
“Kemana perginya si mbok?” tanya bi Tuti.
Tepat pukul 22:00 WIB para pekerja lain sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing. Hanya bi Tuti, Mawarni, Tina dan Dadar mencari si mbok.
“Aku ingat betul terakhir kali si mbok berjalan ke arah kebun bunga mawar kesayangan non Tolu” ucap bi Tuti.
“Tunggu saja disini mbok biar bapak yang kesana” ucap pak Dadar menyorot senter.
Ketika dia sudah sampai di bagian tengah perkebunan, terdengar suara teriakan pak Dadar menyebut nama mbok Heni. Bi Tuti dan lainnya pun menyusul membantu mengangkat si mbok masuk. Lagi-lagi dia harus menjalani drama pingsan untuk kesekian kalinya. Bi Tuti mengusap minyak angin di bagian hidung si mbok hingga perlahan dia terbangun. Rasa sakit pada bagian kepala, si mbok di beri air bening perlahan meneguk air hingga habis.
“Kenapa mbok bisa pingsan disana?” tanya bi Tuti.
Si mbok menghela nafas panjang, dia menyimpan semua hal yang di alami hari ini. Hanya jawaban singkat yang dia katakan: “ Mbok hanya kurang sehat saja.”
Malam hening bukan berarti tanpa gangguan kembali, walau rumah dukun sakti di jaga ketat para makhluk peliharaannya di setiap tempat. Ani terbangun dari tidurnya, dia menari di depan cermin besar kembar berbentuk oval. Dia menyalakan iringan musik dengan selendang hijau yang dia ikat di pinggangnya. Tina mendengar suara yang mengarah ke kamar Ani, dia menempelkan daun telinga di depan pintu. Tiba-tiba pintu terbuka lebar sampai dia terjungkal masuk ke dalam.
Brughh. (Kepalanya membentur kaki meja).
“Stthh, sakit sekali” gumamnya menekan bagian yang sakit.
Rambutnya di tarik paksa masuk ke dalam kolong kasur. Posisi Tina masih kesakitan di tambah tarikan sebuah tangan berjari panjang mencengkram kuat.
“Arggh!” Tina tersadar berada di kamar Ani.
Dia menutup mulutnya sendiri rapat-rapat. Di tengah alunan suara musik kuat melihat sang majikan menari seperti orang kesurupan. Bekas kakinya tanda bercak berwarna hijau di lantai. Tina mencari cara agar bisa keluar dari kamar wanita itu. Ketika Ani membelakangi kasur, Tina buru-buru keluar merangkak menggapai pintu.
Brugh (Dia terbentur kaki Ani).
“Non, Ani,” suara pelan Tina ketakutan melihat sang majikan berwajah mengerikan.
__ADS_1
Tina seret paksa menuruni anak tangga, darah di kepalanya sudah mengalir deras. Malam itu, dia sudah pasrah jika harus mati mengenaskan di tangan sang majikan. Cahaya lampu padam, suara bantingan kursi di ruang tengah membangunkan para pekerja yang melihat keributan di ruangan itu.
“Ada apa ini?” ucap si mbok meraba nakas mencari pematik dan lilin.
Dadar menyorot senter mendapati Tina di dekat tangga berbaring tidak berdaya di kerumuni berbagai wujud hitam bermata menyala. Karena sangat terkejutnya Tina sampai menjatuhkan senternya, berlari ke ruangan lain.
“Pak Dadar! Ada apa?” tanya bi Tuti.
Lampu yang sudah menyala memperlihatkan Tina. Mereka menjerit histeris, Togar berlari menuruni tangga ikut terkejut melihat wanita itu.
“Cepat panggil ambulan!” ucap Togar lalu menaiki anak tangga kembali.
“Tolu, keadaan di bawah sangat genting, aku akan membawa Tina ke rumah sakit. Kau baik-baik di rumah sampai aku kembali” kata Togar kemudian mengusap pundaknya dan melayangkan kecupan di dahi Sadam.
Di dapur seluruh pekerja itu berkumpul membicarakan Tina. Mariam baru saja melepaskan mukenah, dia ingin sekali menyampaikan keluhan ketika melakukan ibadah selalu saja mendapat gangguan dari makhluk halus. Sementara Dadar bergetar menggigil duduk di sudut mengingat makhluk bermata merah wujud hitam mengerikan.
