Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Sisi lain


__ADS_3

Sungai Mahakam masih menjadi momok menakutkan bagi para warga yang melintas. Banyak cerita dan kejadian mistis akan penampakan sosok kuntilanak dengan sorot mata penuh amarah. Hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa semasa hidup wanita itu pernah mengandung seorang bayi yang belum sempat dia lahirkan. Kematiannya dan anak di dalam kandungannya bersamaan dengan kelahiran Semi ketika di lahirkan oleh Diah.


Tolu melihat mata Semi menyimpan energi ghaib yang membuat dia di kejar oleh sosok kuntilanak yang ingin mengambil jiwanya. Bu Diah hanya seorang korban untuk memancing sosok di balik mata Semi.


...----------------...


“kakak, jangan khawatir! Aku akan segera menjemput Tolu” ucap Togar menutup panggilan.


Togar meraih jaket dan memasukkan beberapa lembat uang di dalam dompetnya, dia menuju ke parkiran. Mengetahui Togar telah menyalakan mesin, pak Bram memukul kaca jendela mobilnya dengan sangat keras.

__ADS_1


“Togar! Keluar kau! Kau mau cari mati di jalan ya!” teriak pak Bram.


Amarah semakin menjadi, dia menarik lengan baju Togar memaksa dia keluar dari dalam mobil. Pak Bram menyeretnya masuk ke dalam rumah. Para pekerja yang melihat hal itu hanya terdiam lalu melanjutkan pekerjaan mereka kembali. Togar tanpa perlawanan, dia menunggu emosi ayahnya itu mereda. Tapi tidak sesuai yang di harapkan, pak Bram mengunci pintu dan memasukkan kuncinya di dalam saku.


“Ayah, aku harus menjemput Tolu. Dia di bawa oleh Semi ke rumahnya. Ayah tau tidak jika ibu Semi sedang sakit?” ucap Togar.


“Ya, ayah tau, ayah juga tau kalau calon menantu ku adalah seorang dukun. Aib di keluarga ini sudah terdengar oleh orang. Anak seorang saudagar yang kaya yang ingin memperistri seorang dukun. Atau jangan-jangan kau telah di guna-guna oleh nya sehingga kau sudah kehilangan akal waras” ucap pak Bram.


...----------------...

__ADS_1


Selangkah kaki Tolu menginjak tanah bagian depan rumah, lampu berkedip dan angin bertiup kencang. Mata Tolu menangkap bayangan kuntilanak terbang masuk ke dalam rumah sambil tertawa terbahak-bahak. Dia seolah menyalakan perang dan serangan secara terselubung. Tepat ketika mereka memasuki pintu, rambut Tolu sudah terkena tetesan air liur bu Diah yang merayap di dinding.


“Kurang ajar kau!” gumam Tolu melotot ke sosok kuntilanak yang di tubuhnya.


Tolu duduk di sofa, dia memejamkan mata mengucapkan mantra dengan tangan kiri mengarah menunjuk ke bu Diah. Batu mustika merah yang berada di rumahnya terbang ke tangannya, sosok kuntilanak itu menjerit kesakitan. Tolu mengunci kuntilanak itu masuk ke dalam air kembali, dia memanggil para jin untuk mengikat makhluk ganas yang memiliki kekuatan tinggi akibat meninggal dengan cara yang mengenaskan tanpa di kebumikan secara layak.


Selanjutnya dia mengadakan ritual pembersihan untuk melepaskan seluruh kejahatan yang di berikan oleh sosok kuntilanak untuk membunuh bu Diah. Seluruh bahan di minta oleh Tolu agar Semi cari pada malam itu juga. Menyaksikan kedatangan Tolu dan hal yang di lakukan kepada bu Diah, para pekerja Semi ketakutan melihatnya. Bi Mina dan pak Kuma bersembunyi di balik lemari. Mereka menjerit ketika Tolu mendekati salah satu dari mereka dan beberapa yang lainnya berlari menjauh.


“Tolong ganti pakaian Bu Diah dengan baju yang berwarna hitam” ucap Tolu.

__ADS_1


Suara wanita itu terdengar lebih menyeramkan, bi Mina menganggukkan kepala di susul oleh pak Kuma membantu nya membawa bu Diah. Semi tiba-tiba merasa sangat pusing, dia melihat jari-jari tangannya berubah memanjang berwarna hitam.


__ADS_2