
Di kamarnya, Loli melotot dengan rahang mengeluarkan hewan hitam kecil. Tubuhnya terangkat melayang sampai suara jeritan kerasnya terdengar oleh Bromo dan ibunya. Sosok setan yang menginginkan tubuh Loli untuk di jadikan rumah agar bisa hidup kembali di dunia meskipun dengan wujud berbeda. Kini tidak ada keuntungan atau ketenangan hidup malah berbalik semakin menderita di hidup Bromo, ilmu itu telah memakan jiwa keluarganya satu persatu.
“Tidak! Loli!” teriak bu Tata.
Bromo melotot membaca mantra, dia menarik kuat Loli hingga tubuh sang adik terjatuh ke kasur. Tangis histeris bu Tata menyaksikan hewan hitam kecil tanpa henti dari rahang Loli dan juga pupil mata memutih kosong terbuka lebar mengeluarkan tangisan darah.
“Bromo! Jika terjadi sesuatu pada adik mu maka aku juga akan mati!” ucap bu Tata memeluk Loli tanpa memperdulikan hewan-hewan kecil masuk ke sela-sela tubuhnya.
“Lepaskan dia bu! Dia bukan lah Loli! Ada sosok lain di tubuhnya” ucap Bromo berusaha memisahkannya.
“Tidak!” teriak bu Tata.
Tawa menyeringai Loli, kukunya tiba-tiba berubah bertambah panjang dan semakin runcing menusuk dada sang ibu lalu memakan isi jantungnya. Setelah puas, Loli berlari sambil merangkak pergi meninggalkan mereka. Bromo menggendong jasad sang ibu ke luar rumah, dia menjerit meminta tolong pada warga yang melintas akan tetapi seseorang yang melihatnya malah berlari ketakutan.
“Ada apa? Kenapa kau berlari seperti itu?” tanya seorang pria memakai setelan celana jeans yang bernama Ben.
“Stthh! Jangan bersuara! Dukun gila itu membawa musibah di kampung ini. Lihatlah, kini ibunya yang meninggal dengan keadaan yang mengenaskan” bisiknya kepada Kiki.
“Tapi__” ucapan Ben berhenti.
Ben berlari meninggalkan Kiki, begitupun beberapa warga lain yang melihat Bromo. Hanya tersisa lima orang warga membantunya, Ketika mereka memasuki rumah Bromo, sekujur bulu kuduk mereka merinding hingga di kejutkan dengan bantingan pintu dan jendela tanpa henti. Karena begitu takutnya, dua orang lain pergi kocar-kacir. Karena hanya tiga orang dan seorang ustadz saja yang bisa membantu maka proses pemandian jenazah dan pemakaman pun di segerakan.
...----------------...
Sinta merasa ada sesuatu yang sedang menatap dari balik jendela, dia sangata ketakutan sampai menjatuhkan segelas cangkir. Hampir saja kakinya terluka, dia meninggalkan dapur lalu berlari mencari Virsa. Sosok wanita berjalan cepat menuju ruangan lain memakai pakaian perawat yang sama dengannya.
“Sa, lo dimana?” tanya Sinta.
Dia berjalan menaiki anak tangga, tepat berdiri di depan pintu besi berwarna hitam. Kaiinya di tarik oleh sosok makhluk tidak kasat mata yang menyeringai menatap tajam dirinya. Luka, sayatan bercampur darah yang menetes. Tidak mi ketahui pasti apakah gangguan itu berasal dari makhluk penjaga atau perewangan di rumah itu.
__ADS_1
“Arggh!” teriaknya kesakitan berlari dengan darah menetes di atas ubin.
“Sakit! Tolong!”
Suasana rumah itu berubah di penuhi dengan asap putih yang mengepul. Lengkingan tawa menggema di susul penampakan makhluk lain merangkak mendekatinya. Begitu histerisnya dia ketakutan berlari merangkak namun kaki di tarik sosok jin merah.
Sentuhan lendir bercampur aroma anyir melekat kuat, dia menendang jin tersebut membuat amarah jin merah kecil sehingga gigi taringnya yang tajam menancap menggigit kakinya. Lengkingan pita suara menjadi hampir keluar dari lubang tenggorokan. Dia tidak sadarkan diri hingga beberapa jam tidak sadarkan diri.