“Satu langkah saja kau keluar dari rumah ini tanpa seijin ku maka kau bukan lah anak ku!” bentak si mbok kesal menarik telinga kirinya.
“Aduh!” Tono meringis kesakitan.
Bi Tuti memberikan ke tangan mereka masing-masing segenggam daun kelor dan sebungkus garam. Dia mendapatkan semua itu dari salah satu orang pintar yang baru saja membuka lapak pengobatan ghaib di dekat perbatasan desa.
“Untuk apa ini bi?” tanya si mbok.
“Daun kelor ini kita letakkan di balik bantal kita masing-masing. Garam ini setiap hari kira makan sejumput demi menghindari makhluk setan pengganggu.” Bi Tuti mempraktekkan cara memakan sejumput garam di hadapan mereka.
“Aku mau bi! Cepat berikan untuk ku sebanyak dua bungkus!” kata Dadar mengulurkan tangan.
“Sabar pak, hanya ada satu jatah persatu orang saja. Kalau bapak mau lebih silahkan ke orang pintar di kakek tua di perbatasan desa” ucap bi Tuti menjelaskan.
__ADS_1
...----------------...
Hampir saja nyawa Tina melayang, pendarahan kepala bagian belakang dapat di hentikan dengan tindakan operasi besar. Semua biaya, ruangan kelas VIP, perawat pribadi dan pengobatan hingga sembuh total di tangguh oleh Togar. Tina terbilang masih beruntung memiliki majikan bertanggung jawab di sisi lain masih bisa bernafas di sela kematian yang mengincar. Tina membuka mata, dia menoleh ke sisi kanan dan kiri. Tidak ada kerabat atau sanak saudara yang mendampinginya. Dia kembali memejamkan mata, berharap tidak membuka mata kembali. Kehidupannya seperti di hantui sosok mengerikan yang ingin membunuhnya.
“Kenapa aku tidak mati saja? Aku hidup sebatang kara di dunia ini. Lihatlah, sekarang para makhluk di rumah itu mengincar ku” gumam Tina.
Suara langkah kaki membuka pintu ruangannya, bi Tuti datang membawa tas dan sekeranjang buah-buahan segar. Dia tersenyum memeluk Tina, sontak air mata Tina menetes bahagia tidak terhingga.
“Terimakasih sudah datang bi. Aku sangat kesepian dan ketakutan disini” kata Tina masih menggenggam tangannya.
“Aku bisa kesini karena tuan Togar yang meminta ku menemani mu. Sekarang kataka kenapa kau bisa sampai tergelincir dari tangga?” tanya bi Tuti bersungut, urat kepala menonjol berkerut.
“Aku__” perkataan Tina terputus.
Perlahan dia menceritakan semuanya, dia teringat pemberian si mbok yang dia buang. Rasa takut masih membayang di pikirannya enggan kembali ke rumah itu lagi. Kepala Tina di perban, kaki dan tangan di pasang pen. Ada dua selang yang mengalir, keadaan Tina memprihatinkan dengan air mata yang tidak mau berhenti menetes.
“Sudah, ini sudah menjadi pilihan mu bukan? Kau sudah memilih bekerja disana maka harus siap menerima semua resikonya. Mulai sekarang, ikuti semua aturan yang ada dan tetap waspada,” nasehat si mbok.
“Aku tidak mau lagi ke rumah itu mbok.”
“Ya, setelah sembuh nanti kau katakan secara baik-baik kepada tuan dan nyonya.”
Ani tidak pada dirinya sendiri, tadi malam dia seperti orang kerasukan bertingkah di luar kendali menyakiti orang yang tidak bersalah. Dia memakai piyama sambil mengikat rambut berjalan keluar mencari Tolu.
“Kenapa ribut sekali?” tanyanya seolah tidak terjadi apapun.
“Kakak, Tina baru saja mengalami kecelakaan. Dia jatuh dari tangga, apakah terakhir kali aku melihat dia berada di kamar kakak” ucap Tolu.
“Di kamar ku? Tidak mungkin, aku baru saja bangun tidur. Ah sudahlah, aku masih mengantuk” jawab Ani ketus pergi berjalan meninggalkannya.
__ADS_1