Arwah Opung Tolu

Arwah Opung Tolu
Benturan


__ADS_3

Sosok sebagai saudara kandung satu-satunya setelah kedua orang tua mereka meninggal yang seharusnya menjaga dia malah memasung tubuhnya dan membiarkan dia sendiri. Suara jeritan itu terhenti saat melihat Kiki dan lain melihatnya. Mbah Parjo melotot terkejut, Loli tertawa bercampur tangis memukul tubuhnya sendiri dengan balok di tangannya. Mbah Parjo merampas balok kayu itu dari tangan Loli. Belum sempat dia menjauh, lehernya di cekik sangat kuat. Kiki dan Beni terlempar sampai tubuh membentur dinding. Beberapa menit berlalu, wajah mbah Parjo membiru menjulurkan lidahnya ke sisi kiri.


“Mbah! Innalillahi wa inna’ilaihi rojiun” ucap Kiki.


“Ki, ayo kita cari pertolongan!” kata Beni.


Mereka tidak bisa berlari kemanapun, pintu dan jendela terkunci rapat. Loli tertawa terbahak-bahak, pupil mata memutih, wajahnya semakin pucat gerakan tangan menunjuk ke Beni. Perlahan tubuh pria itu terangkat hingga mencapai langit-langit ruangan. Dia membanting pria itu, berkali-kali sampai suara retakan tulang seakan telah patah dan hancur.


“Cukup! Loli! Bukan ini yang di inginkan ibu mu!” ucap Kiki.


Beberapa saat pintu terbuka lebar, Kiki membawa Beni keluar dari rumah itu. Dia meminta pertolongan kepada para warga juga memberitahu ku jasad mbah Parjo dan keadaan Loli yang sedang di pasung. Namun setelah mereka disana, hanya mbah Parjo yang mereka temukan.


“Mana si Loli yang kau ceritakan di pasung itu?” tanya salah satu warga melirik ke sekitar.


“Aku dan Beni melihat jelas wanita itu” ucap Kiki.


Jasad mbah Parjo di makamkan tepat dini hari Beberapa warga lain yang mendengar insiden tersebut dari Beni membuat ketakutan para warga kampung sekitar. Siang hari para warga kampung mengelilingi rumah Bromo. Mengetahui kedatangan mereka, Bromo menghentikan ritual mengusir makhluk halus dari tubuh Loli. Dia membuka pasungan kaki sang adik, Loli yang tambah lemah setengah sadar itu menangis menatapnya.


“Abang tolong aku!” rintihnya kesakitan.


Bromo si dukun gila, mengangkat Loli di atas tikar, dia menyelimutinya dengan sebuah selimut. Tubuh Loli lemas bahkan ingin mengatakan sepatah kata pun tidak bisa terucap akibat lidahnya yang kelu. Suara ramai para warga kampung bersorak menyebut namanya. Mereka mendobrak paksa pintu, melihat Loli di dekat meja ritual langsung saja mereka memporak-porandakan isi di atasnya. Lima pria membawa Bromo ke luar dan dua pria lain mengangkat Loli ke tengah halaman rumah.


“Lepaskan aku atau kalian akan menerima akibatnya!” teriak Bromo.

__ADS_1


“Ikat saja dukun gila ini!” teriak salah satu warga.


“Bakar saja mereka hidup-hidup. Bukankah dia dan adiknya yang membuat mbah Parjo meninggal” kata warga lainnya.


Pak RT mengangkat kedua tangannya lalu mendorong tiga warga lain yang sudah menyiapkan tali. Dia meminta para warga agar lebih bersabar dan tenang. Tapi tetap saja amarah mereka tidak terkendali, salah satu pria nekad menusuk perut bagian kiri Bromo.


“Arrgghh!”


Serangan lain dari lemparan batu ke arah Bromo dan Loli. Belum puas sampai disitu, Pria yang menusuknya tadi kini mengajak para warga untuk mengikat mereka berdua di pohon. Sekujur tubuh sudah penuh luka, tapi lemparan batu tidak berhenti.


“Sudah hentikan! Cepat bawa Loli ke rumah sakit” ucap pak RT memelas.


