
Pipinya kembang kempis menatap kobaran api, melotot ketakutan melihat asap hitam berbentuk wujud besar keluar dari dalam api. Dia terus menerus membaca mantra, suaranya lebih keras terdengar sampai keluar rumah. Sosok pria itu mempercepat bahkan lebih cepat lagi berkomat-kamit hingga tubuhnya kejang-kejang tegak duduk lalu berdiri menatap kobaran api yang semakin membesar.
Karena tidak kuat menyerang Tolu dengan mengirim mantra dan ilmu santet, tubuhnya seperti terikat hingga rasa sakit yang tiada tara menampakkan otot dan urat kulitnya. Dia menggelinjang melotot ke arah langit-langit rumah lalu membungkuk berusaha agar tetap sadar menerima serangan ilmu yang dia kirim untuk si dukun Tolu.
“Ternyata ilmu ku masih belum ada apa-apanya. Dia adalah wanita yang sangat kuat” ucapnya melotot.
Suara bantingan pintu, sosok dukun muda itu menghentikan mantra kemudian berjalan perlahan sambil membungkuk melihat ruangan lain. Kamar putrinya yang sudah lama tidak berpenghuni, dia memasuki ruangan itu melihat sosok putrinya sedang meregang nyawa sekujur tubuh penuh luka dan mata yang masih melotot.
“Ayah lihatlah akibat dari semua perbuatan mu” ucap anak perempuannya itu.
“Bianka! Maafkan aku!” kata si dukun muda.
Sosok itu menghilang, dia melihat kasur sang anak bagai lautan darah yang masih segar. Tanpa rasa ragu, dia duduk di atasnya sambil menjambak rambutnya sendiri. Ilmu hitam dan jalan sesat yang dia pilih mengakibatkan anak dan istrinya telah tiada. Dia mengeluarkan keris yang di bungkus kain hitam dari balik ilat pinggang tali hitam. Keris itu di angkat setinggi-tingginya lalu di tusuk ke bantal dan kasur hingga semua isi di dalamnya terburai berserakan. Kini tanpa sadar, benda tajam itu mengarah hampir menusuk dahinya sendiri. Tangan kirinya berusaha menahan tusukan tangan kanannya sekuat tenaga sampai keris itu terlepas sendiri dari tangannya.
Dia menatap kedua tangannya, terlihat lengan tangan kanan sudah merah membiru akibat cengkraman tenaga dalam tadi. Sosok pria tua yang tidak lain adalah tetangga si dukun memperhatikan nyala api dari luar. Dia menoleh tanpa henti melihat rumah mengerikan itu dari luar, manik mata beralih ketika terdengar suara panggilan seorang anak perempuan yang tubuhnya di penuhi dengan darah. Rambut berlendir, kedua bola mata merah menatap tajam tanpa berkedip.
“Kemarilah pak, tolong kami” ucapnya bernada menggema.
Sosok pria tua itu ketakutan berlari sampai menjatuhkan obornya. Dia masuk ke dalam rumah, mengunci semua pintu lalu menyalakan lilin sebagai penerangan sebanyak-banyaknya. Dia sudah berusia hampir satu abad. Tinggal bersebelahan dengan pria penganut ilmu hitam membuat hari yang dia jalani setiap hari selalu melihat hal aneh dan suara jeritan dari rumah itu.
Di rumah si dukun muda itu juga bersebelahan dengan ibu dan kakak perempuannya yang tinggal disana. Ketika malam tiba, banyak hewan melata membuat bu Tata harus membawa batu berukuran sedang setiap saat atau menggunakan sandal untuk membunuh hewan tersebut. Penuh rasa kesal, umpatan dan dahi yang mengerut kesal.
“Ini semua salah Bromo!” ucap bu Tata kesal.
__ADS_1
“Ibu, waktu sudah sangat larut. Kenapa belum tidur juga?” tanya Loli.
