup baik karena sudah mengeluarkan mu dari penjara?” ucap Togar yang sudah berdiri di belakangnya.


“Togar! Biarkan kami membawa istri mu” ucap salah satu warga lain.


“kalau begitu langkahi dulu mayat ku!” teriak Togar.


Perdebatan panjang, situasi memanas dan amarah warga yang menuntut di sisi kiri. Kelakuan warga tidak bisa mengontrol emosi, salah satunya menyulutkan api dan yang lainnya menyiram rumah di bagian belakang. Norman dan Parta tertawa terbahak-bahak Karena telah berhasil membakar rumah wanita yang sangat mereka benci itu. Melihat api menyala membakar rumah, Tolu mengerang melayang mengangkat Norman dan Parta lalu mencekik keduanya.


“Arghh!” Parta kesakitan.


“Tolong!” teriak Norman.

__ADS_1


Tidak ada yang berani menolong mereka, Tolu menahan amarah melihat Toga karena rasa ibanya menatap suami yang sangat mencemaskannya itu. Dia berpikir jika membunuh kedua pria yang membakar rumahnya itu di depan semua orang maka hal ini akan memperkuat persepsi keyakinan bahwa semua kejadian ini karena dirinya. Dia tidak mau Togar masuk ke masalah lebih dalam, Tolu memutuskan membanting Parta dan Norman di tengah para warga di sisi kiki.


“Cepat padamkan api atau aku akan membakar kalian semuanya!” teriak Tolu.


Para warga di sisi kiri tidak bergeming sedikitpun, Tolu menatap gerombolan warga di sisi kanan, salah satu wanita maju sambil menggendong anaknya.


“Ayo kita bantu Tolu, anakku pernah di selamatkan olehnya. Dia tidak sejahat yang kalian pikirkan” ucap Mariam menurunkan Sagala lalu berlari mencari air.


Warga di sisi kanan pun tergerak berbondong-bondong membantu memadamkan api. Setelah api berhasil di padamkan semua warga meninggalkan tempat itu kecuali ustadz Gersan, Mariam dan anaknya. Togar menggenggam erat tangan Tolu, hidup dan mati dia harus tetap di sisi istrinya.


“Kau akan selalu bersama ku” bisik Togar.


Togar menarik Tolu mengikuti langkahnya mendekati sang ustadz. Pria itu menatap sosok lain yang berada di belakang Tolu.


“Bu Tolu, saya berharap ibu tidak seperti yang mereka katakan. Jika ibu mau kembali ke jalan lurus maka saya siap membantu” ucap sang ustadz menawarkan bantuan agar Tolu tidak semakin tersesat.


Wanita itu tidak bisa melontarkan ucapan, dia hanya membungkuk dan tersenyum tipis. Tubuhnya sudah bau minyak. Setelah melihat ustadz itu pergi, Tolu berbalik memasuki rumah setelah rumah yang sudah hangus itu. Mariam mengikutinya dari belakang, langkah terhenti saat Tolu menoleh ke arahnya.


“Maaf inang, jika inang membutuhkan sesuatu maka saya akan siap membantu. Saya tinggal beberapa kilometer dari sini” ucap Mariam sedikit ketakutan.


Tolu mengangguk, Mariam berpamitan membawa putranya pergi sesekali menoleh ke arah mereka. Sebagian harta benda habis di lahap si jago merah, Tolu memeriksa ke dalam rumah mencari batu mustika merah miliknya. Batu itu masih terlihat utuh, dia menyimpan di balik sakunya lalu mencari sisa sirih yang masih tersisa untuk dia nginang.


“Sayang, ayo kita kembali ke rumah sakit. Kak Ani pasti mengkhawatirkan mu, rumah ini akan di tangani oleh para pekerja bangunan untuk di renovasi kembali” ucap Togar menggiringnya memasuki mobil.


...----------------...


🌿Salam persahabatan semuanya, semoga tetap sehat dan di lindungi oleh sang Khalik. Apapun yang terjadi mengenai hal mistis di dunia ini mari kita kembali lagi memasrahkan diri kepada Allah yang maha Esa. Tidak ada satupun daya dan upaya selain pertolongannya.

__ADS_1


__ADS_2