Virsa melingak-linguk mencari Sinta, sedari tadi dia tidak temannya di ruangan manapun. Langkah kaki cepat, suara sandal kayu berlari naik turun dari tangga. Virsa mencari sumber suara itu, terlihat Sinta sudah tidak sadarkan diri dengan pakaian basah kuyup. Dia mengguncangkan tubuhnya, perlahan Sinta membuka mata melihat sosok yang dia temui tadi berdiri tepat di belakang Virsa yang masih mengguncangnya agar sadar seutuhnya.
“Sin, bangun!” teriak Virsa.
“Uhuk_uhuk! Sakit!” rintihnya kesakitan.
Virsa membantunya untuk berdiri, luka di kakinya semakin melebar dan darah tetap mengalir menambah suasana ngilu. Sinta berusaha mengabaikan makhluk yang mengikuti dan mengganggunya tadi. Terutama pada jin merah yang menggigit nya, pandangan menyeramkan membius hawa setan pandangan mata mengincar darah.
“Pergi! Jangan ganggu aku!” teriaknya.
“Itu! Kamu nggak lihat?”
“Nggak ada apa-apa. Ayo sini luruskan kaki mu.”
Virsa memberikan suntikan antibiotik dan membalut lukanya dengan perban. Dia mengernyitkan dahi memperhatikan lagi luka di kaki temannya itu.
“Kenapa kaki mu bisa begitu? Terlihat seperti bekas hewan. Kau dari mana Sin?” tanyanya menyelidik.
“Kalau gue cerita juga lo bakal nggak percaya. Aku di gigit hantu jin merah kecil, dia baru saja pergi.”
“Apa? Aku yakin sekali kalau lo lagi bercanda” jawab Virsa tidak percaya.
__ADS_1
Di depan pintu sudah hadir bi Tuti sedang menggendong Sadam. Melihat bayi itu maka dia pun meminta bi Tuti memindahkan ke tangannya. Keanehan pun terjadi sesaat Sadam terlihat berubah mengerikan, mata menyala berwarna merah darah. Dia menatap Virsa, seluruh tubuh berwarna hitam legam.
“Arghh!” jerit Virsa.
“Ada apa non?” tanya bi Tuti memutar badannya.
Sinta hanya terdiam, dia memperhatikan gerak-gerik Virsa yang sudah tidak wajar. Melihat Sadam di kembalikan kembali ke bi Tuti, Virsa hanya terdiam memperhatikan keduanya sambil meringis menahan luka di kakinya yang masih terasa sangat sakit.
“Saya permisi non.”
Mata tajam dari salah satu pekerja itu melengos menatap Virsa. Setelah melihat dia pergi, Sinta membisik semua hal yang dia lihat. Mata Virsa melotot, sangat jelas bahwa ada keganjilan yang terjadi. Dia berpikir jika mengundurkan diri maka akan membayar ganti rugi atau harus di pecat dari Rumah Sakit.
“ Sekarang kita harus bagaimana?” bisik Sinta.
“Sudah, mari kita melanjutkan kembali tugas. Kau istirahat saja di kamar.”
Di dapur
Si mbok meletakkan barang belanjaan di bantu oleh Tono dan Tina. Mereka menoleh melihat bi Tuti sedang sibuk menggendong Sadam sambil membuatkan susu ke dalam botol dot.
“Bi, bukankah nyonya besar sudah mempekerjakan dua orang baby sister?” tanya Tina.
“Bibi juga tidak mengerti kenapa tadi salah satu suster itu ketakutan saat menggendong Sadam” jawab bi Tuti.
Belanjaan yang di pesan oleh Tolu sudah di letakkan di depan pintu ruang rahasia. Ketika Sinta mencari bi Tuti untuk menjalankan tugasnya. Dia mendengar suara aneh dari atas tangga, langkah perlahan berhenti melihat beberapa bungkusan besar di depan pintu besi hitam. Dia menoleh ke kanan dan kiri, tangannya meraih salah satu plastik.
“Non, kenapa non disini?” tanya si mbok.
“Bungkusan apa ini mbok? Aroma anyir begitu menyengat dan pintu besi ini banyak sekali lapisannya. Ruangan apa yang ada di dalamnya?” jawab virsa.
__ADS_1
“Non, sebaiknya tidak perlu mencari tau hal-hal di luar batas pekerjaan non disini!” seru si mbok sedikit nada membentak.