“Abang mu belum pulang juga” jawabnya lalu menghela nafas.
“Dia malam ini bahkan besok takkan pulang bu, semakin hari tingkahnya buruk dan aneh” ucap Loli.
“Yang Maha kuasa tau semua dosa yang dia lakukan sekarang. Bromo sudah sangat sesat, seolah dia belum puas melihat kita menderita akibat ulahnya” kata bu Tata.
“Sudah bu, maafkan lah dia. Aku yakin dia akan kembali ke jalan yang benar” kata Loli penuh harap.
“Tidak, ayah mu, kakak ipar bahkan keponakan mu meninggal akibat Bromo!”
“Sudah bu, ayo kita segera tidur. Abang Bromo pasti pulang” ajak Loli membantunya merebahkan diri di atas kasur lalu menyelimuti tubuhnya.
Tuk, tuk, tuk (Suara batu bergerak sendiri mendekatinya).
“Arghhh!”
Bu Tata menoleh sisi kiri, Loli masih tertidur pulas seolah tidak mendengar suara keras yang dari tadi mengganggunya. Sedikit lagi batu itu melayang jika Loli tidak segera terbangun mengguncangkan tubuh ibunya.
“Ada apa bu?”
“Ibu sepertinya mengalami mimpi buruk” ucap bu Tata.
__ADS_1
Loli berlari ke dapur lalu kembali membawa segelas air untuknya. Perlahan bu Tata meneguk hingga habis dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Loli kembali ke dapur lagi untuk meletakkan gelas dan mengambil obat. Tiba-tiba tubuhnya seperti kerasukan makhluk halu, dia melepaskan ikatan kuncir rambut lalu berjalan jinjit membuka pintu rumah. Sambutan ular hitam di atas keset menggunakan tangan kosong membanting ular hingga memakannya sampai habis.
Di tempat lain, Bromo masih berada di dalam kamar mengamati benda peninggalan anak dan istrinya. Setengah jiwanya masih ada rasa kerinduan dan sedikit penyesalan. Tapi dia tidak bisa kembali atau mengembalikan keadaan seperti semula.
“Ayah, tolong aku!” gema suara anak perempuannya itu.
“Bianka?” jawab Bromo menoleh ke sekitar.
“Ayah aku disini. Aku kedinginan, ibu sangat jauh dari pandangan ku. Dia juga terlihat sangat kesakitan” gema suara anaknya lagi.
Penampakan sosok sang buah hati, Bianka terbujur kaku dengan luka di tubuhnya. Air mata Bromo tanpa henti mengalir, dia memeluk jasad sang anak lalu memukul kepalanya sendiri.
“Kenapa bukan aku saja yang mati!” teriaknya.
Sosok itupun menghilang, Bromo mengingat lagi kematian Bianka dan istrinya yang mengenaskan. Belum lagi keganjilan kematian ayahnya yang masih kini menghantui alam tidurnya.
“Bromo! Bromo! Perbuatan keji mu membunuh mereka semua!” teriak suara Loli berdiri di hadapannya.
“Adik, ayo kita pulang” ucap si dukun muda menarik lengan Loli yang terasa kaku.
Sekitar mulutnya penuh darah, sisa daging ular juga terlihat menempel di sela mulutnya yang masih bergerak mengunyah dengan cepat. Mengetahui sang adik telah kerasukan, Bromo meniupkan mantra, mata merah Loli tampak normal kembali. Dia membawa Loli menuju rumah sang ibu, pintu rumah terbuka lebar. Bromo memastikan tidak ada orang lain selain mereka bertiga di dalam rumah, sang ibu juga terlihat sudah tertidur pulas.
“Adik, ayo masuk ke dalam kamar mu” perintah Bromo.
__ADS_1
Melihat wajah pucat Loli dan pandangannya yang masih sini melirik dirinya. Bromo mengusap wajah bergerak berbalik arah meninggalkan rumah itu kembali.