“Pak, kami mendengar dari Beni kalau wanita ini membunuh mbah Parjo” kata Geri.


Para warga tidak menyetujui semua perkataan pak RT. Hanya Loli saja yang di perbolehkan di bawa ke puskesmas dengan di temani warga lain untuk memastikan si pelaku pembunuhan itu tidak melarikan diri. Berbeda dengan Bromo masih tetap di ikat di pohon di jaga oleh empat orang warga lain hingga pihak kepolisian datang untuk menangkapnya. Perkampungan itu terbilang terletak sangat jauh dari perkotaan. Jarak yang di tempuh memakan waktu yang lama di tambah sinyal internet yang jarang di dapat. Butuh waktu satu hari satu malam pihak berwajib menuju kesana. Warga membagi tugas menjaga si dukun, di mulai secara bergantian perlima orang.


Matahari terbenam, suara burung hantu dan kepakan sayapnya ramai mengelilingi pohon tempat Bromo di ikat. Bakaran api unggun telah menyala, kelima orang pemuda itu bernyanyi sambil bersenda gurau melewati malam panjang. Sejak tadi siang, Bromo tiada henti mengucapkan mantra. Dia mempertajam ilmunya mencoba membuat kelima pemuda itu tertidur hingga akhirnya dia bisa melarikan diri.


Hutan belantara, kaki bukit terjal dan hewan buas yang mengintai. Bromo berlari sekencang-kencangnya sampai tanpa sadar menjatuhkan keris miliknya. Dia tergelincir sampai terjatuh ke jurang, hampir saja dia tertusuk batang pohon. Sosok kepala putung kembali menariknya ke permukaan, sosok yang mengatakan padanya bahwa almarhumah ibu Loli adalah cucunya.


“Bagaimana bisa keluarga kami bagian dari kepala putung?” tanya Bromo menekan lehernya.


“Bromo, kau harus menerima nasib ini. Sekarang aku akan mewariskan ilmu keabadian ini seutuhnya” ucap si kepala putung.

__ADS_1


“Tidak, kehilangan anggota keluarga sudah membuat begitu menyesal! Aku telah membunuh ibuku sendiri dan Loli adikku menjadi wanita gila!” kata Bromo mempertegas jawabannya.


“Apa engkau tidak ingin membalaskan dengan Tolu?”


“Tolu, ya kau benar. Aku harus memusnahkan wanita itu” Kata Bromo lalu menunduk.


Perbincangan panjang dan keputusan Bromo yang belum di tetapkan. Suara teriakan melengking tepat di telinga Geri dan Jon. Mereka mulai melakukan pemeriksaan berpencar mencari ke dalam hutan. Hanya Geri yang di tinggal di dekat tenda.


“Geri! Geri!” panggilan suara sosok mengerikan.


Dia terkejut ketika menoleh ke belakang, sosok Bromo berubah bertambah besar bahkan berbulu bermata merah mengeluarkan gigi taring yang sangat panjang. Bulan purnama merah menerangi wajahnya yang mengerikan. Ada rantai yang terikat pada kedua kakinya, Geri berlari ke sisi kiri hutan. Sosok Bromo terbang mencekik lehernya lalu melemparnya ke jurang.


“Arggh!” teriak suara Geri.


Pagi hari yang berkabut, keempat sosok pria yang baru terlepas dari mantra Bromo itu terbangun seperti orang kebingungan. Masing-masing dari mereka keluar tenda dan berpencar melihat keadaan. Menyadari tidak terlihat Geri, mereka menyusuri hutan dengan memberi tanda garis jalan titik awal bertemu kembali. Sampai pertengahan hari, mencari dan berteriak memanggil nama pria itu.


“Duke, apakah kau sudah menemukannya?” tanya Dedi.


“Belum, aku hanya menemukan ini.”


Duke menunjukkan potongan rantai dan tali bekas mengikat Bromo. Dedi meminta Duke menunjukkan dimana tempat dia menemukan benda tersebut. Sesampainya disana, Dedi melihat dua jejak kaki yang berbeda.


“Pasti Geri tidak jauh dari sini!” ucap Duke berlari dengan membawa senjata tajam di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2