
Pernikahan Tolu dan Togar di gencarkan akan hal desas desus para warga yang memperbincangkan bahwa Togar akan mengalami nasib mengerikan. Hal itu di sebabkan karena orang-orang yang mengatakan bahwa sosok-sosok penunggu ataupun para makhluk halus lain akan mengincarnya.
Bukan hanya itu saja, secara garis besar kebanyakan para dukun atau orang yang memiliki kekuatan supranarutal tanpa alami maka dia akan memberikan energi buruk bagi calon pendampingnya. Penjelasan itu di pertegas akan penyampaian dari salah satu warga kepada pak Bram bahwa pendamping sang dukun yang akan melakukan malam pertama maka akan merenggut nyawa pendampingnya.
Mata pak Bram melotot, dia tersedak air minum yang sedang dia teguk ketika menunggu Togar dan Tolu pulang bangun di pagi hari. Pikirannya sudah kacau dan dia tidak yang semula meletakkan rasa sayang kepada wanita yang kini menjadi menantunya itu malah berubah rasa sedikit benci.
“Aku sangat menyesal pindah ke pulau ini jika akhirnya anak ku menjadi terkena sial” gumam Bram.
Para pekerja mondar-mandi melakukan tugas mereka. Bi Tuti meraih bekas gelas yang dia minum lalu memperhatikan raut wajahnya.
“Tuan, sarapan pagi sudah siap” ucapnya.
__ADS_1
“Aku sedang tidak selera makan. Simpan saja laukku di lemari makan” jawab pak Bram.
“Tuan harus menjaga kesehatan. Saya sudah semakin tua dan tidak bisa mengurus tuan ruah dengan cekatan jika tuan sakit.”
“Bi Tuti, keinginan orang tua adalah hanya ingin anaknya bahagia. Aku sedikit khawatir dengan Togar, apakah aku harus memisahkan mereka selagi pernikahan ini masih seumur jagung?” Pak Bram mengusap kepalanya yang sedikit botak. Dia menghela nafas berkali-kali.
“Tuan, maaf kalau saya lancang. Tapi, pernikahan itu adalah hal yang sakral dalam menjalani bahtera seumur hidup. Keputusan Togar adalah hal yang dia inginkan tanpa paksaan. Itulah kebahagiaannya dan memilih pasangan hidup yang sangat tuan muda cinta” jawab bi Tuti sedikit membungkuk.
“Bi, aku melupakan satu hal. Tolu adalah wanita yang berstatus sebagai dukun di kampungnya. Aku hanya tinggal kabar Togar setelah melewati malam ini.”
Beberapa jam berlalu, suara teriakan dari kamar pengantin menghentakkan seisi penghuni rumah. Jantung pak Bram berdegup kencang, Hatinya rancu dan pikiran melayang membayangkan Togar pasti sudah sekarat disana.
__ADS_1
“Togar! Togar!” teriak pak Bram berlari.
Tempat tidur pengantin bersimbah darah, tubuh Tolu kaku tidak bisa di gerakkan. Pak Bram mendobrak pintu menyaksikan Tolu yang sedang sekarat. Dia sangat terkejut, kesalahpahaman dan kekeliruan akan pandangan dengan wanita itu terjawab sudah.
“Togar, apa yang terjadi dengan Tolu?” tanya pak Bram.
“Aku tidak tau ayah. Tadi malam dia hanya mengatakan ingin tidur lebih awal setelah pesta selesai di gelar” ucap Togar.
“Cepat kita bawa dia ke rumah sakit, sebelumnya kau ganti dahulu pakaian mu” ucap pak Bram.
“Bi Tuti, tolong katakan pada pak Midi untuk segera menyiapkan mobil” tambahnya.
__ADS_1
“Baik tuan.”
Tubuh Tolu kaku, dia tidak sadarkan diri dalam keadaan posisi telentang. Tubuh yang sekaku pelepah pisang dan sedingin salju itu di gotong oleh Togar, pak Bram, pak Midi dan Bi Tina. Di tengah langkah menuju pintu keluar, pak Midi tidak sanggup menahan beban berat itu hampir terjatuh bersama bagian ujung kaki Tolu. Dia berusaha menyeimbangkan tubuh dan melangkah kembali. Bi Tuti melafazkan surah pendek dan do’a di dalam hati. Dia berharap Tolu dengan mudah di bawa sampai ke rumah sakit.